Kehormatan

Kehormatan
52. Cari mati.


__ADS_3

Tolong yang membaca di cerita.. sedikit di atur tata bahasanya. Kalau mau mengumpat tolong di blur. Jadilah pembaca yang santun agar mood Nara tidak hilang 🙏🙏


🌹🌹🌹


"Kamu biasa masuk private room?" Tanya Bang Gesang.


Susi mengangguk memasang wajah manis.


Sedikit ketar ketir jantung Bang Gesang di buatnya, bukan karena ingin berduaan dengan Susi namun batinnya sepenuhnya sadar sudah menyulut sumbu granatnya sendiri.


"Saya mau ke toilet dulu..!!" alasan Bang Gesang menghindari Susi. Bang Gesang segera berdiri dan saat berbalik badan dan membuka pintu.


"Allahu Akbar..!!!" Setengah mati Bang Gesang kaget melihat Nasha sudah menyandarkan sebelah lengannya pada dinding lalu melipat tangan di depan dada.


"Baru Abang nyebut sekarang???" Tegur Nasha.


Seketika itu juga perut Bang Gesang rasanya berputar hebat.


"Mbak Lela, tolong ajak Mbak Gista..!! Suami mbak-mbak semua ada main di barak..!!"


~


"Astagaaa.. nggak gitu Sha..!!" Protes Bang Arko.


"Diaaam semuaaa..!!!" Nasha menjadi berang melihat ulah para pria. Semua perwira tertunduk malas.


"Yang merasa pemilik ke enam barak bujangan.. silakan lanjutkan acara. Selebihnya silakan masuk ke barak ini..!!!" Ucap tegas Nasha mendapat sambutan hangat dari para anggota remaja.


"Ada apa ini?" Mbak Lela menyapa, datang memakai pakaian seadanya karena hari sudah malam. Mbak Gista pun melirik Bang Bujang yang duduk di atas ranjang berjajar dengan Bang Arko dan Bang Gesang.


"Siapa yang ada main?" Tanya Mbak Gista.


Nasha mengarahkan ekor matanya melirik ketiga pria yang sedang duduk. Disana Bang Gesang sudah berubah menjadi wajah pucat pasi.


Mbak Gista melangkah maju dan berdiri di hadapan Bang Bujang. "Nama Abang saja yang Bujang tapi status Abang sudah tidak bujang lagi" kata Mbak Gista menegur suaminya. "Bisa lihat ini?????" Tunjuk mbak Gista pada perutnya. "Ini ulah siapa????"


"Abang" jawab Bang bujang melemah.


"Kalau sudah tau salah, kenapa masih jelalatan??????" Suara Mbak Gista meninggi.


Mbak Lela pun tak kalah berang. Dengan membawa perut yang mulai membuncit, Mbak Lela menepak bahu Bang Arko. "Wadanyon nggak jelas. Bisa-bisanya bawa penyanyi dangdut ke dalam Batalyon. Apa maksudnya???" Tegur mbak Lela.


"Bukan Papa Maaa.. Wira yang buat acara di barak. Ide bawa penyanyinya dari Bujang" Suara Bang Arko melemah, nyaris saja harga dirinya tergeser rasa malu.


"Laahh kok saya Bang, tadi arahan Abang.. bawa hiburan apa saja buat para lajang.. selera kita sesama pria. Kita khan suka lihat yang bohay Bang..........." Bang Bujang berceloteh sampai akhirnya ia menghentikan cuitan nya sendiri saat tiga penguasa jagat rumah tangga tengah meliriknya begitu pula Bang Arko dan Bang Gesang yang sebenarnya tidak tau apa-apa tentang hadirnya Susi kecuali kenyataan bahwa dirinya suka yang bohay.

__ADS_1


"Ada penjelasan???" Tangan Nasha sudah mampir ke pundak Bang Gesang.


"Haaaahh.." Bang Gesang masih ternganga.


"Apa ada penjelasan.. Lettu Gesang Wira??????" Kata Nasha mengulang lagi pertanyaan nya.


"Itu dek, anuu...."


"Anuu apa?????" Tangan Nasha yang semula baik-baik saja kini melayang meluncurkan bogem mentah ke wajah Bang Gesang.


"Ya ampun dek..!!" Bang Gesang berusaha menghindar tapi hal itu semakin membuat Nasha marah.


"Nasha yang ajak Abang kesini.. kenapa Abang merusaknya????"


Buugghh..


Nasha benar-benar menonjok wajah Bang Gesang.


"Aduuhh.." Bang Gesang sampai memercing merasakan batang hidungnya seakan terlepas dari tempatnya.


"Sekarang ambil sarung, wudhu.. Abang yasinan di pojok.." perintah Nasha yang marah besar.


"Sekarang dek??"


Nasha melepas sandalnya kemudian menghantam lengan Bang Gesang. "Tunggu apalagi???? Mau lihat penyanyi itu berlenggak lenggok di depan mata Abang???"


"Tunggu apalagi..!!!! Abang juga..!!!!" ucap kesal mbak Lela.


Bang Arko mengambil langkah seribu lalu menyusul Bang Gesang.


"Hahahaha... M****s luu..!!" Tawa Bang Bujang membahana melihat senior dan littingnya mendapat hukuman dari istri tercinta.


"Ikut berdo'a..!!!! Jangan sampai Gista lepas itu rahang..!!!"


"Iya dek" Bang Bujang berlari.


:


"Tambah ayat kursi..!!! Biar setan mata keranjang di kepala Abang itu cepat perginya..!!!!"


Bang Gesang mengangguk. Kali ini tak ada bantahan apapun dari bibir Bang Gesang. Tak mungkin baginya mencari pertengkaran karena memang dirinya salah sudah memancing keributan meskipun sesungguhnya semua itu tiba-tiba keluar begitu saja tanpa ingin ia lakukan.


Dengan tenang namun beralun merdu, Bang Gesang membaca ayat kursi hingga selesai.


"Kita ke lapangan belakang barak..!!" Ajak Nasha.

__ADS_1


"Mau apa dek? Disana gelap, ada kebun singkong" tanya Bang Gesang.


"Jadi Abang mau di sini lihat Susi?????"


"Ya sudah.. ayo kita ke lapangan" Bang Gesang pun melembutkan suara dan menurut.


"Kita mau di apakan. Bilang sama Nasha.. Abang capek" bisik Bang Arko.


"Abang saja yang bilang, saya nggak mau berurusan sama kepala suku" Bang Gesang balik berbisik, lagipula tenaganya nyaris habis karena mual mulai kembali menghajarnya.


"Kau jangan meremehkan ya..!! Kamu pikir saya berani??" Gerutu Bang Arko.


"Bicara apa kalian??" Tegur Nasha.


"Nggak ada"


"Nggak dek..!!" Jawab Bang Gesang lirih.


:


Musik berdentum kencang di sudut lain. Para perwira menunduk tidak berani menatap ketiga istri perwira lain di atas panggung demi asas kesopanan. Sesaat tadi Nasha meminta pada Om bujangan untuk membuat panggung kecil.


"Ini ada yang gratis Abang nggak mau" tegur Nasha kemudian mulai meliuk.


Melihat Nasya bergoyang.. Bang Gesang segera berlari memeluk sang istri hingga kakinya sempat tersangkut sarungnya yang terlepas. "Apalah kamu ini, jadi siluman belut putih di depan laki-laki lain. Yang begini pantasnya di depan Abang" tegur Bang Gesang tidak terima.


"Bagaimana Abang bisa bilang nggak pantas, Abang saja seleranya cacing kremi..!!"


"Maaf dek... Maaf.. Ya Allah, ampuuun.. Abang nggak lagi-lagi buat masalah" kata Bang Gesang sembari menahan mual sesaat melihat raut wajah marah Nasha.


"Nasha kesal sama Abang..!!!!!!!"


"Duuh.. mati aku..!!" Bang Gesang sampai salah tingkah menatap mata Nasha.


Nasha mengusap perutnya. "Ingat kelakuan ayah ya dek. Mama di buat nangis"


Seketika tengkuk leher Bang Gesang seakan tertimpa pohon besar, kakinya gemetar hingga lemas, perutnya bagai tergulung dengan hebatnya. Dua tangannya bingung harus menyelamatkan bagian tersakit dari tubuhnya karena semua terasa sakit. "Pot.. to_long..!!" Tak ada ucapan lain hingga dalam se persekian detik Bang Gesang terhuyung, terkapar di tanah tanpa tenaga.


"Duuhh.. apa kubilang. Makanya jangan jelalatan. Gagahmu hilang to" gerutu Bang Panji yang posisinya bebas dari perkara.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2