Kehormatan

Kehormatan
54. Kalah atau mengalah?.


__ADS_3

Tawa Oma Nena terdengar begitu nyaring. Bahagia sekali melihat tangis Nasha. "Kau terkena imbasnya ya. Ahahahaha..."


Bang Panji menyergap Oma Nena. Hatinya terasa sakit, bayang wajah mendiang putranya kembali berputar di pelupuk mata. Bayi yang belum sempat ia dengar tangisnya. Matanya berkaca-kaca mengulang ingatan kesakitan batinnya beberapa tahun yang lalu. "Kau manusia yang membuat aku bersatu dengan Nasha dan kau pula yang memisahkan aku dengan anak dan istriku melalui Diani" seringai wajah Bang Panji begitu dingin dan menakutkan. "Kau harus membayar mahal atas semua perlakuanku padaku..!!" Semakin erat Bang Panji mencekal Oma Nena.


"Kau marah padaku hingga aku mati sekalipun. Anakmu tidak akan kembali." Jawab Oma Nena.


Nasha semakin syok dan histeris. Ia meremas kuat perutnya.


"Kita pulang saja ya..!!" Ajak Bang Gesang karena cemas merasakan keadaan semakin tidak kondusif.


"Nasha mau 'dia' kembali Bang..!!"


Bang Gesang hanya mengangguk pasrah tak kuasa menjawab apapun.


Papa Rakit tau ada keributan di rumah putranya. Ia segera masuk, hatinya sakit dan syok melihat ada Nena disana.


"Rakiiitt..!!" Oma Nena tak menyangka putranya sedang berada disana.


"Urusanmu dengan saya. Jangan mengganggu kehidupan Panji dan keluarganya.


"Aku ini Mama mu. Mama yang tidak pernah mendapatkan haknya. Aku ingin Giras menikahiku, tapi dia lebih memilih Amanda. Aku masih menunggunya di dalam jeruji besi namun dia lebih memilih Rizka. Aku ingin harta yang kau punya........."


"Kau pantas mendapatkannya. Papa Giras sudah memberimu satu perusahaan. Aku juga sudah memberimu rumah, tapi kau membuat hancur perusahaan itu, rumah juga sudah kau jual. Ada jatah untuk hidupmu. Apa yang kurang???" Bentak Papa Rakit.


"Aku ingin hak yang sama seperti Rizka. Dan aku ingin kau perlakukan seperti ibu karena hatimu hanya ada Fia saja. Istri yang hanya bisa menerima jatah bulanan dengan santainya.. sedangkan aku harus berteriak jika menginginkan kepemilikan toko baju milikmu" teriak Oma Nena masih menggebu.


Papa Rakit semakin geram, sejak dulu Nena begitu serakah menginginkan ini dan itu bahkan dirinya nyaris berpisah dengan Fia saat mengandung Nasha karena ulah Oma Nena.


Bang Panji tak melepas tangan Oma Nena sedikitpun meskipun wanita itu berontak. Saking geramnya Oma Nena.. ia menendangkan kaki hingga menjejak perut Diani dengan kerasnya.


"Awwwhh..." Pekik Diani membuat Bang Panji refleks melepaskan Oma Nena. Bukan karena dirinya mencemaskan Diani, melainkan bayi yang ada di dalam perut Diani adalah darah dagingnya.


"Dianiii..!!!!" Bang Panji berusaha menolong Diani, namun Oma Nena mengambil tongkat dan bersiap kabur dengan tubuh tuanya. Sayang langkahnya malah menubruk Nasha hingga terjungkal, terlepas dari dekapan Bang Gesang.

__ADS_1


Dengan langkah tertatih dan gugup, cukup mudah bagi Papa Rakit untuk menangkap Oma Nena, tapi Oma Nena berhasil lepas. Papa Rakit mencoba menyergap kembali namun Oma Nena melayangkan tongkatnya untuk menghantam bahu Papa Rakit dan lagi-lagi dapat melarikan diri.


Hingga sampai di pintu, Oma Nena masih panik dengan tubuh rentanya mengawasi keadaan sekitar.


"Mau kemana?????" Bang Arsene berhasil menyergap kedua tangan Oma Nena. Sejak tadi dirinya sudah menunggu di balik pintu dengan rasa geram.


Melihat keadaan seperti itu, Oma Nena berusaha berontak tapi Bang Arsene membekuknya.


"Jangan pernah bermain-main dengan Nena..!!!!!"


Bang Gesang tak ingin peduli apapun, fokusnya hanya tertuju pada Nasha. "Sayang.. bagian mana yang sakit. Bilang sama Abang..!!"


"Cepat bawa Oma Nena ke kantor POM..!!!!!! Laporkan Oma sudah membuat kegaduhan di rumah Danton satu..!!!!!" Perintah Papa Rakit masih memegangi bahunya yang terasa ngilu.


"Siaap..!!" Bang Arsene menjawab perintah Papanya secara formal.


"Baaang.. perutku..!!" Diani merasakan ada yang tidak beres pada perutnya.


Bang Panji segera mengangkat Diani. Sungguh ia begitu mencemaskan bayi yang masih ada dalam kandungan.


...


"Aku tanda tangan sekarang..!! Tolong selamatkan anakku..!!!" Bang Panji pun menandatangani berkas dari dokter untuk tindakan kelahiran bayinya namun disana Bang Gesang histeris mendengar kabar bahwa Nasha mengalami pendarahan.


"Mohon maaf Pak, Pak Wira harus tanda tangan..!!"


"Kalau saya tidak tanda tangan.. apa resikonya??"


"Bu Nasha pendarahan Pak......"


"Tolong di pertahankan dok..!!" Pinta Bang Gesang terus memohon.


"Sudah ada jaringan yang keluar, kami harus melakukan tindakan. Jika tidak.. kesehatan Bu Nasha akan terganggu dan.. hal terburuk nya akan menjadi sel kanker" kata dokter menjelaskan.

__ADS_1


"Astagfirullah hal adzim" Samar telinganya mendengar Nasha sudah merintih kesakitan. Pikirannya kacau dan membuatnya frustasi.


Seseorang masuk ke dalam ruang tindakan dokter. "Wiraa.. bagaimana Nasha????" Tanya Papa Khobar.


Bang Gesang terdiam, tatapannya nanar. "Nasha keguguran Pa"


"Cepat, segera diambil tindakan dok..!!" Kata Papa Khobar.


"Jangan Paaa.. aku sangat menginginkan anak itu. Aku sayang anakku Pa..!!" Bang Gesang masih sangat kacau dan sulit untuk di tenangkan.


Papa Khobar tak mengambil sikap emosi menghadapi menantunya, sepenuhnya dirinya sadar. Wira pasti sangat berat menerima semuanya.


POV Bang Gesang.


Kudengar suara rintih yang membuat hatiku tersayat perih. Nasha begitu kesakitan memanggil namaku. Hatiku terpukul merasakan kepedihan batin istriku saat mengingat putranya yang telah tiada.


Batinku gelisah ketakutan. Aku takut Nasha akan semakin tertekan saat tau untuk kedua kali dalam hidupnya harus kehilangan anak.


"Ayo le.. jangan terlalu lama..!!" Pinta Papa Khobar padaku.


"Pa.. aku rela jungkir balik mabuk setiap hari demi Nasha dan anakku. Tolong jangan ambil anakku Pa" berguncang rasa hatiku tak sanggup merasakan kehilangan padahal Nasha pernah mengalami kehilangan yang jauh lebih berat.


"Papa tau, semoga Allah tidak akan lama mengujimu..!!" Papa terus menguatkan diriku.


Tanganku gemetar namun Papa mertuaku tak lelahnya mendukungku.


"Sabar... ikhlaskan le..!!"


Kudengar ada getar suara berat dari papa mertuaku dan mau tidak mau, ku tandatangani berkas itu demi Nasha istriku.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2