Kehormatan

Kehormatan
28. Ajudan panikan.


__ADS_3

POV Bang Gesang.


Aku ingin hari berlalu dengan cepat. Dalam masa Iddah Nasha, jiwa pria ku bergejolak, tapi tidak mungkin aku mendekatinya dengan cara yang frontal.


Sejak malam Pak Khobar memanggilku.. Secara lantang dan tegas aku meminta menaikan status Nasha.


Flashback Bang Gesang.


"Apakah kamu mencintai putri saya.. atau tidak?"


"Siap.. tidak berani Komandan..!!" Jawabku.


"Karena orang tuamu?? Kamu hanya seorang ajudan??"


"Siap..!!"


"Setiap manusia berhak berjuang untuk dirinya. Jika orang tuamu seperti itu, ya sudah.. itu adalah takdir mereka. Kamu mulailah dengan takdirmu sendiri. Membuka lembar kisah hidupmu yang baru. Hidup ini butuh perjuangan dan pengorbanan.. bukan begitu Lettu Gesang Wira??"


Ucap kata Pak Khobar sungguh membuatku semakin menyadarkan diriku bahwa memang aku bukanlah pria pesimis. Kutepis kata-kata ibuku untuk mencari istri dari kampung saja, karena gadis kota jaman sekarang banyak yang tidak punya sopan santun.


Aku memilih berdiri kemudian memberi hormat pada atasan yang begitu ku agungkan. "Mohon ijin.. siap salah Komandan. Seiring waktu berjalan.. ada desir rasa dari seorang ajudan. Hari demi hari rasa tersebut semakin besar. Jika rasa terselip kata.. mohon ijin Lettu Gesang Jaler Wirayuwana meminang putri komandan..!!"


Pak Khobar tersenyum, mungkin melihat gaya kaku ajudan sepertiku.


"Kalau saya yang di lamar ya saya jawab 'yes', tapi tujuanmu untuk putri saya Let, jadi kamu tanya langsung sama putri saya. Tapi ingat.. kamu harus berbesar hati karena putri saya itu janda" jawab Papa Khobar saat itu.


"Siap.. gadis atau janda tidak masalah komandan. Mencintai bukan hanya karena urusan bawah perut, tidak peduli bagaimana dan berapa banyak dia tersentuh, saya akan membuatnya menjadi gadis kembali"


Papa Khobar tertawa terbahak mendengar jawaban lantang ku. "Jadi mau bagaimana ini?"


"Ijin.. saya minta rekomendasi nikah kantor secara kilat..!!"


"Berani sekali kamu.. punya bekal apa kamu meminta putri saya secepat ini?" Pertanyaan Pak Khobar seakan sengaja menekan mentalku.


"Terus terang dalam hal materi, saya hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup.. bukan untuk gaya hidup. Saya manusia biasa yang masih banyak menyimpan salah dan dosa.. namun sebagai hambaNya.. saya berusaha menyeimbangkan kewajiban saya di dunia maupun di akhirat. Dalamnya laut dapat di ukur, namun dalamnya perasaan saya untuk putri komandan biarlah Allah saja yang menjadi saksinya" jawabku mengungkapkan sedalam-dalamnya isi di hatiku.


"Baiklah.. saya siapkan ACC berkas yang kamu minta."


"Siap.. ijin komandan. Satu hari usai Nasha 'bebas'.. saya akan menikahinya secara resmi" kataku tak main-main.


Flashback Bang Gesang off.


Nasha belum juga sadar. Batinku terpukul melihat Nasha terbaring tak berdaya. Tapi aku tidak bisa mengatakan kenyataan bahwa aku ingin meminangnya untuk menjadi istriku. Bagaimana pun juga aku harus bersabar.. tak pantas melamar wanita dalam masa tunggu.

__ADS_1


Ada penyesalan dalam hatiku, dengan kata lain.. aku pula yang menyebabkan Nasha seperti ini.


"Katakan saja yang sebenarnya.. tidak apa-apa. Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Nasha juga terlalu terbawa perasaan" kata Pak Khobar padaku.


"Iya bro.. bilang mau lamar doank. Yang penting Nasha sudah tau kebenarannya" imbuh Bujang sahabatku.


POV Bang Gesang end.


...


Bang Gesang semakin frustasi karena hingga malam Nasha tak kunjung sadar. Letnan satu itu tidak mau makan dan hanya diam menemani Nasha di samping ranjang. Kedua bola matanya tak beralih menatap wanita muda yang baru saja menyandang status janda. Tangannya hanya berani mengusap lengan yang tertutup baby doll panjang.


"Makan dulu Wir..!!" Papa Khobar membawakan ajudannya makan siang. Sejak tadi tak ada makanan yang di sentuh Bang Gesang.


"Saya nggak lapar Pa"


"Kalau kamu pingsan, saya nggak mau gotong kamu. Badan sudah seperti gapura Ksatrian.. masih minta saya gotong juga. Sorry ya...!!" Ledek Papa Khobar. "Makan..!!! atau saya suapin nih..!!"


"Siap.." jawab Bang Gesang melemah.


"Eehh Black.. lu cuma berani towel adik gue gitu aja. Biasanya nyamber main peluk lu" Bang Bujang ikut meledek Bang Gesang.


Plaaakk..


"Bicara itu lihat tempat Jang.. Nggak asal mangap aja itu mulut...!!"


"Jangan kencang kalau bicara, kasihan Nasha..!!!!"


Papa Khobar tersenyum, baru kali ini ada ajudan yang menegurnya untuk berhenti bicara. Tapi jujur perasaannya kalah saat melihat ajudannya itu sangat menyayangi sang putri. Ekspresi wajah tak bisa membohongi ku, Terlihat jelas cinta Gesang untuk Nasha.


:


Baru saja Papa Khobar tiba di parkiran kantor Markas tapi harus mengusahakan kembali lagi karena ajudannya.. Lettu Kisar mengabari bahwa ajudan Nasha sedang terlibat perselisihan dengan dokter di rumah sakit.


"Ya ampun Sar.. p**t*t juga belum sampai ruangan.. Wira malah ribut sama dokter. Apa sih yang di ributkan??" Tanya Papa Khobar.


"Ijin Dan.. karena Nasha belum sadar juga"


"Duuuhh.. saya juga cemas memikirkan putri saya. Mamanya juga tidak kalah cemas, tapi memang prosedur harus sangat hati-hati. Ini overdosis, kelebihan obat.. nggak sembarang penanganan." Jawab Papa Khobar.


"Ijin Dan.. jadi bagaimana, kita ke rumah sakit atau tidak?" Tanya Bang Bekisar.


"Ya jadi lah, saya bingung kalau ada pengaduan 'tenaga medis patah tulang gara-gara Lettu Gesang'. Kamu tidak ingat, satu tahun lalu Nasha nabrak laki-laki di jalan. Gesang emosi sekali sampai saya harus mengobati laki-laki itu karena keseleo." Jawab Papa Khobar.

__ADS_1


"Siap Komandan."


....


"Saya tau setiap tenaga medis ada prosedur penanganan pasien, tapi kalian tidak mengontrol istri saya secara berkala. Apa tidak ada tindakan yang lebih jelas untuk istri saya???"


"Ini sudah penanganan terbaik Pak" jawab seorang dokter.


"Kenapa hingga saat ini istri saya tidak juga sadaaar?" Bentakan Bang Gesang membuat kericuhan di ruang dokter.


Papa Khobar yang baru masuk pun akhirnya menenangkan ajudan khususnya. Ia merangkul dan mengusap pundak Bang Gesang. "Maaf Bang Ar, menantuku agak panikan" kata Papa Khobar.


"Oohh menantumu?? Sifatnya mirip rakit. Aku sudah tua Mas Mar, mau pensiun.. kenapa di masa pensiunku masih harus bertemu yang sifatnya mirip rakit. Tobat aku Mas"


"Iya Bang, maaf ya.."


"Nanti biar di Fajar saja yang bantu handle Nasha. Nggak sanggup saya lawan menantumu" jawab dokter senior, dokter Ari. Dokter melirik Bang Gesang yang sedang mendapatkan pijatan lembut di pelipis dari Papa Khobar.


"Siap.."


Dokter Ari menggeleng melihat Bang Gesang perlahan tenang di tangan mertuanya. Ia melihat titik basah di sudut bingkai mata.


"Nasha Pa. Kenapa belum sadar juga?" Tanya Bang Gesang terdengar sesak.


"Sudah, sebentar lagi Nasha sadar. Dia terlalu banyak minum obat tidur.


"Ijin Dan.. Bu Wira..............." Prada Iskandar menemui Bang Gesang di ruang dokter.


"Nashaaaaaaa..!!" Bang Gesang berteriak histeris. Papa Khobar sampai bingung mengajak Bang Gesang untuk bicara karena terus meronta.


"Ada apa Is???" Tegur Papa Khobar.


"Ijin Komandan.. Ibu Wira baru saja sadar" jawab Prada Iskandar.


"Duuhh Wiraaaa.. dengar dulu orang bicara. Panikan amat kamu ini..!!!!!!" Papa Khobar menepuk dahinya melihat kelakuan ajudan putrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2