Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Dekat


__ADS_3

Vio menepati janjinya.


.


.


.


.


Vio mulai menelisik penglihatannya dia mencari sosok makhluk berhati dingin itu di antara banyaknya siswa sekolah yang mulai memasuki gerbang.


"dimana Dan, kok tidak terlihat atau jangan-jangan dia tidak masuk sekolah"


Vio menatap bekal makanan yang dibawanya dengan tatapan sedih.


"aaaahhhhhhh awas kamu Dan, aku udah susah payah membuatnya tapi kamu malah tidak masuk hari ini menyebalkan sekali" gerutu Vio


akhirnya Vio terpaksa menyeret paksa kakinya untuk terus berjalan memasuki gerbang sekolah dengan menampakkan muka tanpa ekspresinya.


Vio tidak menyadari orang yang berjalan di belakangnya sambil menahan tawa.


"kasihannya landak kecilku, terimakasih banyak bekalnya aku pasti akan menghabiskan tanpa sisa" ucap Dan pelan matanya masih terus mengikuti langkah Vio hingga masuk kelas.


Vio mulai merasa ada yang aneh, Vio berhenti mendadak dan memutar badannya saat itu juga dia melihat dengan jelas sosok yang di carinya sejak tadi manusia dingin yang membuatnya kesal sudah ada di hadapannya.


"haaiiiii dari mana saja kamu, hahh" tanya Vio dengan wajah marah yang dibuat-buat.


"aku ?"


"iya siapa lagi, temen ku selain kamu, menyebalkan sekali sih"


"aku ada dibelakang mu dari tadi hanya saja aku hanya mengikuti langkah kaki mu tanpa berniat memanggil, apa itu salah?" tanya Dan yang saat itu juga langsung mendapat jeweran telinga dari si wanita landaknya.


"jangan dekat lagi dengan ku, aku malas sama kamu" jawab Vio yang langsung meninggalkan Dan yang sedang kesakitan.


"Vio tunggu, kamu begitu saja marah, selalu saja ngambek aku kan hanya bercanda dengan mu sudah yaa sini mana bekalnya aku makan" tarik paksa Dan mengambil bekal makanan yang dengan susah payah dibuat oleh Vio.


"aku makan ya?"

__ADS_1


"makan saja, aku tidak perduli kalau pun kamu buang juga tidak apa-apa"


"yakin?"


"iya"


"yaa sudah aku buang saja ke perutku, aku lapar belum sempat sarapan tadi" akhirnya Dan memakan lahap tanpa sisa.


"Vio .." panggil Dan


"apa"


"kamu mau lanjut sekolah dimana?"


"tidak tau"


"apa kamu mau ikut dengan ku" tanya Dan sambil memandang wajah Vio yang masih marah terhadapnya.


"aku belum kepikiran kesana" Vio tetap saja menjawab sekalipun dia sedang marah karena Dan adalah salah satu orang yang membuatnya nyaman berteman, Vio hanya berpura-pura dihadapan Dan padahal dia sedang menahan senyum karena bekal makanannya sudah habis tak tersisa.


"kita akan satu sekolah lagi kan?"


"tidak mau"


"tidak punya alasan"


"ayooolah Vio aku serius tanya ini, kita tidak akan kerasa tiba-tiba nanti sudah lulus aja tanpa tau tujuan sekolah selanjutnya dimana.


Dan hanya ingin memastikan sekolah yang ditujunya sama dengan sekolah yang Vio mau.


.


.


.


.


"Dan.. " panggil Vio

__ADS_1


"iya"


"kamu mau janji denganku lagi" Dan langsung menatap Vio seperti sedang menunggu penjelasan atas ucapan temannya itu.


"jangan menatap ku seperti itu, aku hanya ingin... ahh lupakan saja lanjut belajar nanti kita di tegur" Vio menunjuk guru yang ada di hadapannya sekarang.


Dan masih menatap Vio tapi enggan untuk meneruskan obrolan mereka "sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan" ucap Dan dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


_________


Ada ketakutan yang dirasakan Vio entah itu apa Vio pun bingung dengan hatinya.


Vio ingin menceritakan semua yang dialaminya tapi Vio khawatir kalau Dan tidak mempercayainya, karena sudah Vio mencoba jujur terhadap mama Meri tapi mama Meri menganggap Vio sedang berhalusinasi Vio takut Dan pun akan merespon sama seperti ibunya.


"haruskah aku jujur saja sama Dan atau membiarkan ini dan tidak harus mencari tau semuanya lebih dalam" lirih Vio menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2