
Bang Gesang mengangguk tapi tidak ingin juga ikut campur dalam urusan rumah tangga Bang Panji.
Tak lama dering ponsel Bang Panji berbunyi nyaring.
"Wa'alaikumsalam.. kamu dimana?" Bang Panji menjawab panggilan telepon di seberang sana. "Oke.. nanti Abang kesana..!!"
Bang Panji menutup panggilan teleponnya.
"Lintar ya?" Tanya Bang Gesang.
"Iya, kamu kangen?"
Bang Gesang tersenyum tipis. "Kau mau lihat aku ribut sama Nasha??? Maaf ya, bukan maksudku merendahkan adikmu, tapi Nasha tercantik dan terbaik dalam hidupku"
Bang Panji merangkul bahu sahabatnya. "It's oke broo, semoga besok Lintar berjodoh dengan pria yang baik"
"Aamiin..!!" Jawab Bang Gesang. Jujur tak ada lagi rasa untuk Lintar. Kisahnya telah usai dan tak ada cerita lagi di antara mereka, apalagi perasaan Bang Gesang sudah terkunci hanya untuk Nasha seorang.
...
Sebelum kembali ke rumah, Bang gesang sempat bertemu dengan Lintar. Mau tidak mau, dirinya berusaha menyapa. Bagaimanapun juga dirinya dan Lintar pernah saling mengenal.
"Apa kabar dek?"
"Baik Bang, bagaimana Abang?"
"Alhamdulillah, Abang juga baik"
"Hmm.. dimana istri Abang?" Tanya Lintar.
"Di rumah, nggak enak badan.. hamil muda dek" jawab Bang Gesang.
"Oohh.. selamat ya Bang. Bahagia selalu untuk Abang dan keluarga" kata Lintar.
Bang Gesang mengangguk. "Aamiin.. terima kasih"
Dari jauh terlihat Bang Bekisar berlari menuju arah mereka. "Waaahh.. ada Lintar disini. Sebentar lagi lulus pendidikan ya?? Ciyeeeee.. kalian bertemu lagi. Masih ada benih cinta nggak ya??" Tak sengaja suara Bang Bekisar terlontar begitu saja.
"Saarr..!!!!!" Bang Panji sampai panik.
"Huusshh" Bang Arsene menepak bahu Bang Kisar.
"Duuuh cingur muu..!!!!" Bang Gesang mulai kelabakan melepas sandal dan menepak bahu Bang Kisar sebelah kiri karena suara Bang Kisar lumayan memekakkan telinga. "Jangan bicara macam-macam Sar..!!! Belakangan ini Nasha sensitif sekali" tegur Bang Gesang.
Praaanngg.. bruugghhh..
__ADS_1
"Nashaa.. Astagfirullah..!!" Bang Gesang segera memakai sandalnya dan berlari pulang. Bang Panji yang cemas pun akhirnya mengikuti langkah Bang Gesang.
~
"Ya Tuhanku.. Nashaa..!!" Bang Gesang panik melihat Nasha terkapar lemas, pingsan di ruang tamu, tubuhnya pun menindih pecahan gelas yang pecah. "Panjiii.. tolong panggilkan Fajar..!!!!"
Dengan sangat hati-hati Bang Gesang mengangkat Nasha untuk di baringkan di sofa ruang tamu.
:
"Bagaimana Jar???"
"Sabar Wir, aku sedang memeriksa istrimu..!!" Teliti sekali dokter Fajar memeriksa kondisi Nasha.
"Cepat Jaarr..!!" Bang Gesang pun memantau seorang petugas kesehatan yang membalut pelipis Nasha dengan perban.
Sesaat tadi, Bang Gesang memeriksa kondisi sang istri. Tak ada luka di tubuhnya, tapi ada pecahan kaca mengenai pelipis Nasha.
"Tangan Nasha dingin sekali Wir. Ada apa tadi? Dari raut wajahnya terlihat begitu tertekan.
Bang Gesang hendak menjawabnya, tapi di sudut ruangan ada Lintar yang juga terlihat cemas dengan keadaan Nasha.
Bang Panji seakan paham permasalahan ini. Ia pun mencolek tangan Lintar. "Kamu pulang temani Mbak Narya..!!"
"Maaf Bang Arsene, Panji. Nasha sedikit sensitif, bawaan hamil.. jadi cemburuan. Apalagi dengar nama Lintar" kata Bang Gesang setelah Lintar pergi.
"Owalaah.. sabar kamu Wir.. bawaan bayi memang terkadang nggak masuk akal. Nanti kalau Nasha sudah tenang.. kamu ajak bicara baik-baik..!!" Saran Bang Arsene.
"Saya pribadi mohon maaf Bang" Bang Gesang merasa tidak enak dengan kejadian ini.
"Aman Wir, mau gimana lagi kalau calon bayi sudah demonstrasi. Kita saja yang ngalah demi kebaikan meskipun kepala rasanya mau pecah." Jawab Bang Arsene.
"Siap Bang"
Tak lama berselang, Nasha mulai sadar. Ia memalingkan wajahnya tak ingin melihat Bang Gesang.
"Kau lihat itu Sar..!!!! Mulutmu itu hanya buat aku ribut saja sama Nasha..!!" Bang Gesang pun menegur Bang Kisar.
"Nasha.." sapa Bang Arsene karena Bang Gesang sudah mati kutu dan nyaris ikut pingsan tak sanggup menghadapi bumilnya. "Wira dan Lintar tidak ada hubungan apapun. Dulu memang benar, mereka pernah saling dekat.. tapi sekarang tidak ada sisa dan cerita apapun di antara mereka. Abang yang akan turun tangan sendiri kalau sampai ada 'hubungan' di antara mereka dan kamu bisa menuntut Abang kalau memang mereka masih ada rasa"
Nasha masih terdiam seribu bahasa dan hanya isak tangisnya saja yang terdengar.
Bang Panji menyentuh bahu Bang Gesang. Ia berbisik di telinga sahabatnya. "Angkat dan manjakan istrimu di kamar. Beri dia perhatian, ajak dia bercanda..!!" Mata Bang Panji mengisyaratkan pengertian sesama pria.
Sepercik rasa cemburu menusuk perasaan Bang Gesang, tak ingin bersikap kekanakan tapi rasa itu tak sanggup untuk di hindari.
__ADS_1
"Jangan cemburu pot, dulu aku bahkan kekurangan waktu untuk memanjakan dan memberi perhatian pada mantan istriku.. aku harap perhatianmu bisa menyembuhkan luka hatinya. Nasha sudah terlalu lama menderita karena sikapku" kata Bang Panji.
Bang Gesang menarik nafas mencoba berbesar hati.
"Kalau begitu kami pamit dulu biar Nasha bisa istirahat"
"Siap.. Terima kasih banyak. Maaf saya merepotkan.
~
Untuk beberapa saat Bang Gesang masih menata perasaannya kemudian ia menarik senyum di wajahnya.
"Istri Abang cantik sekali kalau ngambek.. tapi lebih cantik lagi kalau senyum." Bang Gesang mengangkat Nasha ke kamar.
Nasha memalingkan wajahnya, namun karena Bang Gesang mengangkatnya.. sontak wajahnya mengarah pada bahu Bang Gesang. Matanya pun melirik Bang Gesang. "Apa dulu Abang pernah begini sama Lintar?"
"Nggak pernah"
"Kalau pelukan?"
"Ng_gak"
"Ciuman?" Tanya Nasha.
"Kenapa tanya itu?"
"Kalau tidur sama Lintar Bang?" Selidik Nasha.
Bang Gesang merebahkan Nasha perlahan. Lalu mengecup kening dan turun ke bibir. "Nggak baik tanya seperti itu"
"Nasha hanya ingin tau"
"Rasa ingin taumu hanya menyakiti perasaan mu" Bang Gesang menatap mata Nasha. "Seperti apapun masa lalu Abang dulu.. hanya Nasha yang berhak menjadi ibu dari anak Abang dan pastinya hanya kamu yang tau diri Abang seutuhnya."
Nasha terus menatap mata Bang Gesang.
"Hilangkan bayangan masa lalu, karena semakin kita berusaha mencari tau, rasanya akan semakin sakit. Kamu hanya butuh percaya pada pasangan kita."
.
.
.
.
__ADS_1