
Nasha berusaha kuat meskipun hatinya tak karuan. Setelah dari toko emas, Bang Gesang mengajaknya ke sebuah butik untuk mencoba kebaya lamaran dan kebaya pengantin.
"Warna biru kalem ini cocok dengan pakaian warna apapun Bang" Nasha menunjukan gaun tersebut pada Bang Gesang.
"Abang sudah tau kebaya lamarannya. Biarkan kebaya pengantin nya akan menjadi hadiah dan kejutan untuk Abang" jawab Bang Gesang.
"Pasti pengantin Abang wanita yang cantik."
"Sangat, dia sangat cantik sekali.. bagai Dewi khayangan yang turun ke bumi dan Abang hanya manusia yang mengharapkan keajaiban. Mudah-mudahan sang Dewi bersedia menerima pinangan Abang" kata Bang Gesang tak hentinya menatap wajah Nasha.
Nasha menunduk, tak sanggup membalas tatapan wajah ajudan tampannya. "Bahagia sekali sang Dewi mu Bang'
"Abang yang akan sangat berbahagia mendapatkan wanita seperti dia"
-_-_-_-_-
POV Nasha.
Hari ini aku mengantar Bang Wira sesuai permintaan ajudan pribadi ku. Ajudan yang Papa minta langsung untuk menjagaku.
Ku akui, peran Bang Wira dalam hidupku sangatlah besar. Dia yang setia menjagaku dan selalu ada di saat aku membutuhkan. Bang Wira memang pria yang dingin namun aku merasakan perhatian nya yang besar di balik sikap diamnya.
Aku tau, banyak wanita melirik ajudanku tapi Bang Wira tak pernah peduli, tak pernah aku melihatnya menghubungi seseorang dalam konteks kata mesra kecuali ada panggilan telepon keluar masuk dari ponselnya untuk urusan dinas. Sesekali yang kutau, Bang Wira menghubungi ibunya di kampung.
Papa Cemar melihat putri kesayangannya terisak di dalam kamar.
Tapi hari ini, entah apa yang memukul perasaanku. Bang Wira akan melamar dan menikahi seorang wanita. Hatiku hancur, bahkan rasa sakit ini melebihi rasa sakit melihat Bang Panji bermesraan dengan Diani di ruang kerja.
Saking sakitnya perasaan ku, rasanya hidup pun.. aku merasa tidak nyaman. Aku melirik obat tidur di tanganku. Ingin kutelan agar aku bisa melupakan gundah di hatiku. Kehilangan Bang Wir ada terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan Bang Panji.
POV Nasha end.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Papa Cemar kembali melihat putrinya menangis. Dengan kasih seorang papa, beliau masuk ke kamar Nasha.
"Ndhuk..!!"
"Nasha nggak mau di tawari masakan warisan keluarga Pa" jawab Nasha sudah menolak papanya lebih dulu.
"Ada apa? Kenapa nangis begini? Wira nggak cerita apapun sama Papa. Tapi kenapa tiba-tiba kamu nangis?"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa Pa" Nasha menghapus air matanya tak ingin membuat Papanya cemas.
Papa Cemar mengusap kening Nasha tapi kening itu terasa sangat panas. "Lho.. kamu demam ndhuk??" Seketika Papa Cemar Panik. Ia berteriak kencang. "Wiraaaa...!!!!!!!!"
//
"Astaga.. ada apa nih komandan, lagi tanggung begini" gerutu Bang Gesang saat sedang buang air kecil di toilet. "Siaaapp..!!!! Jawabnya dari dalam toilet. "Ayo cepaaatt..!!!" Bang Gesang sampai menghentak kaki, menyentil diri karena ikut panik mendapat panggilan alam dari suara khas Pak Khobar.
"Wiraaaaaaaaaaa..!!" Teriak Pak Khobar.
"Siaap Dan..!!"
"Darimana kamu???"
"Ijin.. dari toilet Dan" ucapnya kelabakan merapikan penampilan yang belum beres.
"Cepat antar saya bawa Nasha ke rumah sakit. Dia demam" perintah Pak Khobar yang baru bersiap mengangkat Nasha tapi Bang Gesang sudah mengangkatnya lebih dulu.
:
"Iki piye to, kenapa jadi saya yang nyupir" gerutunya di kemudi depan. Ia melirik Bang Gesang dari spion dalam.
Papa Cemar melihat Bang Gesang panik sembari memeluk Nasha. Matanya terlihat memerah menahan tangis. "Sebenarnya ada apa tadi?" Tegur Papa Cemar.
"Ijin.. Saya ajak Nasha beli cincin sama lihat baju lamaran Dan" jawab Bang Gesang.
"Iya Pa" Bang Gesang sungguh terasa sesak melihat keadaan Nasha.
"Hhh.. akhirnya anak Laki-laki Papa ada tiga. Semuanya kebanggaan" senyum Papa Cemar mengawasi jalan sekitar. "Nasha pasti kaget sekali tau kamu mau melamar." Kata Papa Cemar.
"Keadaan masih sangat panas Pa. Masa Iddah Nasha belum usai, saya nggak mungkin main sambar comot anak orang."
"Kalau tau begitu pemikiran mu, kenapa kamu harus buat huru hara sekarang????"
"Takut Nasha di sambar orang" jawab Bang Gesang dengan tegas tanpa sungkan lagi.
"Weeess ambyar ora karuan" Papa Cemar menggeleng tak tau lagi menanggapi tingkah anak muda jaman sekarang.
***
Bang Panji mendengar Nasha masuk rumah sakit karena hari ini Lettu Gesang ijin tidak apel pagi karena mengawal dan menemani putri komandan yang sedang sakit.
"Nasha pasti terlalu sedih dengan perpisahan kami sampai harus masuk rumah sakit seperti ini" gumamnya kemudian segera menuju parkiran untuk berangkat menjenguk Nasha.
...
__ADS_1
Keadaan Nasha masih belum baikan, demamnya masih sangat tinggi hingga pagi ini. Para dokter sudah berusaha merawat Nasha tapi memang keadaan Nasha terlalu drop. Lebih parah lagi, tanpa sepengetahuan dokter.. Nasha menelan obat tidur.
"Bagaimana keadaan Nasha????" Bang Panji ikut cemas melihat wajah pucat Nasha.
"Masih belum stabil" jawab Bang Gesang.
"Kenapa Nasha jadi begini? Apa dia tidak bisa menerima perceraian??" Tanya Bang Panji.
"Jangan bahas hal itu sekarang. Aku nggak bisa mikir pot" Bang Gesang sangat frustasi terlihat dari wajahnya yang sembab.
"Blaackk.. adikku dimana???" Bang Bujang menyusul ke rumah sakit sambil membawa sekantong besar jajanan pasar dengan susah payah.
"Di dalam. Masih di tangani dokter" jawab Bang Petir yang masih merangkul pundak Bang Gesang.
"Apa itu?" Tanya Bang Gesang dalam perasaanya yang berantakan.
"Jajanan pasar."
"Lu mau apa bawa jajanan pasar di saat genting begini Jang???? Mau jualan???" Bang Gesang sampai emosi melihat Bang Bujang. Ingin rasanya menghantam wajah sok kegantengan Lettu Bujang Sawa ( Sabang-Jawa ).
Saat sedang ribut di teras ruang tunggu, seorang dokter berlari keluar ruangan. Bang Gesang segera mengejar dokter tersebut.
"Dokteerr.. ada apa dengan Nasha?????" Tanya Bang Gesang pada seorang dokter sipil.
"Maaf, bapak siapanya Bu Nasha ya?"
"Saya suaminya dok" jawab Bang Gesang membuat Bang Panji kaget setengah mati.
"Bapak ke ruangan saya, ada tindakan perawatan khusus dan ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani. Bu Nasha overdosis"
Baru saja Bang Gesang akan melangkah, ada sosok menarik bahunya.
"Ternyata kamu benar-benar menusuk ku dari belakang. Kamu menikahi Nasha saat dia masih berstatus istriku.. kamu gilaa..!!!!!" Bang Panji terbakar amarah dan menarik kerah pakaian Bang Gesang.
"Nanti kita bicara" Bang Gesang melepas cengkeraman tangan Bang Panji tapi Bang Panji semakin menariknya kuat.
"Kau memang predator. Apa jangan-jangan kamu sudah meniduri Nasha sampai Nasha tidak mau kusentuh. Katakan saja kau tergila-gila dengan tubuh Nasha. Otak kotormu itu sejak dulu tidak berubah"
Tangan Bang Gesang mengepal, hatinya terasa panas. Bukan karena hinaan terhadapnya, tapi karena secara tidak langsung Bang Panji sudah menghina Nasha. Tinjunya melayang menghantam telak wajah Bang Panji hingga nyaris tak sadarkan diri.
"Hina saya sesuka hatimu. Tapi jangan sebut nama Nasha dengan pikiran picikmu." Kaki Bang Gesang masih sempat menghantam sisi leher Bang Panji dengan tendangan mautnya. "Buka telingamu..!! Langkahi dulu mayatku sebelum kamu menghina Nasha. Sekarang kau pergi ke Batalyon.. lihat siapa nama Nyonya Gesang Wirayuwana..!!!! Saya sudah resmi nikah kantor" Bentak Bang Gesang hingga kemudian Bang Panji tersungkur dan benar-benar tidak sadarkan diri.
.
.
__ADS_1
.
.