Kehormatan

Kehormatan
29. Ada Wira untuk Nasha.


__ADS_3

Bang Gesang berdiri gagah di belakang Papa Khobar. Wajahnya datar seakan tidak terjadi apapun.


Papa Khobar mengusap pipi putrinya, Mama Gina sampai menangis melihat keadaan Nasha.


"Kenapa kamu nekat begini ndhuk, kamu masih punya Papa. Bilang sama Papa" kata Papa Khobar.


"Maaf Pa, Nasha salah.. nggak berpikir panjang sebelum bertindak" jawab Nasha.


"Papa maafkan, sekarang bilang.. apa yang kamu pikirkan?" Tanya Papa Khobar.


"Nggak ada Pa. Pusing saja mau wisuda"


"Benar??? Apalagi yang buat pusing? Hanya menunggu prosesi wisuda saja" selidik Papa Khobar dengan wajah sengaja.


"Benar Pa, Nasha hanya kepikiran itu saja."


"Oke sayang. Hmm.. dek. Papa ada kejutan buat kamu lhooo"


"Apa Pa?" Tanya Nasha ragu.


"Surprise.... Selesai masa Iddah mu nanti, akan ada pria yang melamar mu"


Bukannya senang, wajah Nasha malah semakin muram. "Siapa Pa?"


"Nanti sayang, karena pria itu ingin benar-benar mengambilmu dengan cara yang patut" jawab Papa Khobar.


Nasha melirik Bang Gesang. Pria itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Kaku, diam, tegas tanpa ekspresi.


"Nasha nggak mau Pa" tolak Nasha mentah-mentah.


"Papa sudah belajar dari kesalahan dan tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama. Percayalah sama Papa. Kamu tidak akan menyesal dengan pilihan Papa" bujuk Papa Khobar.


Hati Nasha terasa semakin sakit saat Lettu Gesang Wira seakan tak peduli dengannya. Tangis Nasha meleleh.


"Nasha terima pilihan Papa"


\=\=\=

__ADS_1


Lima bulan kemudian.


Nasha telah memiliki perkebunan yang ia kelola sendiri bersama beberapa warga setempat, tentunya dengan bantuan kedua Abangnya untuk berinteraksi dengan warga.


"Jangan ikuti Nasha lagi. Nasha sudah lulus sarjana pertanian, sudah di wisuda. Besok Nasha mau lamaran dan akan segera menikah. Tidak perlu ada pengawalan lagi. Nanti biar suaminya Nasha yang menjaga Nasha."


Bang Gesang mengangguk. "Baiklah.. berarti tugas saya selama tiga tahun menjaga putri Komandan.. sudah usai. Selamat atas lamarannya, semoga ke depannya menjadikan rumah tanggamu sakinah mawadah dan warahmah"


"Terima kasih" jawab Nasha saat Bang Gesang mengantarnya sore itu. Ia kemudian berlari masuk ke dalam rumah.


Saat itu, keadaan rumah sudah sangat ramai dengan banyaknya anggota yang tengah mempersiapkan acara. Tim wedding organizer pun berlalu lalang mengatur acara. Jika Nasha lihat dari persiapan acara nya. Kemungkinan besar pria yang akan melamarnya adalah seorang perwira.


...


Suara lantunan do'a terus mengalun di sepanjang malam, mendayu dan terdengar sedih apalagi dari do'a tersebut terlantun dari sosok yang ia kenal. Suara Bang Gesang yang sangat indah dan tegas.


Nasha menunduk memejamkan mata mendengar tiap bait do'a.


***


...


Kening Nasha berkerut melihat kebaya yang pernah ia lihat namun dirinya tidak begitu mengingat dimana dirinya pernah melihat kebaya tersebut.


"Ibu cantik sekali. Pantas saja bapak menginginkan acara pernikahan usai lamaran ini" kata seorang perias.


Nasha hanya bisa tersenyum karena tak tau harus bagaimana menanggapi ucapan sang perias.


...


Saat yang di tunggu telah tiba. Nasha menunggu dengan gelisah di balik tirai. Air matanya sudah bersiap meluncur deras tapi ia tidak ingin mengecewakan sang Papa apalagi mamanya yang sudah terlalu banyak menangis karena dirinya. Nasha pun membulatkan tekad meskipun saat itu di dalam hatinya masih tersimpan satu nama.


Tak lama rombongan dari pihak pria sudah tiba.


:


"Adapun kedatangan kami kemari adalah untuk mengantar anggota kami, kebanggaan kami, putra kami untuk melamar putri bapak Mumchemar Al Khobar"

__ADS_1


"Jika ada niat baik bagi putri saya, tidak akan pernah saya tolak. Namun saya tidak bisa menjawab karena bukan saya yang di lamar.. apalagi saya berniat melamar. Jadi biar yang muda saja saling bertanya" kata Pak Khobar menimpali pertanyaan Papa Rudra.


Papa Rudra menyerahkan mic pada Bang Gesang.


Bang Gesang menerimanya. Untuk beberapa saat ia mengumpulkan keberanian dalam diri. "Bismillahirrahmanirrahim" gumamnya lirih.


Seketika mata Nasha berkaca-kaca mengenali suara Bass tersebut.


"Di sepanjang perjalanan hidup saya, dua puluh tujuh tahun bernafas di dunia.. baru satu kali saya menghirup aroma wangi yang menyeruak menggoyang naluri. Dua puluh tujuh tahun hidup di dunia, untuk pertama kalinya melihat bidadari dalam wujud seorang wanita yang menggetarkan jiwa raga dan dua puluh tujuh tahun hidup saya, baru menyadari detak jantung ini berdesir, meminta, menuntun saya terus mengingat satu nama.. berharap dapat bersanding dengan dirinya, bicara berdua dan memulai kisah kita berdua." Hati-hati sekali Bang Gesang mengungkapkan isi hatinya.


Sekali lagi Bang Gesang menarik nafas panjang. Lalu mengungkapkan keinginannya. "Adinda.. Nasha Shabilla Larasati.. ada gejolak jiwa yang meronta menahan kerinduan dan ada pula batin yang minta di tenangkan. Jika biasanya Abang Wira datang menjagamu sebagai ajudan pribadi mu.. bolehkah kali ini Abang Wira datang meminangmu sebagai penjaga hatiku. Dua puluh tujuh tahun yang lelah dalam kesendirian.. Abang Wira sudah tidak sanggup hidup melajang.. maukah kamu menjadi bagian hidup Abang, menutup puzzle perjalanan hidup bersama hingga akhir usia?"


Derai tangis Nasha sudah tidak terbendung lagi. Bang Gesang mampu mendengar isakan tangis yang belum sanggup ia artikan hingga dirinya mengusap dadanya yang terasa sesak. Cemas Nasha akan menolak sebab dirinya sadar sempat mengecewakan Nasha perihal lamaran ini.


"Abang Wira.. mohon maaf.. Nasha menolak..." ucapnya.


Seketika jantung Bang Gesang tidak kuat, wajahnya frustasi, badannya seketika lemas.


"Tapi jika Abang Wira meminta Nasha menjadi bagian hidup di akhir usia hingga ke surgaNya.. Nasha mau menerimanya" imbuh Nasha.


Bang Gesang menunduk mengusap titik air mata lalu kembali mengangkat mic di tangannya. "Tentunya hingga sampai surgaNya.. tak akan Abang Wira biarkan dindaku melewati langkah panjang ini sendirian karena Wira adalah Nasha ku begitu pula sebaliknya... Karena sejatinya ada Wira untuk Nasha.. selamanya" jawab Bang Wira.


Nasha terisak mendengar jawaban Bang Gesang, hatinya tak karuan dengan kejutan hari ini.


Bang Gesang duduk terdiam sejenak. Para undangan ikut hanyut dalam suasana sampai Bang Gesang kembali mengangkat mic. "Tanpa mengurangi rasa hormat, Pak Khobar.. saya takut mata dan batin saya tidak sejalan. Bisakah kita ucap ijab qobul sekarang juga?"


"Haaaahh..."


"Ya Allah poott.. nggak sabaran amat...!!!" Para rekan dan sahabat tak menyangka Bang Gesang memutuskan menikahi Nasha lebih cepat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2