Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#34


__ADS_3

"Stop... Jangan mendekat, aku takut kamu menularkan virus berbahaya" ucap Nando mengejek, "Maksud ku virus C I N T A" lanjut Nando dalam hati.


Vio semakin di buat berang, sudah emosinya lagi tak karuan di tambah bertemu pria sombong dengan mulut apinya, sungguh sial lagi-lagi Vio melalui hari yang berat.


Vio tersenyum sinis, "Oh.." lalu Vio pergi begitu saja tanpa mau meladeni si mulut api itu.


Vio sudah kehabisan energi, hari ini ia belum sarapan perutnya sudah sangat lapar. "Tunggu sampai kita bertemu lagi, akan aku pastikan mulut api nya akan membakar wajah nya sendiri dasar menyebalkan" gerutu Vio sambil berjalan melewati Nando.


Perkataan Vio barusan masih bisa di dengar Nando, Nando tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Vio. Benar-benar baru kali ini ada wanita judes yang bisa mengimbangi sikapnya yang tengil, "Menarik..." ungkap Nando melihat punggung Vio semakin menjauh.


"Aku akan menunggu mu... Peri nangis ku" ucap Nando geli dengan kalimat yang baru saja ia katakan tanpa bisa di dengar oleh Vio.


Di sebuah kediaman mewah seorang wanita sepuh sedang duduk di taman yang ada di rumah megahnya itu. Dia tersenyum melihat apa yang sedang di laporkan oleh anak buahnya yang di tugaskan menjadi penjaga bayangan kemanapun cucunya pergi tanpa Nando menyadarinya.


Eyang telah melihat foto-foto berserta video Nando dan Vio di taman pinggir kota tak jauh dari kediamannya berada.


"Gadis yang cantik dan berani" tutur eyang kepada pengawalnya.

__ADS_1


"Cari tau semua tentang gadis ini, laporkan segera kepada ku" perintah nya.


"Baik nyonya, saya akan secepatnya mencari tau, saya undur diri, permisi semoga hari anda menyenangkan" ucap sang pengawal bayangan memberi hormat dengan setengah badan membungkuk di hadapan Nyonya besar itu.


"Terimakasih" balas eyang ramah.


Eyang adalah pengusahan sukses, semua warisan nya yang harusnya di berikan kepada anak satu-satunya itu tak tersampaikan karena kecelakan yang merenggutnya lebih dulu memisahkan mereka begitu saja.


Eyang terus tersenyum menghirup udara taman yang begitu sejuk, ini adalah tempat terfavorit Eyang untuk menghilangkan kegundahan hati nya saat mengingat mendiang anaknya.


Taman ini di penuhi dengan hamparan bunga-bunga yang indah di pandang mata. Eyang tak lagi meratapi kesedihan atas kepergian anak dan menantunya itu, waktu sudah berlalu begitu cepat bukan saatnya untuk ia masih larut dalam kesedihan, masih ada Nando cucunya yang harus ia jaga.


"Aduh sudah jam segini, pasti eyang merajuk lagi" lirih Nando yang sudah berada di dalam mobil.


"Cari toko kue kesukaan eyang, aku mau merayu nya pasti eyang akan ngambek nanti"


"Iya den" ucap sopan sang supir.

__ADS_1


"Amang sudah makan?" tanya Nando lagi sama sang supir yang selalu setia menemaninya bahkan sampai rela menunggu berjam-jam lamanya untuk ia habiskan dengan tidur di bangku taman.


"Suu... Sudah kok den" ucap Mang Anto.


"Jangan berbohong, aku tidak suka di bohongin sekecil apa pun" Tatap tajam mata Nando mampu membuat Mang Anto tertunduk sungkan.


"Maaf den, bukan maksud saya ingin membohongi Aden cuma Amang tidak enak menjawabnya" jujur sang supir.


Nando menyepitkan kedua matanya, "Jangan di ulangi kalau aku bertanya tolong jawab yang jujur, sekarang kita mampir dulu ke tempat makan ya sekalian aku juga mau makan dulu sebelum menyambut kemarahan eyang nanti".


"Baik den"


"Pilih resto yang mewah, kita akan makan disana, Amang sudah lama tidak aku ajak ke tempat mewah" senyum Nando.


"Ahh atau kita ke resto eyang aja, kita bisa makan puas di sana hahahaha" tawa Nando.


Sang supir hanya bisa menghela napas saja dengan tingkah majikannya yang tak bisa di tebak sikapnya.

__ADS_1


__ADS_2