Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#29


__ADS_3

Dan sudah menyelesaikan tugas yang di berikan oleh sang istri tercinta. "Apa yang ingin Vio katakan ya, sepertinya hal serius" gumam Dan sambil mengeringkan kedua tangannya.


Dan mulai berjalan mencari Vio menuju balkon yang berada di kamar mereka. Dan menatap Vio yang sedang berdiri membiarkan angin malam menembus masuk tubuhnya, "Pakailah baju yang hangat jangan menggoda ku dengan baju yang ke kurangan bahan ini Vii, lagi pula nanti kamu akan terkena flu cuacanya kurang baik hayoo masuk ya atau mau aku ambilkan?" tawar Dan lembut.


Vio tidak merespon ucapan suaminya. Dia hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak dia pentingkan, "Aku tidak memikirkan akan tubuhku Dan, ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas berdua".


Dan menatap bingung antara penasaran dan rasa takut jika saja yang nanti di ucapkan Vio adalah keinginan yang tidak bisa Dan lakukan. Namun Dan menutupi rasa itu dia ingin memberikan Vio waktu dan ruang untuk menyalurkan segala kegundahannya.


"Katakanlah.."


Vio menoleh sebentar kearah suaminya. Vio menghembuskan nafasnya kasar membuang segala ketakutan yang mungkin saja akan mendapat penolakan keras dari Dan.


"Aku ingin pulang...."


Sontak saja ucapan yang di dengar Dan membuatnya terpaku dengan segala pikiran buruk yang akan terjadi jika dia memberikan izinnya. Tentu Dan tidak akan mau hal buruk menimpah orang terkasihnya.


"Jadi ini yang ingin kamu katakan, hanya ini sampai membuat suasana tegang antara kita?" Bentakan Dan langsung membuat Vio kaget, karena baru ini Dan meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Apa barusan kamu membentakku?" sarkas Vio walaupun dia menyadari sebelumnya tapi dia ingin memastikan dan mendengar penjelasan apa yang akan suaminya itu ucapkan setelah apa yang mungkin sadar atau tidaknya intonasi yang tiba-tiba muncul meninggi.


Dan masih menatap intens wajah sang istri, sejujurnya tak maksud hati ingin membentaknya namun rasa takut akan hal-hal aneh akan terulang membuat Dan sangat terpaksa tidak bisa mengontrol amarah, ya amarah.. Amarah yang bukan bertujuan membenci sang istri justru amarah itu untuk sesuatu yang tak jelas dalam hidup mereka.


.


.


.


.


"Lupakan saja yang sudah aku katakan barusan" Vio berjalan melewati Dan begitu saja ia sudah sangat muak dengan sikap dingin Dan yang entah karena apa bisa muncil kembali padahal ia hanya mengatakan ingin pulanv tapi respon Dan sangat tidak di harapkan nya.


Tepat Vio berlalu Dan langsung saja mencekal pergelangan tangan Vio, menariknya masuk kedalam dekapannya.


"Jangan pergi" hanya itu saja yang di ucapkan Dan setelah lama memeluk puas sang istri menyalurkan rasa bersalahnya kerena sudah melukai secara tidak langsung.

__ADS_1


"Apa hanya itu yang mau kamu ucapkan, tanpa merasa bersalah sedikit pun hah?" amarah Vio seketika mengurai pelukan Dan.


"Tidak sadarkah kamu, apa kamu tidak berpikir panjang akan apa yang kamu minta dari ku".


"Buat apalagi kamu pulang, rumah mu di sini bersama ku. Tidak ada rumah-rumah lain yang harus kau tuju, apa kau mengerti?!" tegas Dan.


"Apa dengan kamu mengeluarkan setiap amarah di hati mu akan membuat mu puas Dan?!". Lirih Vio dengan mata yang sudah berkaca-kaca sungguh ucapan Dan semakin menyakitkan hatinya, bagaimana ia bisa melupakan semua kenangan di rumah lamanya meski pun di akhir cerita hidupnya terjadi hal yang tak ingin ia harapkan terjadi pada Mama Meri.


"Bagaimana dengan kenangan ku, jika kamu beranggapan tidak ada rumah yang akan aku tuju selain di sisi mu Dan..."


.


.


.


🌸

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2