
Papa Cemar mendekap bahu putrinya. "Sudah lama sekali Papa tidak memeluk putri Papa seperti ini. Kangen di gendong Papa nggak?"
"Iihh Papa.. Nasha sudah dewasa. Sangat dewasa Pa" jawab Nasha.
"Kamu suka Wira?" Tanya Papa Cemar langsung pada pokok persoalan.
Nasha terdiam sejenak, kemudian mengembangkan senyum cantiknya. "Nasha sudah bersuami Pa. Mana mungkin naksir Bang Wira yang masih bujangan"
"Jika tidak bersuami?" Tanya Papa Cemar lagi.
"Berarti Nasha adalah janda. Untuk apa naksir sama Bang Wira. Masih banyak gadis yang lebih pantas untuk seorang perwira seperti Bang Wira."
Papa Cemar tersenyum penuh arti. "Baiklah kalau begitu.. Papa berhenti bertanya, tapi wajahnya jangan murung begitu donk. Mana cantiknya putri Papa?" Kata Papa Cemar padahal dalam hatinya tak seperti raut wajahnya yang tersenyum tenang.
"Nggak nih Paa" Nasha kembali mengembangkan senyum di hadapan sang Papa.
"Mau Papa masakin menu warisan leluhur keluarga kita nggak? Mumpung kita kumpul nih" tanya Papa Cemar serius.
"Apa tuh pa?"
"Endhog ceplok.. pakai kecap" jawab Papa Cemar.
Seketika Nasha badmood mendengar ucap Papanya.
...
"Siap.. tidak..!!"
"Duduk dulu Wir, saya tanya kamu bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai seorang ayah pada umumnya" kata Papa Cemar.
"Siap..!!"
"Saya tanya sekali lagi. Sungguh kamu tidak ada rasa untuk Nasha?"
"Tidak Pak." Jawab Bang Gesang yang lebih banyak di sapa 'Wira' oleh kalangan terdekatnya saja.
"Kalau seandainya putri saya jatuh cinta sama kamu, bagaimana Wir??" Uji Papa Cemar.
"Siap.. tidak berani Komandan."
"Alasannya??"
"Beliau putri orang terpandang, saya orang tidak punya. Tidak ada punggawa yang mengharap cinta seorang putri raja" jawab Bang Wira.
"Begitukah?" Papa Cemar menegaskan karena raut wajah Bang Gesang sangat berbeda dengan ucapannya.
"Siap"
__ADS_1
Papa Cemar tersenyum. Ia sangat paham tentang ajudannya. Pria yang rapi, tegas, disiplin, sopan, kaku, dingin, sigap namun juga tidak pernah memamerkan apapun yang di miliki padahal jelas usaha pria bernama lengkap Gesang Jaler Wirayuwana memiliki usaha yang tak kalah menebalkan isi dompet.
\=\=\=
"Ikuti Nasha.. dia ada janji temu dengan Panji" perintah Papa Cemar.
"Ijin Dan.. Nasha mau bertemu dengan suaminya. Tidak pantas untuk saya mengawasi gerak-gerik mereka" jawab Bang Gesang.
"Laksanakan perintah saya. Pantau dan awasi, jangan pernah biarkan mereka berdua terlalu lama..!!" Papa Cemar memberi arahan. "Kamu sudah paham penyelidikan belum selesai. Jadi laksanakan tugas dengan baik..!!"
"Siap"
...
Mengintai dari kejauhan sebagai perintah, Bang Gesang mengikuti kemanapun Nasha dan Bang Panji pergi.. hingga pada sebuah cafe yang sarat akan privasi, Bang Gesang tetap mengikuti Nasha.
"Kita baikan ya sayang. Ikut Abang.. kita mulai rumah tangga kita seperti dulu" pinta Bang Panji.
"Nasha minta waktu Bang"
"Sampai kapan? Ini sudah satu bulan sejak Abang menemui Papamu. Sudah dua tahun setengah kita terpisah. Abang ingin kita kembali seperti dulu" kata Bang Panji. Ia menyentuh tangan Nasha tapi Nasha menarik tangannya kembali. "Kita tidak pernah berpisah. Apa salah kalau Abang ingin kita kembali bersama?" Tanya Bang Panji. Ia kembali mendekati Nasha dan ingin memeluknya tapi lagi-lagi Nasha menolak dan itu membuat Bang Panji frustasi.
"Jangan Bang..!!"
"Kenapa?? Kita masih suami istri" kata Bang Panji dengan raut wajah kecewa.
Tau Nasha tak nyaman dengannya, Bang Panji duduk sedikit menjauh. Ia berusaha memahami keadaan yang terjadi, yang membuat Nasha membuat jarak dengannya.
"Abang sanggup menunggumu selama dua setengah tahun ini. Menunggumu beberapa waktu lagi tidak jadi masalah." Kata Bang Panji.
"Terima kasih atas pengertiannya Bang. Nasha mohon maaf kalau sikap Nasha menyakiti Abang" jawab Nasha.
"Ini tidak seberapa dari apa yang pernah kamu alami dulu" senyum Bang Panji begitu tulus.
...
Kening Papa Cemar berkerut mendengar keterangan Bang Gesang. Ternyata pria seperti Panji mampu bersabar mendapat 'penolakan' dari putrinya.
Papa Cemar duduk bersandar dan berpikir keras, menenangkan hati, pikiran dan egonya. Dirinya gelisah memikirkan sang putri.
"Kamu yakin putri saya menolak?" Tanya Pak Khobar.
"Ijin.. lebih tepatnya belum siap" jawab Bang Gesang.
"Saya hanya punya satu putri dan ingin dia bahagia tapi kenapa seakan saya menjerumuskan putri saya pada orang yang salah" kata Pak Khobar tak bisa menyembunyikan kesedihannya sebagai seorang ayah.
"Ijin Komandan. Lettu Panji bukanlah sosok pria yang jahat. Yang salah adalah keadaan.. dimana saat itu keputusan di ucapkan saat pikiran sedang tidak sejalan dengan perasaan." Jawab Bang Gesang.
__ADS_1
"Mungkin kamu benar Wir, tapi sebagai seorang pria.. apalagi imam keluarga.. tidak seharusnya dia memutuskan untuk menikahi Diani juga. Kita ini dituntut tegas dalam hal kesetiaan Wira"
"Siap"
"Kau tau, saat melihat Nasha dan Diani hamil bersamaan.. hati saya sangat sakit. Tak sanggup membayangkan apa yang di alami putri saya. Harus berbagi kasih dan raga suami. Sedangkan kita sama-sama tau.. wanita itu adalah makhluk yang sangat lembut" jawab Pak Khobar. "Jika saya bisa memutar waktu.. saya tidak ingin Nasha menikah dengan Panji."
"Siap.. saya paham Dan."
...
Malam itu Bang Gesang sedang membuat kopi di dapur rumah Pak Khobar, pikirannya berkelana membayangkan kehidupan Nasha. Dirinya yang seorang pria menjadi tidak tega, bagaimana saat yang lalu Nasha menjalani hari-hari nya.
"Abang belum tidur?"
Bang Gesang menoleh saat ada suara wanita menyapanya. "Eehh.. kamu dek. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Perut Nasha sakit Bang, nggak bisa tidur. Nasha mau ambil air hangat" jawab Nasya.
"Sakit kenapa? Salah makan?" Tanya Bang Gesang. Walaupun sikap dan pembawaannya yang kaku, Bang Gesang tetap mempunyai sisi lembutnya.
Nasha menggeleng sambil meremas perutnya.
Bang Gesang seketika paham. Kemungkinan besar Nasha sedang mendapatkan tamu bulanan. "Duduk dulu. Abang siapkan airnya"
Dengan cekatan Bang Gesang menyiapkan air hangat untuk Nasha.
~
Nasha melihat di depan mejanya ada rebusan beberapa rempah dapur. Nasha terus memperhatikan pria di hadapannya. Dirinya tak bisa menerka sikap pria di hadapannya ini.
"Bang, bolehkah Nasha tanya?"
"Ada apa? Tanya saja" jawab Bang Gesang dengan sikapnya yang seperti biasa.
"Apakah sikap Abang pada Nasha selama ini adalah sikap seorang ajudan atau sikap 'pria pada wanita'?"
Hati Bang Gesang cukup tersentil mendengar pertanyaan Nasha tapi ia berusaha setenang mungkin tanpa menatap mata Nasha.
"Murni sikap seorang ajudan" jawab Bang Gesang. "Di minum dulu, supaya sakitnya reda" kata Bang Gesang mengalihkan pembicaraan.
.
.
.
.
__ADS_1