Kehormatan

Kehormatan
43. Hasutan.


__ADS_3

"Bang, sepertinya tadi Bang Wira melihatku dengan tatapan kurang ajar deh" kata Diani saat Bang Panji melepas kaos lorengnya usai lepas dinas.


"Oya, kalian bertemu dimana?" Tanya Bang Panji terdengar datar saja meskipun bereaksi mendengar istrinya mengadu.


"Di belakang rumah, waktu aku mau mandi" jawab Diani.


"Walau bagaimanapun, aku ini istri Abang"


-_-_-_-_-


Malam hari saat Bang Gesang mengontrol keadaan sekitar Batalyon, Bang Panji menahannya.. padahal Bang Gesang sudah berusaha untuk tidak bertemu wajah dengan mantan suami dari istrinya tersebut.


"Kenapa kamu menghindar? Kamu mau mengakui kalau kamu baru saja menggoda Diani?"


"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu" Bang Gesang kembali menghindar.


"Tunggu..!! Ternyata diam-diam kamu predator yang mengincar istri orang" Bang Panji meluapkan kesalnya karena terpengaruh ucapan Diani.


"Dengan alasan apa aku harus menggoda istrimu?? Apa istrimu terlalu cantik dan baik budi?" Balas Bang Gesang. "B*******n sekalipun ingin istri yang sholehah dan menjaga harga dirinya di hadapan pria lain. Kau bisa sebutkan kelebihan istrimu selain melahirkan anak?? Aku yakin Diani kalah jauh di bandingkan dengan Nasha"


"Tutup mulutmu..!!!!" bentak Bang Panji.


"Kau yang diam..!! Seharusnya kau yang lebih paham bagaimana karakter Diani, sejak kejadian itu hingga saat ini.. jika mau masih terpedaya ucapannya, berarti kau memang laki-laki yang bodoh" ucap Bang Gesang tak mau tau lagi apapun tentang Bang Panji.


Bang Panji terdiam sejenak. Setidaknya ada yang benar dari setiap kata littingnya itu. Diani memang belakangan ini suka berlebihan dalam hal apapun, namun jika dirinya ingin menegurnya.. ia cemas akan buah hatinya yang sedang tumbuh dalam rahim Diani.


***


"Sungguh Bang, aku nggak bohong."


"Abang memang lebih mengenal kamu lebih dulu.. tapi Abang juga mengenal siapa Wira. Mulai dari kamu di pertemukan dalam pendidikan dasar hingga saat ini, sikapnya tidak pernah berubah. Dia sosok yang apa adanya. Ibarat kata, dia ingin mabuk.. ya langsung dia lakukan tanpa melibatkan orang lain, dan dia termasuk pria yang memperhitungkan setiap tindakan yang akan di lakukan dan pastinya sanggup dia pertanggung jawabkan. Jadi.. tidak mungkin dia menggodamu" kata Bang Panji.


"Abang nggak percaya sama aku? Aku istrimu Bang" jawab Diani mencoba mencari celah untuk mendapatkan simpati dan perhatian dari Bang Panji.

__ADS_1


"Dengar Abang..!! Saat ini Abang masih bertahan hanya karena anak kita yang masih ada dalam kandungan mu. Jika saja tidak ada dia, kamu bisa perkiraan nasibmu sendiri Diani..!!!!" Ucap tegas Bang Panji.


Mendengar jawaban itu, bibir Diani seakan terkunci. Hanya karena seorang Nasha.. Bang Panji tega membuangnya. Sungguh sejak dulu baginya Nasha hanyalah penghalang kebahagiaan nya. Entah kenapa seorang Wira pun bisa tergila-gila dengan wanita yang menurutnya tidak punya ketegasan dan keputusan, wanita yang menurutnya tidak cantik melebihi dirinya yang pintar berdandan sampai kekasih Nasha pun bisa jatuh ke dalam pelukannya. "Kamu bela Nasha Bang???"


"Kita sedang membicarakan Wira, bukan Nasha..!! Jangan keluar jalur..!!!!!!" Bentakan Bang Panji lumayan mengagetkan hati Diani.


Perasaan Diani terpukul, pasalnya Bang Panji hampir tidak pernah membentaknya sampai seperti ini.


//


Nasha kelabakan karena Bang Gesang sudah hampir telat berangkat ke kantor, dengan cepat ia menyuapi suaminya itu dengan paksa.


"Sabar lah dek, nggak usah panik..!!" Jawab Bang Gesang dengan mulut penuh nasi.


"Nggak panik bagaimana sih Bang, sebentar lagi apel." Pekik Nasha bolak-balik melihat jam dinding. "Ini gara-gara Abang. Kenapa Abang bangunkan Nasha tengah malam..!!!"


Bang Gesang tersenyum, tak peduli dengan ocehan sang istri. Jujur memang dirinya serba salah dan dilema. Di usianya saat ini, hasratnya sering menggebu dengan sendirinya, pernikahannya baru saja di mulai namun Allah memberinya kepercayaan rejeki dengan begitu cepat, hadirnya sang buah hati dalam rahim sang istri sudah barang tentu menjadi kebahagiaan sendiri bagi dirinya. Ia ingin menjaganya meskipun 'ada hal' yang harus terkalahkan. "Maaf kalau Abang ganggu istirahat mu. Si junior nggak mau tidur, minta di sayang. Apa Abang kasar?"


Nasha menggeleng pelan, wajahnya tersipu malu.


Bang Gesang merasa Nasha selalu saja tersipu saat dirinya bertanya, apalagi saat dirinya bertanya tentang penyelesaian akhir urusan kebersamaan mereka. Pipi Nasha lebih memerah setelahnya. Tak sedikit pun ia bersikap egois hanya demi kepuasannya semata, ia selalu menunggu Nasha hingga istrinya bisa lepas bersamanya. "Ya sudah kalau begitu, tapi kalau memang Abang kasar.. kamu boleh menegur Abang"


Nasha mengangguk masih dengan wajahnya yang memerah.


"Abang berangkat dulu. Hari ini ada acara rapat ibu-ibu pengurus ranting di Batalyon khan? Nanti Abang jemput..!!"


"Nanti Nasha bisa berangkat sama Diani" jawab Nasha.


"Abang jemput saja nanti. Telat nggak apa-apa, Abang yang tanggung jawab"


"Iya Bang"


Bang Gesang pun membuka mulut menerima suapan terakhirnya dari Nasha. Rasanya nikmat sendiri makan langsung dari tangan kosong sang istri.

__ADS_1


"Apa terlalu asin Bang?" Tanya Nasha melihat ekspresi Bang Gesang pada suapan terakhirnya.


"Nggak, gurih kok.. seperti yang masak" jawab Bang Gesang terkesan menggombal.


"Iihh.. cepat berangkat sana..!!!!"


...


Jam 9.30 Nasha baru tiba di kantor para istri anggota pengurus ranting karena menunggu Bang Gesang menjemputnya.


"Kamu kenapa Di?" Tegur Mbak Lela Arko melihat ekspresi wajah Diani tak bersahabat terus saja memandangi istri Lettu Gesang Wira.


"Istri Bang Wira benar-benar tidak sopan. Aku tau dia sudah siap sejak pagi"


"Oya, apa perkara tidak sopannya?"


"Aku lihat Nasha berciuman dengan Bang Wira.. Cckk aahh tidak pantas.." jawab Diani.


"Masa sih? Dimana??"


"Di rumahnya???? Maksudnya di teras atau di halaman rumah??????" tanya Mbak Lela Arko lagi. Ia sungguh kaget jika memang Nasha yang kalem melakukannya.


"Di ruang tamu mbak. Bagaimana kalau ada orang yang mengintip??" Kata Diani.


Mbak Lela Arko yang tadinya tegang mendengarnya jadi bersandar dan malas mendengar ucapan Diani.


"Kalaupun mereka berciuman di dapur, itu hak mereka. Pertanyaan saya.. kenapa kamu bisa tau kalau mereka berciuman??" Jawab Mbak Lela Arko jengah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2