Kehormatan

Kehormatan
75. Lahir.


__ADS_3

"Bang Brii.. Bang Sethaa.. Jangan ribuuutt..!!!" Suara Nasha nyaris hilang karena perutnya terasa sangat kencang dan sakit.


"Maaa.. ada apa??" Bang Gesang segera masuk ke dalam rumah mendengar Suara Nasha sampai keluar rumah.


"Anak-anak nggak bisa tenang Yah, perut Mama sakiiiit..!!" Nasha membuang nafas perlahan.


"Kalian duduk..!! Mama sakit Bang..!!" Perintah Bang Gesang yang pastinya tidak begitu di hiraukan kedua putranya karena si kembar masih berusia dua setengah tahun.


"Abaaaang.. perut Nashaa sakiiiit..!!"


"Aduuuhh.. kenapa dek??" Bang Gesang sampai ikut panik.


"Iihh Ayah panggil dek.. Mama bukan adiknya Ayah..!!" Tegur Brigas.


"Ya Tuhan, sempat-sempatnya ini anak memprotes" gumam Bang Gesang. "Iya Bang, Ayah salah bicara." Ucap Bang Gesang pada Brigas.


Nasha meremas erat lengan Bang Gesang. Rasa sakit semakin tak karuan sampai akhirnya mata Bang Gesang melihat cairan bening meluncur deras dari sela paha Nasha.


"Astagfirullah.. apa sekarang sudah mau lahir?? Ini kurang dua Minggu dari tanggal prediksi lahir yang seharusnya" kata Bang Gesang, namun melihat Nasha semakin kesakitan, ia pun mengangkat Nasha menuju mobil.


~

__ADS_1


"Mau kemana??" Bang Panji menegur sahabatnya.


"Eehh pot, aku titip Brigas dan Sheta ya, tolong jaga anak-anak. Sepertinya Nasha mau melahirkan"


"Oohh.. ya sudah cepat berangkat sana biar Brigas dan Setha sama aku. Revan, Reiya dan Fathir anteng kok kalau ada Brigas dan Setha." Jawab Bang Panji.


...


"Coba miring saja pak..!!" Saran dari seorang bidan. "Untung saja Pak Wira cepat membawa ini kesini.. ini sudah bukaan lima"


"Saya tidak tau kalau istri saya mau melahirkan bu. Saya pikir hanya sakit perut biasa karena tadi istri saya masih mau makan banyak dan makan buah" kata Bang Gesang.


Kali ini Nasha tidak banyak bersuara. Ia lebih banyak membuang nafas perlahan untuk menenangkan dirinya. Hanya tangan sebagai pengakuan bahwa perjuangannya tidaklah mudah untuk di jalani.


Bang Gesang hanya bisa menggigit bibir saat Nasha meremas kuat tangannya hingga lecet tercakar sang istri. Tubuhnya ikut lemas persis seperti kelahiran Brigas dan Sheta namun ia menahannya. Rasanya baru kemarin dirinya di hadapkan pada situasi seperti ini namun hari ini sudah harus terulang kembali.


"Kapan lahirnya Bu? Saya sudah nggak kuat" tanya Bang Gesang.


Bu bidan tersenyum mendengar nya. "Yang mau melahirkan itu Bu Wira.. bukan Pak Wira. Kenapa bapak yang nggak kuat?" Bu bidan balik bertanya.


"Perkara lain saya masih bisa tahan Bu, tapi kalau lihat istri berdarah-darah rasanya nggak kuat, nggak sanggup lihatnya meskipun saya paham ini kodrat wanita" jawab Bang Gesang.

__ADS_1


"Kalau Pak Wira nggak kuat, bapak boleh tunggu di luar..!!" Saran Bu bidan.


"Biar saya di sini saja Bu. Istri saya sudah sangat berjuang.. masa saya nyerah" jawab Bang Gesang.


:


Bang Gesang menunduk, rasanya masih tetap syok melihat persalinan Nasha. Di antara rasa bahagia ada sepercik keinginan yang ia pendam dalam hati. Calon buah hatinya kali ini juga seorang jagoan padahal ada harap tersembunyi bahwa bayinya kali ini adalah seorang perempuan.


'Masa aku nggak pintar memproduksi anak perempuan.'


"Ayo Bu.. satuu.. duaaa.. tiiiiiiigaaa........... Ngejan Bu Wiraaa..!!!!"


Sekuat-kuatnya Nasha mengejan sampai ada seorang bayi kecil melesat ke tangan ibu bidan.


"Alhamdulillah..!!!" Ucap bu bidan dan Bang Gesang masih terpaku antara sadar dan tidak melihat bayi kecilnya yang akhirnya menangis memekak kan seisi ruangan. "Laki-laki ya Pak..!!"


"Alhamdulillah.." Bang Gesang mengucap syukur sampai ia bersandar lemas. Sekilas matanya bisa melihat dengan jelas paras wajah itu adalah miliknya juga.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2