Kehormatan

Kehormatan
78. Ribut hari ini.


__ADS_3

Yang tidak sesuai dengan cerita Nara harap skip..!!


🌹🌹🌹


Bang Gesang mondar-mandir memikirkan bagaimana caranya mendapatkan ayam hutan dengan cepat. "Aduuuhh bagaimana ini??? Mana sebentar lagi mau di ambil Danyon." Gerutunya.


"Ada apa Bang?" Tanya Nasha sembari meraba sepanjang dinding.


"Nggak ada apa-apa. Kenapa turun dari tempat tidur?" Jawab Bang Gesang menegur Nasha.


"Terdengar ribut sekali. Nasha khawatir."


"Ayam hutannya di lepaskan dua tuyul peliharaanmu.." kata Bang Gesang saking jengkelnya.


Mata Nasha langsung berkilat marah. "Awas ya kalau Abang bicara begitu lagi..!! Itu anak Abang yang buat..!!"


"Eeeeeeehhh iyaa.. iyaaa.. jangan marah sayang..!! Nanti perutnya sakit lagi..!!" Bujuk Bang Gesang was-was melihat amarah Nasha. "Abang sayang mereka kok, demi mereka Abang gigih jadi grandong.. nggak ingat siang malam, panas hujan demi keluarga kita."


"Nggak usah alasan..!!"


"Nggak sayang."


tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari penyelamatan darurat bencana.


"Iya sebentar. !!" Jawab Bang Gesang menghindar.


~


Bang Gesang memperhatikan baik-baik ayam hutan yang di bawa seorang anggota ke rumahnya.


"Ijin Kapten, kalau Kapten punya uang lebih.. tolong di ganti ayam saya ini. Istri saya mau melahirkan."


"Minta berapa?" Tanya Bang Gesang.


"Nggak mahal, lima juta saja Kapten. Hitung-hitung ganti biaya perawatan." Jawab anggota Bang Gesang tersebut.


Bang Gesang lumayan kaget mendengarnya. "Larangeeee broooo.. pithik sekepel ikii..!!"

__ADS_1


"Ini sudah murah Dan..!!"


"Saya ada uang. Tapi sisanya disita K*K." Kata Bang Gesang.


"Tolong Dan.. istri saya sudah mules."


"Sebentar, saya tanya istri saya dulu."


~


"Apa Bang?? Lima juta???" Pekik Nasha. "Aawwhh.." Nasha mulai kesakitan karena refleks bangun tiba-tiba.


"Pelan-pelan donk sayaang..!! Iya, istrinya mau melahirkan. Katanya sudah mules. Bagaimana nih? Di kasih nggak? Sebenarnya harganya nggak sampai segitu dek."


Nasha berpikir sejenak. Ia pun seorang wanita juga seorang ibu, ia pun tau rasanya berjuang dalam persalinan. "Abang tega melihat Nasha melahirkan?"


"Jujur nggak lah dek, perasaan Abang ikut sakit tersayat-sayat." Jawab Bang Gesang.


"Dia juga berjuang demi istrinya entah itu caranya benar atau salah."


Bang Gesang pun mengerti maksud Nasha. "Ya sudah, Abang bantu dia."


~


"Siap.. Terima kasih Dan.."


...


Sore hari Danyon menyerahkan ayam hutan tersebut untuk oleh-oleh para petinggi. Rupa hijau semu coklat merah dan mengkilap menjadi daya tarik tersendiri.


"Terima kasih atas hadiahnya. Ayam hutan ini sungguh indah." Puji petinggi.


"Siap Dan."


Disana Bang Bujang mendekatkan wajahnya ke telinga Bang Gesang. "Wir, perasaan kemarin ayamnya banyak warna merahnya. Kenapa sekarang jadi warna hijau??" Bisik Bang Bujang.


"Ayam yang kemarin di lepas si kembar. Ini aku beli sendiri, harganya lima juta." Bang Gesang balik berbisik.


"Laahh, terus itu ayam yang di gendong Brigas ayamnya siapa??" Tanya Bang Bujang.

__ADS_1


Belum sempat bibir tertutup, ayam hutan tersebut terbang di atas kepala perwira tinggi. Suasana riuh pun tak terhindarkan.


crrrtttt


"Astagaaaa.. Jang.. ayamnya bongkar muat."


"Ayam siapa ini??????" Teriak petinggi memasang wajah amat murka.


"Ayam Ayah..!!" Jawab Brigas.


"Ayam Om Bujang." Jawab Setha.


~


Bang Gesang dan Bang Bujang berguling-guling di lapangan setelah mendapat hukuman dari perwira tinggi.


"Anakmu jujur sekali. Kita dapat door prize."


"Anak siapa dulu.." jawab Bang Gesang malas. "Awwwhh tanganku terkilir, perutku mual."


"Sama.. aku juga."


"Hhhkk.."


:


Beberapa orang anggota memijat pelipis Bang Gesang dan Bang Bujang. Keduanya masih lemas usai berguling di lapangan.


"Waahh.. ayah sedang rileks" puji setha dengan senyumnya.


"Rileks gundhulmu. Ayah mabuk muter-muter di lapangan." Sambar Bang Gesang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2