Kehormatan

Kehormatan
61. Gagal jadi rahasia.


__ADS_3

"Nanti ku ganti isi rumah mu"


"Nggak usah, biar nanti Nisa yang pilih isi rumah" tolak Bang Panji.


"Ya sudah, nanti aku transfer saja uang ke rekening mu. Urusan mau beli apapun itu, biar urusan mu dan Nisa"


"Nggak usah, uangku masih banyak. Anggap saja aku sudah menerima nya dan berikan semua pada Nasha."


"Kau ini"


Bang Panji hanya membalasnya dengan senyuman.


***


Nasha terbangun menggeliat dan melihat Bang Gesang tidur satu ranjang kecil dengannya. Tangan Bang Gesang terus memeluknya.


Merasa ada pergerakan, Bang Gesang pun terbangun. "Kenapa sayang? Capek? Atau badannya sakit?"


"Nggak Bang, harusnya Abang tidur disini. Kenapa Nasha jadi ikut tidur di sini?" Kata Nasha.


"Ya nggak apa-apa. Ranjang ini juga cukup untuk kita berdua" jawab Bang Gesang.


Tangan Bang Gesang mulai beralih meraba perut Nasha. Ia mencium curuk belakang tengkuk Nasha.


"Ada apa Bang?"


"Bulan ini sudah dapat haid apa belum?" Tanya Bang Gesang langsung pada pokok persoalan.


"Hmm.. belum Bang" jawab Nasha.


"Sebelum Abang pulang, kita mampir ke ruangan dokter kandungan ya..!! Abang pengen cek kesehatanmu" ajak Bang Gesang.


"Memangnya harus ya Bang??"


"Menjaga kesehatan itu lebih baik" kata Bang Gesang tak hentinya membelai perut Nasha.


...


Dokter Fajar memercing melihat tanda titik kecil di layar USG. Masih belum percaya dengan penglihatannya, ia sampai mengulang melihatnya lagi. "Kapan kalian curi start??" Tanya dokter Fajar menyelidik.


Sebenarnya Bang Gesang ingin menutup aib dirinya sendiri namun jika sudah berhubungan dengan dokter, rahasia sebesar apapun tidak akan mungkin bisa ia simpan lagi.


"Dua minggu setelah tindakan" jawab jujur Bang Gesang.


"Baguuuss..!! God job Letnan" entah kata itu berupa ledekan atau pujian bagi Bang Gesang. Yang jelas raut wajahnya datar mengambang.


"Ada dua calon perusuh Batalyon di perut Bu Wira" dokter Fajar menatap mata Bang Gesang penuh arti. "Kamu menabur benih di ladang yang masih sangat basah. Dua kemungkinan, gagal.. atau malah tumbuh subur"

__ADS_1


"Jadi bagaimana dok?" Bang Gesang bertanya secara profesional.


"Pengobatan harus berjalan. Nggak boleh nengok calon perusuh dengan sembarangan. Bisa pun harus dengan sangat hati-hati. Kamu yang bisa mengontrol dirimu sendiri. Kalau tidak bisa hati-hati.. lebih baik jangan 'di siram' "


"Aku paham"


...


Kedua ajudan Bang Gesang sampai tak enak hati karena pria yang akan menjabat sebagai Kapten beberapa hari lagi itu menyetir sendiri mobil yang di kendarai dengan luka yang belum pulih di tangan.


Laju mobilnya pun melambat hingga membuat dua ajudan dan Nasha sangat bosan.


"Cepat sedikit lah Bang, Nasha capek"


"Sabar sayang. Kasihan si kembar" hati-hati sekali Bang Gesang mengemudikan mobil.


"Waaahh Alhamdulillah. Ijin.. selamat Dan. Semoga kehamilan ibu lancar hingga persalinan."


"Ijin... selamat Dan, semoga kebahagiaan selalu ada di antara komandan dan ibu."


Bang Gesang tersenyum mendengarnya. "Terima kasih banyak semua. Saya minta kalian rahasiakan kehamilan istri saya. Biar istri saya tenang menjalani kehamilannya"


"Siap..!!"


"Siaapp..!!"


...


"Black..!!" Sapa Bang Panji yang mendengar suara teramat menyiksa di tengah malam.


Sekilas Bang Gesang menoleh. "Bagaimana rumahmu?" Sudah beres, aku tidur di kamar sebelah sama anak-anak. Besok baru beli perabotan"


"Maaf ya"


"Aman boss" jawab Bang Panji. "Ngomong-ngomong kowe kenapa to Black?"


"Nggak apa-apa." Jawab Bang Gesang namun raut wajahnya nampak berbeda.


"Apa kamu sakit?" Tanya Bang Panji.


"Nggak, aku sehat saja"


"Sehat dari mananya sih Black. Mulai dari kemarin kesehatanmu menurun, tekanan darahmu tidak stabil"


Bang Gesang melihat wajah cemas sahabatnya. "Sebegitu cinta kah kau padaku?" Tanya Bang Gesang terdengar sangat menggelikan.


"Oohh jelas, sejak dulu aku mencintaimu"

__ADS_1


Seketika perut Bang Gesang kembali teraduk. "Hhhkk.. jangan bicara begitu..!! Aku mual..!!"


Bang Gesang pun berlari jauh ke samping kebun, perutnya sudah kosong tak bisa muntah lagi.


"Kenapa sih lu, Nasha hamil ya???" Tebak Bang Panji.


"Memangnya Nisa saja yang bisa hamil??"


"Waaahh.. jadi benar nih??????" Bang Panji masih memastikan pendengarannya.


"Iya.. sudahlah biar saja aku begini, kalau bisa aku saja yang merasakan sakitnya, asal jangan Nasha yang merasakan seperti ini."


Ucap Bang Gesang cukup menyentil hati Bang Panji. Pasalnya dulu saat kehamilan Nasha, mantan istrinya itu selalu mual dan muntah bahkan sampai pingsan karena ingin terus bersamanya, bedanya saat ini suami baru Nasha lah yang lebih melow dan manja.


"Mudah-mudahan Nisa nggak mengalami kesulitan apapun" kata Bang Panji mulai cemas.


"Kau cepat bawa pengasuh saja. Kasihan Nisa"


"Aku pikir juga begitu Ting" jawab Bang Panji.


***


Gladi hari ini sudah dua kali Bang Gesang tumbang, Bang Arko sampai menggeleng melihat juniornya selemah itu. "Angkat dan jangan di pajang gladi lagi..!!" Perintah Bang Arko.


"Siap..!!" Bang Bujang dan Bang Panji di bantu beberapa anggota lain segera membawa Bang Gesang untuk di rebahkan di tempat yang lebih teduh.


"Sebenarnya Wira sakit apa? Tangan yang sakit kenapa sampai drop seperti ini" Bang Arko sudah jengah melihat wajah pucat Bang Gesang.


"Ijin Bang, bawaan bayi" bisik Bang Panji daripada Bang Gesang mendapat masalah baru.


"Owalaah.. ono-ono wae" kata Bang Arko.


"Laahh.. Nasha hamil lagi????" Pekik Bang Bujang yang ternyata juga mendengar bisik rahasia Bang Panji.


"Huuusstt.. Wira nggak mau mengumbarnya dulu. Diamlah kau..!!! Setan bener sih lu..!!" Tegur Bang Panji.


"Oke.. oke.. maaf aku terlalu senang. Aku nggak akan bilang kalau Nasha hamil" ucapnya dengan suara meninggi mirip pemimpin upacara membuat beberapa rekan anggota menoleh ke arah mereka.


"Ya Allah.. trouble maker banget sih lu Jang..!!!!!!!" Gerutu Bang Panji.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2