
Sudah tiga bulan lamanya Vio hanya terdiam di bangkar rumah sakit, sering nya menangis dan menanggung beban pikiran kondisi kesehatan nya menurun drastis. Vio bahkan tidak memakan apa pun selama berbulan-bulan, hanya cairan infus yang terpasang saja yang mengisi energi untuk tubuhnya.
Bagaikan mayat hidup yang menantikan kematian menghampiri nya. Mental Vio benar-benar terganggu tidak ada semangat lagi yang menggelora di hidup nya, segala penghianatan dan rasa sakit bercampur menjadi racun pembunuh yang ampuh untuk nya.
Vio tidak menyalahkan orang-orang yang menyakitinya, hanya saja dia yang menyalahkan diri sendiri karena terlalu bodoh. Cinta bukanlah jaminan kuat atas diri seseorang untuk bisa menjadi paling agung demi kesetiaan, sandangan yang memunafikan manusia dari akal sehat nya.
Keterbatasan jalan pikir yang menghambat saluran akal bekerja secara efektif dari timbulnya rasa dalam jiwa mempengaruhi cara kerja otak. Kebanyakan akan mematikan seperempat bahkan setengah nya otak mereka dengan cara hati yang berbicara.
Pandangan yang tertuju pada sebuah acuan hidup menjadikan mereka lupa, bahwa Tuhan telah memberikan hak istimewa dalam hidup dengan berpikir untuk memutuskan mana yang layak dan tidak nya untuk di lewati. Keterlibatan perasaan menjadi lebih dominan bekerja cepat dan kemudian tubuh merespon akibat dari kebodohan itu sendiri.
Nando dan Eyang senantiasa merawat Vio dengan penuh sabar, perhatian dan kasih sayang begitu sangat tercurahkan oleh mereka. Segala upaya untuk penyembuhan Vio sudah mereka lakukan, namun nampaknya. Tuhan masih mengurung nya lebih dalam untuk memahami kehidupan yang sesungguhnya. Bersyukur itu penting dan bukan berarti segalanya tertuju pada manusia, sesuatu yang berlebihan memang tidaklah baik sekalipun tentang hati itu sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.
Nando memasuki ruang dimana dokter yang mengurus Vio memanggilnya. ''Bagaimana kondisi Vio, dok?....''.
Dokter Tristan tersenyum menyambut kedatangan Nando. ''Duduklah dulu..'', sahut sang dokter yang merupakan dokter andalan di rumah sakit milik Eyang nya sekaligus teman dekat Nando.
''Jangan terlalu kaku seperti itu, bernafaslah... Nanti lama-lama kamu akan menjadi sakit jika terlalu mencemaskan nya'', pinta Tristan.
''Kau ini...'', decak kesal Nando pada akhirnya.
''Kau yang meminta ku untuk tidak menghormati mu, hanya karena kau cucu pemilik rumah sakit ini tapi kau malah terlihat sungkan seperti itu!''.
''Sudahlah, kita bahas Vio saja.. Aku ingin dia cepat sembuh'', lirih nya dengan suara yang melemah.
__ADS_1
''Nikahkan lah dia.. Bukan nya kau berhasil menghancurkan semua bisnis mantan suaminya itu, bahkan dengan mudah nya memaksa menandatangani surat cerai mereka?'', sarkas Tristan dengan senyum mengejek.
Nando menatap sinis teman nya itu, karena punya mulut ceplas-ceplos aja. ''Berisik kau...''.
''Kau kira nikahin anak orang kaya nikahin binatang, main serabat-serobot aja.. Semua butuh proses lagi pula kau tau betul alasan ku melakukan itu semua, meski sedikit memaksa''. Nando tidak mengelak malah membenarkan ucapan Tristan pada nya.
''Kita pindahkan perwatan di rumah mu, aku akan sering berkunjung nanti untuk mengecek nya. Lagi pula kasihan mungkin dia bosan berada disini berbulan-bulan, walau dia hanya terdiam tanpa menyuarakan isi hati nya''. Ucap Tristan.
.
.
.
.
__ADS_1
____