Kehormatan

Kehormatan
77. Semakin tumbuh besar.


__ADS_3

"Sakit sekali Bang, Nasha nggak tahan"


Bang Gesang sampai ikut gelisah pasalnya Saat persalinan Brigas dan Setha yang kembar saja Nasha tidak sampai membuatnya begitu kesakitan seperti ini.


"Kita cek ke dokter kandungan saja dek. Masa kamu masih kesakitan saja" saran Bang Gesang.


"Sekarang saja Bang.. Nasha sudah nggak tahan." Kata Nasha.


"Ya sudah, titip Brigas dan Setha di Om nya dulu baru kita berangkat."


...


Dokter memeriksa kondisi kandungan Nasha. Terjadi pembengkakan dinding rahim hingga membuat Nasha kesakitan.


"Jadi kami harus bagaimana dok?" Tanya Bang Gesang pada seorang dokter wanita agar Nasha merasa lebih nyaman.


"Awalnya istri bapak pasti mengejan sebelum waktunya. Jadi pembengkakan ini di abaikan dan mungkin istri bapak menahannya." jawab dokter.


"Benar itu dek??" Tanya Bang Gesang. Sungguh dirinya sama sekali tidak tau perihal ini. Salah satu sebabnya adalah karena kesibukan nya dalam pekerjaan hingga kurang memperhatikan Nasha sedangkan Nasha sendiri sibuk mengurus anak-anak hingga tidak memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.


Mau tidak mau Nasha pun mengakui. "Iya Bang."


"Kenapa kamu baru bilang masalah ini. Kamu tau.. kesehatanmu bisa terganggu..!!" Bang Gesang menegur Nasha dengan keras semua ini tak lain demi kebaikan Nasha sendiri. "Sekarang apa akibatnya??? Kamu tidak tahan dengan rasa sakit yang kamu buat sendiri."


Nasha menunduk, ia tau pasti saat ini Bang Gesang pasti sangat marah padanya.

__ADS_1


"Abang marah bukan karena benci sama kamu, tapi Abang sayang sama kamu. Mana ada suami yang tidak sedih melihat istrinya sakit seperti ini." Kata Bang Gesang saat Nasha memulai penyelesaian dengan tangis yang sengaja menjadi senjata pamungkasnya. Nasha pasti paham jika dirinya sangat lemah melihat tangis nya.


"Rawat inap ya Bu, sehari semalam" saran dokter.


"Jangan Bu. Anak saya masih kecil. Kasihan mereka kalau saya tidak pulang." Tolak Nasha.


"Tapi ibu harus benar-benar mendapatkan perawatan intensif agar segera sembuh. Saya khawatir jika ibu sudah sampai di rumah, ibu tidak jadi bedrest."


"Dok.. adakah option lain. Misalnya................"


...


"Sakiiiiit Bang. Sudaahh..!!"


"Tahan.. ini Abang sudah pelan-pelan." Bang Gesang sangat berhati-hati memasang jarum infus di punggung tangan Nasha. Meskipun hatinya tidak tega, ia tetap melakukannya demi kesembuhan sang istri.


"Nasha nggak mau di tusuk sama Abang lagi." Kata Nasha sembari memasang wajah cemberut nya.


"Masaaa.. biasanya suka" goda Bang Gesang memainkan alisnya.


"Tusuk apa maksud Abang????" Lirik Nasha. "Abang nggak usah mengalihkan suasana ya karena sudah menyakiti Nasha."


"Ya sudah, Abang minta maaf kalau sudah buat kamu sakit..!!" Bang Gesang pun mengecup kening Nasha.


gubraaaakk..

__ADS_1


"Kamu yang salah" kata Bang Brigas.


"Kamuuuuu..!!" Bang Setha pun tak mau kalah. "Aku bongkar rahasia besalmu..!!" Ancam Bang Setha.


"Jangaaan..!!!!!!"


"Rahasia apa?" Tanya Ayah Gesang menegur kedua putranya yang sudah terlalu sering adu kekuatan.


"Abang lepasin burung Ayah" jawab Bang Setha dengan lantang.


"Haaahh.. burung Ayah yang mana?? Ayah nggak punya burung" Ayah sampai berdiri mendengarnya.


"Yang kemarin ayah tangkap sama Om Bujang tuh." Bang Setha sangat bangga mengetahui kepanikan sang Ayah. Bang Setha pun bisa menebak sebentar lagi pasti Ayah akan menghukum Bang Brigas.


"Allahu Akbar.. itu ayam hutan titipan Danyon. Kenapa kamu lepas??????" Suara Bang Gesang sampai meninggi saking paniknya.


"Abang nggak suka sama burungnya. Nggak bisa terbang" dengan santainya Bang Brigas menjawab. Kelakuan Bang Brigas selalu tegas seperti sang Ayah.


"Haaaaaahhh.. Aaaaaarrrghhhhh..!!!! itu ayam hadiah untuk pengawas Bang. Cari ayam itu susah" rambut Bang Gesang rasanya meranggas merasakan ulah putranya.


"Ayah beli saja di pasar. Banyak yang jual ayam" jawab Bang Brigas semakin membuat ayahnya meradang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2