
Vio di buat sebal mendengar ejekan si mulut api itu, ''Sini tangan panas mu, cari kesempatan aja''.
Nando tersenyum senang mendengar wanita nya akhirnya menurunkan ego, ''Tangan ku tidak panas, memang nya ada api nya..'' elak Nando.
''Justru tidak ada, tapi karena kamu mulut api jadi seluruh tubuh mu otomatis akan menjadi panas''.
''Pemikiran dari mana bisa seperti itu, mulut ku manis bukan panas.. Kamu mau coba?'' celetuk Nando yang ceplas-ceplos membuat dia mendapatkan cubitan kepiting ala Vio.
''Aaawww sakit.. Kecil-kecil tenaganya kuat juga''.
''Makanya jangan bicara sembarangan, pamali.. Oiiyaa aku mau tanya, apa kamu sama Eyang hanya tingga berdua saja di rumah sebesar ini?''
''Tidak juga, disini ada para pelayan dan juga pengawal jadi bukan hanya aku saja dengan Eyang'', tutur Nando.
''Orang tua mu tidak tinggal disini juga?''.
''Mereka sudah lama meninggal, dari kecil aku sudah diurus oleh Eyang Putri''.
Vio yang merasa tak enak hati, karena ucapan nya mungkin saja menyinggung Nando. ''Maaf aku tidak tau'' lirih Vio merasa bersalah.
__ADS_1
''Memang kamu harus segera tau, nanti aku ceritakan jika ada waktu senggang ya!''.
''Kamu mau kemana?''.
''Aku ada urusan sebentar, jadi tetaplah disini jangan keluar sendiri tanpa pengawalan. Apa kamu mengerti?'', Tegas Nando. Vio yang seakan tersihir hanya mengangguk patuh.
''Bagus, tapi untuk sementara aku tidak mengizinkan kamu keluar dari kediaman ini, kecuali dengan ku!''. Lagi-lagi Vio patuh akan penuturan laki-laki asing itu.
''Bersabarlah sebentar saja, aku akan membereskan ke kacauan atas hidup mu pada orang-orang yang telah berani mempermainkan mu. Tidak akan lama, mereka semua berhak mendapatkan gancaran setimpal atas rasa sakit yang telah di torehkan dengan sangat dalam, disini!'', Nando menunjuk tepat di hati Vio.
Vio hanya diam seperti anak ayam yang mendengarkan induknya ceramah. ''Satu lagi, ini sekarang rumah mu, jangan sungkan meminta apa pun yang kau butuhkan.. Nanti aku akan memperlihatkan kamar mu, disana sudah tersedia semua keperluan mu''. Untuk penuturan Nando yang ini, Vio membelangak belum ada berapa jam saja semua sudah tersedia.
''Yaa Tuhan menggemaskan sekali wajah mu ini, nah sudah sampai. Taarrraaa.... Ini kamar mu''.
Vio menatap sendu kamar yang begitu dia impikan sewaktu kecil hanya saja dekornya lebih menyesuaikan usianya yang sudah dewasa.
Vio tiba-tiba menghamburkan pelukan nya, rasa haru nya membuat ia lupa. ''Apa kamu bahagia?''.
Pertanyaan itu langsung membuat Vio melepaskan pelukan di tubuh tinggi yang ada di hadapannya. Tubuh Vio yang hanya sebatas di bawah dada bidang Nando jadi semakin membuat Vio terlihat makin kecil.
__ADS_1
''Terimakasih''.
''Kehidupan yang sekarang akan kamu jalanin tidak gratis?'', ujar iseng Nando.
''Maksudmu?''. Tatap Vio langsung menajam kepanikan jelas ia rasakan, ucapan Nando berhasil mengusiknya dalam sekejap.
Nando menatap balik manik mata yang mengajaknya untuk berperang.
''Sebagai bayaran nya atas apa yang akan kamu dapatkan saat ini dan seterusnya cukup dengan...'', ucapan Nando menggantung, Nando melihat gerakan tangan Vio yang ingin melabuhkan tamparan bukan kecupan. Jelas saja, iya dengan sigap menangkap tangan mungil wanita nya.
Nando masih menatap Vio, lalu melanjutkan kembali perkataan nya. ''Cukup dengan, satu janji yang harus kamu tepati. Berjanjilah untuk menjadi bahagia mulai dari sekarang dan selamanya.. Hanya itu yang aku inginkan''.
.
.
.
.
__ADS_1
____