Kehormatan

Kehormatan
64. Gemas tapi sayang.


__ADS_3

Maaf Nara up bab pendek karena masih padat dengan kesibukan. 🙏


🌹🌹🌹


Bang Bujang mengecek keadaan Bang Gesang. Matanya meneliti disana sini mencari kemungkinan ada tanda tindak pel***han di tubuh Bang Gesang.


"Bicara donk Wir.. kamu di apakan????" Tanya Bang Panji cemas sekali melihat keadaan sahabatnya.


"Aku mual Pan.. si amphibi itu tidak hentinya mengusap perut dan dadaku. Mereka membuatnya jadi bahan penjelajahan." Kata Bang Gesang.


"Astagfirullah.. apa yang mereka cari. Dari manapun juga masih jauh tampan aku Black..!!" Protes Bang Bujang.


"Kalau kau mau dengan mereka ya ambil saja. Aku tidak nafsu main anggar.. nafsuku hanya sama Nasha" ucap Bang Gesang terang-terangan tak peduli sekalipun dirinya bicara di hadapan Bang Panji.


"Iiisshh.. aku masih normal. Gista sudah membuatku mengeliminasi semua wanita di muka bumi ini" jawab Bang Bujang.


"Yang di dalam tenda itu juga wanita meskipun jadi-jadian" kata Bang Gesang.


"Amit-amit..!!!!!" Bang Bujang bergidik ngeri tak sanggup membayangkan dirinya dekat dengan Lolita. "Eehh.. ngomong-ngomong, kamu benar nggak di apa-apain khan sama Lolita???"


Bang Gesang terdiam, matanya sejenak terpejam. Ia mengambil ponsel yang masih ada dalam saku baju seragam nya. "Is.. tolong belikan kembang tujuh rupa ya..!!" Perintah Bang Gesang pada Prada Iskandar.


"Ijin Dan, komandan mau buat hajatan???" Tanya Prada Iskandar.


"Saya ketempelan rebung. Gatal nih..!!' jawab Bang Gesang membuat Bang Panji dan Bang bujang tergelak.


"Siaap..!!!"

__ADS_1


Bang Gesang pun mematikan sambungan teleponnya.


"Rebung macam mana pula yang buat gatal????" Ledek Bang Bujang.


"Aahh.. diam kau..!!"


...


Nasha terus memperhatikan raut wajah masam Bang Gesang. "Abang marah?"


"Nggak?"


"Berarti Abang suka sama Lolita?" Tanya Nasha.


"Memangnya wajah Abang menunjukan apa?" Bang Gesang balik bertanya.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Gesang mengurut pangkal hidungnya merasakan pening saat menjawab apapun selalu salah jika sudah berhadapan dengan Nasha. "Kenapa kamu umpanin Abang ke Lolita? Si genk amphibi meresahkan itu. Dia sama temannya umekin Abang..!!!!"


"Memangnya Abang di apain sama Lolita???" Selidik Nasha mulai cemas.


"Dia minta foto sama Abang. Kalau Abang nggak nurut.. bakal di apa-apain sama genk amphibi" kata Bang Gesang. "Kamu bagaimana sih, aurat Abang jadi kelihatan??"


"Iiihh.. maaf Bang, Nasha pikir Lolita perempuan baik-baik"


"Ralat ya itu kata-kata. Banci.. bukan perempuan..!!!!!"


"Ya sudah.. Nasha minta maaf ya Kapten..!! Nasha ganti deh kesalnya Kapten Wira"

__ADS_1


"Caranya????" Bang Gesang tersenyum licik hingga sebelah alisnya terangkat.


Nasha dengan berani duduk di atas kedua paha Bang Gesang. "Cantik sekali"


//


Bang Panji memijat tengkuk Nisa, agaknya mual Nisa lumayan mengganggu hingga istrinya itu tidak sanggup menelan apapun.


"Sabar ya, besok pengasuh untuk Revan dan Reiya datang" kata Bang Panji.


"Nggak usah Mas, Nisa masih sanggup menjaga anak-anak"


Bang Panji mengikat rambut Nisa kemudian memijat tengkuknya lagi. "Pengasuh anak-anak usianya sudah nyaris setengah Abad. Kamu tenang saja"


"Apa Mas kepikiran kalau nanti akan terjadi kisah yang sama di antara kita? Majikan menikahi pengasuh nya?" Tanya Nisa.


Bang Panji pun mengecup kening Nisa. "Mas akui cinta Mas sama kamu hadir di saat yang tidak tepat. Saat status Mas Panji masih menjadi suami Diani. Tapi kamu sendiri sudah paham dengan apa yang terjadi di antara Mas dan Diani"


Nisa mengangguk. "Nisa paham Mas"


"Sabar ya dek. Mas pasti usahakan yang terbaik untuk kamu sama anak-anak"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2