
"Kemana nih pengantin nya?? Banyak tamu nih" Papa Khobar mondar mandir mencari Nasha dan Bang Gesang. Tak lama ia melihat ada ruang kosong di samping kursi pelaminan. "Jang.. coba cari adikmu disana..!! Papa mau sambut tamu" kata Papa Khobar pada putra keduanya.
"Iya Pa" Bang Bujang segera mencari Nasha di ruang yang sudah di tunjuk Papanya.
Dengan langkah pasti, Bang Bujang langsung menghampiri ruangan itu dan membukanya. Betapa terkejutnya Bang Bujang saat melihat Nasha begitu tenang dalam dekapan sahabatnya. Ia menepuk dahinya saat tau Bang Gesang mencumbu adik perempuan satu-satunya dengan penuh rasa sayang bercampur hawa lelaki yang sarat akan hasrat.
Ingin menegurnya tapi tiada mungkin ia lakukan. Meskipun dirinya orang yang selengekan namun ia juga masih punya perasaan dan pikiran.
~
"Dimana Wira??" Bang Petir ingin menyusul ke dalam ruangan tapi Bang Bujang melarangnya.
"Jangan Bang, mereka sedang menjajal ilmu kanuragan. Abang khan tau mereka sedang bertengkar."
"Astaga.. mereka adu kebatinan disini??????" Tanya Bang Petir sampai matanya membulat besar.
"Aduuuuhh.. pelankan suara Abang..!! Mereka hanya adu mulut sambil saling cek lokasi. Jangan ganggu Bang, kasihan pengantin baru" kata Bang Bujang.
:
Wajah Bang Gesang masih memasang sikap dingin dan berdiri di samping Nasha.
"Kenapa bisa belepotan lipstick nya Bu Wira??" Tanya penata rias yang sedang sedang membenahi riasan Nasha yang berantakan.
"Selesai makan rujak cingur Mbak" sambar Bang Bujang.
"Memangnya ada rujak cingur nya ya Pak?" Tanya Mbak penata rias.
"Oohh.. ini bukan cingur sembarang cingur. Ini di ambil langsung dari sapi liar. Khusus untuk pengantin nih Mbak" Jawab Bang bujang yang langsung mendapat lirikan tajam dari Bang Gesang.
Perias tersebut mengangguk karena tidak paham maksud dari ucapan Bang Bujang.
"Enak nggak Black rujaknya?"
"Enak" jawab Bang Gesang datar namun penuh kejengkelan menanggapi ucap sahabatnya yang mulai jahil.
"Basah atau kering Black bumbunya?" Selidik Bang bujang lagi.
"Itu mulut minta saya cabein? Rasakan sendiri.. jangan banyak tanya" jawab Bang Gesang dengan ribuan kekakuan seperti biasanya.
"Hahahaha.. ngambek nih yeee" ledeknya kemudian berlari keluar dari ruang rias.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Empat jam menyambut para tamu undangan.. Nasha sudah lelah, kakinya pegal berdiri di atas sepatu high heels yang menyiksa tumit.
Tau sang istri sudah sangat lelah, Bang Gesang mengangkat Nasha untuk turun dari pelaminan. Refleks Nasha berpegangan erat, melingkarkan kedua tangannya pada belakang leher Bang Gesang. Para anggota bersorak melihat romantis nya Lettu Gesang yang berwajah datar saja.
"Turunkan Bang, banyak orang..!!" Bisik Nasha.
"Apa yang mau di turunkan?" Tanya Bang Gesang.
"Maksudnya jangan gendong Nasha disini?"
Kata Nasha itu sungguh menggelitik perasaan Bang Gesang. "Terus maunya di mana? Di ranjang?" Bisik Bang Gesang terdengar nakal. Sekilas senyum terlihat dari wajahnya.
Tak peduli dengan banyaknya orang di dalam gedung, Bang Gesang mengecup kening Nasha. "Sabar.. Abang janji nggak akan mengecewakan."
"Iiihh... Apa sih Abang" Rona wajah Nasha berubah, malu-malu ia memalingkan wajahnya dari Bang Gesang.
Bang Gesang tersenyum dan senyumnya sukses membuat seisi ruangan ikut gemas sebab ternyata Lettu Gesang begitu manis dan tampan saat tersenyum.
Tak lama istri Bang Petir berlari menuju toilet. Bang Petir pun mengikuti.
~
"Iya Bang, sudah telat. Binta sudah cek, positif"
"Iya Bang, pasti Binta jaga baik-baik"
:
Bang Petir begitu protektif menjaga Binta sampai menarik perhatian seluruh keluarga.
"Pa.. Maa.. Binta hamil. Papa Mama mau jadi Opa" kata Bang Petir membuka suara.
"Alhamdulillah... Launching jaga gledek Maa..!!!" Papa Khobar sangat bahagia mendengar kehamilan menantunya.
Bang Gesang pun ikut tersenyum bahagia mendengar kehamilan kakak iparnya. Tanpa di sadari.. sejak tadi Nasha terus memperhatikan raut wajah Bang Gesang.
"Heehh Black.. Nasha juga minta di buatkan Gelegar bumi tuh" Bang Bujang menyenggol lengan Bang Gesang yang masih tersenyum.
Seketika senyum itu berubah jadi salah tingkah. "Kenapa lihat Abang begitu? Jatah Nasha bulan depan dari Abang..!!"
"Rasakan luuu.. dapat tagihan rumah tangga. Kalau nggak jadi juga.. kejantananmu di pertanyakan" tawa Bang Bujang menggelegar meledek Bang Gesang sampai ada seorang wanita masuk dan berlari menubruk Bang Bujang, membuat pria itu terdiam seribu bahasa. "Gista.. kapan kamu datang? Kenapa nggak bilang sama Abang?"
Gista terus menangis memeluk Bang Bujang.
__ADS_1
"Heey.. kenapa?? Bilang sama Abang..!!"
"Gista hamil Bang"
:
"Ngisin-ngisini tenan Jang..!!! Mau di taruh dimana muka Papa. Bisa-bisanya kamu teledor. Kalau sudah nggak kuat itu pergi Jang, jangan malah kamu teruskan nafsu setan mu..!!!"
"Gista yang salah Pak.. Maaf..!!" Gista sangat takut melihat kemarahan Papa Khobar.
"Kalian sama saja..!!"
"Papaaa.. sudah.. jangan marah lagi. Sudah kejadian seperti ini.. kita harus selamatkan cucu kita Pa..!!"
"Iya Mas, lebih baik di nikahkan saja. Biar status anaknya Bujang jadi jelas"
Papa Khobar sampai lemas melihat ulang putra keduanya.
"Tolong panggilkan penghulu yang kemarin menikahkan Wira..!!" Pinta Papa Khobar pada Bang Bekisar.
"Siap Komandan..!!"
...
"Sah, Alhamdulillah" beberapa perwakilan anggota ikut menyaksikan pernikahan dadakan Bang Bujang dan Gista"
Tak lama setelah melihat pernikahan Bang Bujang dan Gista.. Papa Khobar ambruk dan tidak sadarkan diri.
"Papaaaaaa..!!!!!!" Nasha berteriak histeris melihat Papanya tiba-tiba pingsan.
"Deekk.. tenang dulu..!! Jangan panik..!!"
Bang Gesang dan Bang Bekisar segera memeriksa keadaan Papa Khobar.
"Bang.. nafasnya..!!"
"Papaaaaaa..!!!!!!!!!!!" Nasha semakin berteriak histeris.
.
.
.
__ADS_1
.