Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#56


__ADS_3

Tatapan Vio semakin menajam saat dia menyaksikan dengan sangat jelas apa yang terputar dalam video yang berdurasi 2 jam lamanya. Hatinya seakan tercabik-cabik melihat pergulatan sang suami dengan banyak nya wanita, rasa amarah dan kebencian berkecamuk dalam dirinya sungguh sangat menjijikan matanya. Namun, Vio berusaha setegar mungkin di hadapan orang lain tak ada air mata yang menetes sedikit pun hanya, ekspresi dingin dan sorot mata membunuh yang secara alami menampakan tanpa seizin dirinya.


Senyum tipis sangat tipis Vio menarik sudut bibir nya, jika saja Eyang tidak memperhatikan detail perubahan mimik wajah itu, Eyang tidak akan se merinding ini. Wajah Vio berubah seketika menjadi sangat menakutkan. Pancaran rasa benci itu menyeruak dengan cepat merespon tubuhnya.


Vio tetap menyelesaikan tontonan nya hingga selesai, sekarang berganti dengan video yang Zefa rekam. Tetap tidak ada kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu, hanya tangan nya saja yang bergerak melihat beberapa lembar foto berjejer rapi di hadapan nya. Eyang sampai menghela nafasnya, wanita yang susah di tebak pikir Eyang Putri.


''Kamu baik-baik saja Vio?'' tanya Eyang yang tak enak hati harus terpaksa memberitahu ini.


''Maafkan, Eyang.." tangisan yang harus nya keluar dari mata Vio. Akan tetapi, malah keluar dari mata Eyang Putri. Sementara Nando yang dari jauh menyaksikan interaksi kedua wanita yang di sayang nya hanya bersikap dingin, bukan karena dia tidak peduli tapi Nando begitu marah wanita nya di permainkan.


''Tunggu hadiah yang akan aku berikan untuk mu bajingan!'', tegas Nando.


.


.


.

__ADS_1


.


Nando langsung berjalan menghampiri mereka, "Sudah menangis nya, Eyang!'' penekanan di setiap kata yang di ucap cucu nya membuat Eyang menoleh, ''Eyang hanya ikut merasakan sakit nya..'' tutur sang Eyang dengan suara terdengar serak.


''Jangan menangisi seseorang yang tidak pantas untuk menerima nya, Eyang. Aku bersedia untuk tinggal disini''. Ungkap Vio setelah beberapa lama memilih diam akhirnya keluar juga suara nya.


Nando langsung menarik tangan Vio, membawa nya keluar dari ruangan sang Eyang.


''Lepaskan'', Vio menghentak tangan Nando dengan kasar. Namun seketika ia tersadar, ''Maaf, bersikaplah sewajar nya karena tidak ada yang perlu kamu dan Eyang cemaskan tentang aku, aku baik-baik saja''.


Tapi tidak dengan sorot matanya, ''Berhentilah berpura-pura di hadapan ku, mungkin di hadapan Eyang kamu bisa menutupi nya sekali pun Eyang menyadari nya. Eyang orang yang pintar menilai seseorang jadi cukup jangan sok tegar''.


Vio bingung harus berlindung di balik siapa sekarang, semua nya mengkhianatin nya tanpa rasa. Mama nya, sahabat nya bahkan suami nya yang Vio pikir akan menjadi tempat perlindungan nya yang terakhir ternyata sama saja.


''Aaaaarrrrrrggggggghhhhhh aku benci mereka semua, aku.... Aaaaku b e n c i mereka''.


''Salah ku apa Tuhan, kenapa kau mempermainkan takdir ku.. Kenapa harus aku yang merasakan ini, kenapa?!!!!''.

__ADS_1


Nando hanya dapat memeluk erat wanitanya, memberikan ketenangan baru untuk hidup nya.


''Ada aku, ada Eyang.. Kita akan menjadi rumah mu untuk pulang''. Vio tetap menangis histeris membayangkan semua kejadian-kejadian itu seperti terus berputar-putar di otak nya, tumpahan darah, penghianatan, di campakan semua begitu jelas di ingat nya.


Terpental...


Terhempas....


Tertampar........


Tersadar..................., Jika memang hidup nya sudah hancur berantakan.


.


.


.

__ADS_1


.


_______


__ADS_2