
Vio pun telah sampai kerumahnya. Vio mengatur nafasnya karena kelelahan hasil dari keusilan Dan yang mengajaknya untuk lomba tercepat sampai rumah. Vio langsung merebahkan tubuhnya setelah membersikan diri, rasa ngantuk melanda penglihatan Vio mulai melambat dan lambat laut matanya mulai terpejam.
Vio mulai terlelap dalam tidurnya. keringet dingin mulai muncul di wajah cantiknya debaran nafas pun mulai tak beraturan. Vio berkali-kali menggelengkan kepalanya rasa takut mulai merasuki tubuhnya. teriakkan kecil mulai terdengar dari mulutnya "aahhhh jangan, jangan tolong jangan ganggu aku hiiissshhh" Vio menangis tersedu-sedu membasahi pipi mulusnya.
"kamu siapa, kamu siapa" Vio terus saja merancau tanpa arah mimpi buruk itu sudah menguasainya seluruh tubuhnya mulai gemetar ketakutan. "mah tolong Vio mah, tolong Vio takut mah, siapapun tolong aku .. jangan jangan mendekat, pergi kamu pergiiiiiiiiiii" tanpa Vio sadari dia menggenggam tangan seseorang sebagai pelampiasan rasa takutnya.
"sayang bangun, nak" ucap mama Meri.
"kamu kenapa sayang, bangun nak ini mama, ini mama sayang, ada mama disini jangan takut lagi ya" mama Meri pun memeluk erat Vio namun Vio tak kunjung berniat membuka matanya, Vio tetap saja menjerit ketakutan.
Helaan nafas keluar dari mulut mama Meri " yaa tuhan kenapa dengan anakku tolong jangan ganggu anakku" mama Meri ikut menangis melihat kondisi anaknya dengan baju yang sudah basah dengan keringat, wajah yang pias pucat terpancar jelas di wajah Vio.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Di dalam mimpi.
"hai anak manis, akhirnya kita bertemu lagi meski ini di dalam mimpimu tapi ini akan selalu menjadi pertemuan kita, setiap kamu memejamkan matamu disitulah kehadiranku" suara yang begitu dalam, suara yang terdengar jauh seperti gelombang tapi sangat jelas terdengar menakutkan.
"kemarilah anak manis, kamu akan menjadi bagian dari kami, kami adalah rumahmu, kami adalah keluargamu" terdengar tertawa menggelar yang bergema memenuhi pendengaran Vio dalam mimpinya.
"kamu akan memahami keadaan ini dengan bertambahnya usiamu nanti, kamu yang akan mencari keberadaan kami nantinya" suara-suara itu terus saja menguasai tubuh Vio tanpa berniat mengakhirinya.
"seberapapun kamu berusaha untuk membuka matamu, kamu tidak akan berhasil karena kamu sudah aku kuasai, tubuhmu adalah milikku, hidupmu adalah tergantung keputusanku" Vio terus berjalan mundur dan mencoba menjauh, menjauh dari sosok hitam tanpa wajah terlintas hanya sebuah bayangan yang semakin mendekat ke arahnya.
"mau kamu apa, kenapa selalu saja mengganggu? apa salahku?" tanya Vio penasaran.
"tinggallah dengan kami, kami akan menjelaskannya" tawar makhluk itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
__________
Mama Meri tak kuasa melihat anak kesayangan seperti itu, mama Meri mencoba mencari bantuan sekitar. Mama Meri melangkah keluar rumah dengan tergesa-gesa mencari siapapun yang lewat untuk membantu anaknya, namun tak kunjung ada yang terlihat melewati rumah mereka. Mama Meri tidak berani meninggalkan Vio, dia hanya mondar-mandir di depan rumah berharap ada yang bisa menolong.
Hari kian sore, langit sudah menunjukkan pergantian warnanya menandakan bahwa sebentar lagi akan mengelap. Mama Meri terduduk di tanah air matanya terus saja mengalir deras rasa putus asa dirasakannya, pengharapan pun tak kunjung kepadanya.
Tiba-tiba suara kaki melangkah, mama Meri merasakannya seketika itu juga mama Meri menoleh mencari keberadaan langkah kaki itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Deg