
"Awas jatuh dek..!!"
Nasha langsung berlari ke kebunnya. Bahagia sekali rasanya melihat singkongnya siap panen. "Nasha mau panen Bang, mau cabut sekarang..!!" Katanya.
"Tanahnya kering. Di siram dulu..!! Ada air tuh disini??" Aku menoleh ke sekeliling mencari kemungkinan adanya benda untuk mengambil air.
Mataku melihat sebuah kaleng bekas biskuit, aku mengambilnya dan berjalan ke arah aliran air pada sekitarnya kebun singkong.
~
"Nasha mau coba cabut Bang..!!"
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya yang berusaha mencabut singkong. Pindah dari titik satu ke titik yang lain.
"Sini.. Abang yang cabut"
Dengan sekali tarik saja singkong itu sudah tercabut tanpa susah payah. Aku pun takjub melihat singkong yang Nasha tanam, besar seperti kata pemiliknya tadi.
"Nasha suka Bang" pekiknya kemudian menghambur meraih singkongnya.
"Suka yang besar?" Tanyaku terdengar bodoh.
"Suka, benar-benar besar" jawabnya seketika membuat tubuhku menegang.
Flashback off.
"Jangan terlalu lama, nanti papamu mencari" kataku.
"Bisakah Nasha menentukan apa yang Nasha inginkan?" Tanyanya menoleh padaku.
"Silakan..!!" Jawabku tak ingin banyak berkomentar.
Maaf Nasha. Bukan aku tidak tau inginmu, bukan aku tidak paham perasaan mu, tapi ada banyak hal yang aku jaga.. tentang dia, tentang kamu, juga tentangku. Ada banyak kehormatan yang harus kujaga.
"Bolehkah pertemuan kita hadir lebih dulu?"
Sejenak bibirku terdiam. Aku tak ingin goyah melihat wajah sendunya. Tak ingin Nasha salah langkah karena egoisku sebagai seorang pria.
"Rukun iman terakhir dalam kepercayaan kita adalah percaya akan Qadha dan Qadhar. Kita manusia hanya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua yang kita jalani tidak dapat di ubah dalam suratan takdir" jawabku meskipun mungkin tidak akan bisa menenangkan hati Nasha.
"Sejak kapan Abang jadi penasehat spiritual? Lalu.. menurut Abang, bagaimana jika Bang Panji menyentuh Nasha kembali?" Tanya Nasha tiba-tiba menusuk perasaanku hingga nafasku terasa tercekat sesak.
"Jika tidak pernah ada kata talak terucap. Panji masih menjadi suamimu dan dia berhak melampiaskan hasratnya sama kamu" jawabku.
Nasha menunduk, aku melihat badannya bergetar. Mungkin Nasha kembali menangis sedih setelah lama sekali tak kulihat tangis itu.
"Nasha mau pulang..!!" Ajaknya.
Aku langsung berdiri dan mengulurkan tanganku, membantu putri komandan untuk berdiri tapi ternyata Nasha menolakku.
POV Bang Gesang end..
...
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa Nasha nangis??"
"Siap salah Komandan..!!"
"Bicara yang benar Wiraa..!!" Bentak Pak Khobar.
"Ijin.. Nasha baru saja bertemu Panji. Setelah itu kami pergi ke bukit Cemara" jawab Bang Gesang apa adanya.
Papa Cemar mengerutkan keningnya. Ia melihat raut wajah Bang Gesang baik-baik. "Tangis Nasha.. dari Panji.... Atau dari kamu?"
"Siap salah"
"Kembali ke Mess..!! Tenangkan dirimu juga. Jangan sok kuat kalau nggak kuat..!!" Tegur Pak Khobar begitu sulit di artikan jalan pikiran Bang Gesang.
...
POV Bang Gesang
Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Tubuh ku terasa berat, lelah fisik dan pikiran di tambah kepala ku yang semakin pening. Aku melepas kaos dan menyalakan shower. Tubuh ku lemas hingga aku duduk merosot di bawah guyuran air yang deras. Terngiang kata Nasha di telinga ku.. 'bagaimana jika Bang Panji menyentuh Nasha kembali?'.
Ku tumpahkan segala lelahnya perasaanku. Dua setengah tahun menemanimu bukanlah waktu yang singkat dek. Tapi apalah aku ini. Aku tak mungkin berharap lebih. Aku ini hanya pria tak tau malu yang mengharap putri berkasta tinggi. Aku juga tidak mungkin membuka hati untuk istri orang terlebih Nasha adalah istri dari sahabatku sendiri.
Aku merasakan dadaku terasa nyeri, menusuk ulu hati. Pandanganku kabur, gelap, hingga aku tak tau lagi apa yang terjadi.
POV Bang Gesang end.
***
Bang Gesang tersadar. Ia melihat banyak rekannya ada di sana.
"Kenapa aku disini?" Tanya Bang Gesang melihat jarum infus sudah menancap di punggung tangannya.
"Kamu sendiri kenapa sampai pingsan di kamar mandi??" Tegur Bang Bujang. "Kalau capek tuh minta ijin istirahat satu atau dua hari. Jangan setiap hari on time demi menjaga Nasha. Dia bukan bayi yang harus kamu jaga dua puluh empat jam full"
Bang Bujang memencet dengan keras jarum infus di punggung tangan Bang Gesang.
"Awwwwh.. sakiiiit b**o" Bang Gesang meringis kesakitan.
"Makanya jangan diam aja. Masa begini cara liburnya????"
"Sprin tugasku memang jaga Nasha. Jelas aku harus menjaganya."
"Seharusnya kau lamar saja putri Pak Cemar. Kau bisa menjaganya tanpa beban. Abang takut kamu ada hati sama putri Pak Cemar yang cantik itu. Janda muda khan?" Kata Bang Abdul.
"Eheem.." Bang Bujang berdehem menyadarkan Bang Abdul. "Nasha khan adik saya Bang. Masih ada sangkutan administratif juga sama adik saya"
"Owalaah bro.. sorry.. Abang benar-benar nggak ngerti" jawab Bang Abdul merasa tidak enak.
Bang Bujang tersenyum kecut melihat kenyataan pahit yang di alami adiknya. "Cepat sehat. Jaga adikku lagi. Nggak ada yang ngawal di kampus tuh"
"Iyaaaa" jawab Bang Gesang sembari memijat pangkal hidungnya.
...
__ADS_1
Sore hari Pak Khobar menjenguk ajudannya yang sedang sakit bersama Nasha. Lebih tepatnya.. ajudan khusus sang putri.
"Kenapa sampai pingsan Jang??"
"Ya nggak tau Pa, memangnya aku dukun.. hahahaha..!!!" Jawab Bang Bujang terkekeh.
Plaaakk..
"Jangan bercanda.." Papa Cemar menjitak ubun-ubun Bang Bujang.
"Aduuuhh.. Papaaaa..!!!" Pekik Bang Bujang.
Tak lama dokter keluar dari dalam ruang rawat Bang Gesang.
"Dookk..!!" Sapa Papa Cemar menghentikan langkah dokter.
"Siaap..!!" Dokter tersebut menoleh dan memberi hormat saat melihat ada komandan besar datang.
"Bagaimana ajudan saya?" Tanya Papa Cemar.
"Lettu Gesang Wira ya?" Dokter memastikan.
"Iya"
"Kelelahan saja karena kurang istirahat juga stress yang berlebihan."
"Ya ampuuunn.. nanti saya lagi yang di salahkan. Saya sudah kasih ijin cuti.. tapi Wira nggak mau. Sekarang malah ambruk begini"
~
"Gagahmu hilang"
"Siaap..!!" Bang Gesang memberi hormat pada Pak Khobar.
Nasha yang sejak tadi hanya diam dan berjalan di belakang punggung Papanya kini mendekati Bang Gesang.
"Apa Abang sudah bosan menjaga Nasha?" Sapa Nasha.
"Nggak dek"
"Jangan sakit, kalau Abang sakit.. siapa yang akan menjaga Nasha. Jangan lemah karena Nasha menggantungkan hidup pada Lettu Gesang. Jika terjadi sesuatu pada Nasha.. dengan cara apa Abang akan bertanggung jawab?" Tanya Nasha.
"Pertama.. Abang akan sangat menyesal jika tidak sanggup menjagamu. Kedua.. lebih baik Abang korban nyawa daripada terjadi sesuatu sama kamu" jawab Bang Gesang.
"Apa ada wanita lain selain Nasha yang Abang jaga?"
"Hanya Nasha seorang yang Abang jaga" ucapnya penuh dengan makna.
.
.
.
__ADS_1
.