
"Cepat pulang..!!! Kasihan Gista..!!!!!!!" Saran Bang Gesang kemudian mengembalikan senjatanya di gudang. Tiba-tiba hatinya pun merasa cemas memikirkan Nasha di rumah. "Aku juga mau pulang. Nasha nggak ada teman di rumah."
:
"Hmmppphh.."
"Jangan di tekan dulu sayang..!!" Bang Panji memapah Nisa tapi karena istrinya semakin tidak bisa berjalan, maka Bang Panji pun menggendongnya.
"Nisa nggak tahan sakit." Kata Nisa.
"Iyaa.. sabar ya sayang..!!" Bujuk Bang Panji. "Bii.... Tolong jaga anak-anak. Saya antar Nisa ke rumah sakit"
"Baik Pak. Hati-hati Pak Panji..!!" Pesan bibi.
Mata Bang Gesang memicing melihat Bang Panji panik menggendong Nisa. "Ngopo pot???"
"Mau lahiran..!!" Jawab Bang Panji ringan. Usia kehamilan Nisa memang masih sekitar tujuh bulanan sama seperti Nasha tapi entah kenapa perut Nisa lebih dulu kontraksi.
Seketika Bang Gesang berjongkok mengusap wajahnya. "Allahu Akbar.. perutku mulaaass..!!!"
Menyusul di belakang Bang Gesang dengan berlarian secepat mungkin, Bang Bujang masuk ke dalam rumah dengan kepanikannya.
"Tenang dek, kamu jangan panik..!!" Bang Bujang berlarian kesana kemari memasukan ini dan itu ke dalam mobil.
"Buat apa Abang masukan drone????" Tegur Gista yang sudah sangat kesakitan.
"Untuk rekam kelahiran anak kita lah sayang." Jawab Bang Bujang.
"Abang mau pertontonkan jalan tol Gista di media sosial?????"
"Terus Abang rekam pakai apa??" Pertanyaan bodoh Bang Bujang mulai memanaskan suasana sore hari itu.
"Nggak usah di rekam..!!!! Abang mau pamer ke semua orang tentang kelahiran anak kita????" Suara keras Gista sudah semakin menjadi.
"Iya donk.."
"Abang mau promosi taman bermain Abang????"
__ADS_1
"Astagfirullah..!!!" Bang Bujang menepuk keningnya. "Maaf, Abang nggak kepikiran sampai kesana. Abang hanya pengen rekam kelahiran anak kita aja" jawab Bang Bujang.
"Cepaaatt Abaaaanngg..!!!! Anak Abang mau lahiiiiirr..!!!!"
"Iya.. iyaaaa..!!! Abang bilang jangan panik..!! Anak kita telat lahir saja kamu kuat, masa tunggu sebentar saja kamu nggak bisa???" Kata Bang Bujang.
Seketika tangan Gista menyambar sepatu dan menghantam pipi Bang Bujang.
"Aaawwhhh..!!" Pekik Bang Bujang menahan sakitnya.
Sungguh kesal Gista melihat tampang suaminya.
"Apa salah Abang sih yank.. kenapa setiap perempuan yang mau melahirkan selalu berlebihan, kenapa harus sedramatis ini?? Bukankah saat melahirkan hanya tinggal masuk ruangan.. hitung satuu.. duaaa.. tigaaaa.. yaaaaaakkk.. bayinya keluar"
"Apa Baaangg??????? Bisa-bisanya Abang bilang begitu????"
Bang Bujang ternganga melihat sang istri semakin murka. "Salahku opooo?????"
"Apa Abang lahir dari batu seperti kera sakti?? Apa di 'lepeh' seperti anak ular???"
"Gista bikin lama Bang" jawab Bang Bujang dengan lantang.
"Bang Arsene, tolong saya..!!" Pinta Gista.
"Ayoo..!!" Bang Arsene mendekati Gista. "Maaf ya Gista, ayo saya bantu..!! Sekalian saya antar Panji. Wira lemas sekali lihat Nisa kesakitan jadi Narya juga yang minta saya kesini karena nggak bisa datang. Si kecil saya rewel sekali baru imunisasi" jelas Bang Arsene panjang lebar agar tidak ada salah paham.
Gista mengangguk, tenaganya sudah nyaris habis.
"Saya ikut Bang??" Tanya Bang Bujang.
"Panjat pohon pisang aja kamu Jang..!!! Ikut lah..!! Suaminya Gista itu saya atau kamu????"
"Saya donk Bang" bangga sekali Bang bujang mengatakannya.
"Bapak angkat lu" ledek Bang Arsene jengkel.
//
__ADS_1
Nasha mengusap wajah Bang Wira dengan handuk basah. Wajah suaminya itu sangat pucat.
"Abang kenapa sih?" Tanya Nasha.
"Nggak apa-apa." Jawab Bang Gesang lebih tenang. Tak mungkin ia ungkapkan perasaan cemas dan takutnya menghadapi persalinan Nasha. "Bagaimana anak-anak hari ini?" Bang Gesang sungguh berusaha menepis rasa takutnya.
"Anak-anak lebih tenang Bang, hanya kalau malam saja bangun, ajak main mamanya"
Bang Gesang mengusap perut Nasha yang besar bagai usia kandungan sembilan bulan. "Jaga baik-baik ya dek, Abang tau kamu nggak nyaman, seluruh tubuhmu sakit.. tapi tolong tahan sampai waktunya anak kita lahir nanti..!!" Pesan Bang Gesang.
Nasha bersandar memercing mengatur nafasnya.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Bang Gesang melihat ekspresi wajah Nasha.
"Bang.. sebenarnya kami baru saja makan-makan"
"Makan apa?"
"Liwet oseng mercon, sekarang perut Nasha juga sakit" kata Nasha takut menghadapi ekspresi wajah Bang Gesang yang sudah menatapnya tajam.
"Kalian bertiga ngeriung???????" Bang Gesang mempertegas perkataan Nasha.
"Iya Bang."
"Kamuuuuuu........!!!!!!" Bang Gesang mengangkat tangannya gemas sendiri sampai akhirnya menyentil kening Nasha.
"Eghh.." Nasha menunduk meremas perutnya.
"Deekk.. Astagfirullah..!!! Hwaaaaaaa.." Bang Gesang kalang kabut kebingungan.
.
.
.
.
__ADS_1