Kehormatan

Kehormatan
36. Pindah.


__ADS_3

Tanpa di minta, Nasha menubruk Bang Gesang. Ia memeluk dan menumpahkan tangisnya.


"Kamu kenapa?? Apa ada kata-kata Abang yang menyakiti hatimu?" Tanya Bang Gesang.


"Nggak Bang, Abang nggak menyakiti Nasha. Malah Nasha yang mengecewakan Abang" jawab Nasha.


"Mengecewakan apa? Nasha sudah jadi istri yang baik. Nggak menyakiti dan nggak mengecewakan"


"Seharusnya Nasha tau kewajiban Nasha sebagai seorang istri, bukannya malah larut dengan pikiran Nasha sendiri." Kata Nasha.


"Abang mengerti keadaanmu. Setiap kita yang sudah menikah pasti menginginkan bercinta dan melepaskan hasrat, dan itu wajar adanya tapi Abang tidak akan memaksa kalau memang hatimu sedang tidak siap" Bang Gesang mengusap wajah Nasha dan menghapus tangisnya.


Nasha semakin lemah dalam pelukan Bang Gesang. Suaminya itu begitu sabar menghadapi nya, bahkan tidak memaksa seakan dirinya budak pemuas nafsu semata.


Tanpa banyak bicara, Bang Gesang langsung mengangkat tubuh Nasha, di tatapnya kedua mata nan sayu milik sang istri. "Abang janji tidak akan meminta lebih malam ini. Tidurlah yang nyenyak. Abang temani..!!"


***


Bang Gesang mengecup kening Nasha. Menjaga sang istri sebaik mungkin. Tubuh yang lelah tak dirasakannya hanya demi seorang Nasha.


Setelah memastikan Nasha tidur lelap, Bang Gesang segera menghubungi Papa Khobar meskipun jam sudah lewat di tengah malam.


~


"Bagaimana keadaan Papa?"


"Papa sudah lebih baik. Lalu bagaimana Nasha?" Tanya Papa Khobar tetap mencemaskan putrinya.


"Alhamdulillah Nasha sudah tenang Pa."


"Syukurlah kalau begitu." Papa Khobar terdengar lega mendengar putrinya tak lagi bersedih atas penyakitnya. "Wiraa.. Papa bisa menerima apapun yang terjadi di dunia ini, kecuali tangis Mama Gina dan tangis sedih putri kecil Papa. Dulu.. Papa hanya sempat berharap saja memiliki seorang putri karena bagi Papa mendapatkan dua orang jagoan sudah cukup, tapi ternyata Allah masih memberi Papa kepercayaan untuk memiliki seorang putri."


"Siap Pa" Bang Gesang mendengarkan setiap ucapan dari Papa mertuanya.


"Saat kelahiran Nasha, papa sangat bahagia.. lebih dari apapun. Nasha adalah berlian yang papa punya." terdengar Papa Khobar sangat senang mengingat saat kelahiran Nasha. "Tapi.. papa pernah patah hati begitu dalam saat Panji menduakan putri Papa. Di saat Papa memberikan seluruh perhatian dan rasa sayang untuk putri Papa. Kenapa dia menduakan?? Dan kamu tau pasti bagaimana sakitnya hati Papa sampai Papa menjadi seperti ini"


"Saya pahami hal itu Pa. Sebagai manusia, mungkin janji saya hanya sekedar kata yang mentah. Biarlah itu menjadi urusan Allah, yang memahami isi hati saya. Mudah-mudahan saya bisa menjadi imam yang layak untuk Nasha.


"Terima kasih banyak le. Papa lega melepas Nasha dalam penjagaan mu. Tugas Papa sebagai orang tua hanya mengantar Nasha hingga bertemu pria yang tepat." Lembut Papa Khobar berbicara kata demi kata. "Papa sudah akan punya dua cucu dari dua Abang Nasha, tapi.. papa juga pengen cucu dari putri kesayangan Papa"


Bang Gesang tersenyum simpul mendengarnya.


"Kamu dengar suara Papa?" Tanya Papa Khobar dalam sambungan telepon.

__ADS_1


"Saya dengar Pa"


"Buatkan jagoan, yang berjiwa kesatria seperti Papanya...!!"


"Papaaa.. kita manusia tidak bisa memilih. Laki-laki atau perempuan itu kehendak Allah"


"Kalau kamu pintar, semua jadi urusan 'yang di atas'." Jawab Papa Khobar.


"Siap Pa. Insya Allah"


-_-_-_-


Bang Gesang mengajak Nasha ke rumah sakit untuk menjenguk Papa Khobar tapi ternyata Papanya itu bersiap untuk pulang.


"Papa sudah pulang???" Tanya Nasha.


"Iya donk.. Papa sudah sehat. Buat apa lama di rumah sakit."


"Paaaa.. jangan begitu..!! Istirahat dulu di rumah sakit beberapa hari sampai Papa pulih" Nasha sangat cemas dengan keadaan Papanya, namun keadaan Papanya saat ini memang terlihat sehat.


"Papa bosan ndhuk, kamu khan tau Papa ini gagah. Kalau tiduran begini bisa kalah sama pamor sama Papa Rakit dan Papa Rudra donk" jawab Papa Khobar selalu tak pernah serius seperti sifatnya.


Nasha hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ocehan sang Papa.


"Oya Wir, kapan kamu mau berangkat dinas?" Tanya Papa Khobar.


"Besok Pa, saya ambil cuti nikah tiga hari saja" jawab Bang Gesang.


"Kenapa mendadak Bang?" Nasha sedikit memprotes tentang keberangkatan Bang Gesang.


"Infonya mendadak dek. Nggak apa-apa khan??"


Nasha mengangguk. Memang dirinya harus menyadari porsinya sebagai istri seorang abdi negara.


\=\=\=


Tiga minggu kemudian.


Bang Gesang mengajak Nasha untuk pindah di rumah dinas karena semalam dirinya baru saja datang dari penugasan, keadaan Papa Khobar pun sudah lebih baik. Kebetulan rumah itu bersebelahan dengan rumah Bang Petir, rumah yang dulu pernah ia tinggali saat masih menjadi istri Bang Panji, di sana pun juga ada rumah Bang Bujang yang masih kosong dan tentunya rumah Bang Panji bersama Diani.


"Mohon ijin Dan.. semua barang sudah turun" kata Prada Iskandar.


"Oke.. terima kasih. Kalian segera istirahat, ini sudah siang..!!" Arahan Bang Gesang.

__ADS_1


Tak lama Prada Andi datang membawa nasi Padang karena Ibu Nasha Gesang Wira sangat menyukainya.. maka Bang Gesang memutuskan makan siang hari ini dengan nasi Padang.


"Pas sekali An.. kata Papa mertua saya Nyonya nggak mau makan dari kemarin, saya kepikiran. Siapa tau ada nasi Padang, istri saya mau makan" ucap Bang Gesang terdengar seperti sebuah curhatan. Rasa cemas seorang suami pada istrinya.


"Siap Dan, mudah-mudahan ibu mau makan" kata Prada Iskandar.


Bang Gesang mengangguk kemudian melongok mencari Nasha yang belum terlihat batang hidungnya. "Dek..!! Sini dulu sayang..!!" Bang Gesang memanggil Nasha yang sedang sibuk berkutat di dalam kamar.


Tak lama Nasha pun datang, ada gurat senyum di wajahnya melihat Bang Gesang memamerkan bungkusan nasi Padang di tangannya.


"Sini Abang suapi..!! Pagi ini kamu sarapan sedikit sekali" ajak Bang Gesang kemudian meraih tangan Nasha agar duduk di sampingnya. "Mau nggak, enak lho"


"Mauu"


"Sebentar, Abang cuci tangan dulu..!!"


Om Iskandar dan Om Andi lumayan salah tingkah melihat lembut dan romantisnya Lettu Gesang memanjakan istri tercinta.


~


Tak ada kelegaan yang lebih menenangkan selain melihat senyum Nasha.


"Alhamdulillah.. makan yang banyak dek..!!" Kata Bang Gesang.


Nasha mengangguk. "Bang, Nasha pengen sate ayam"


"Nanti Abang belikan, sate yang enak bukanya malam" jawab Bang Gesang.


Tiba-tiba wajah Nasha murung dan masuk ke kamar tanpa pamit membuat Bang Gesang ternganga.


Prada Iskandar dan Prada Andi saling pandang.


"Ibu sensitif sekali" bisik Prada Andi.


"Hssstt.. mungkin ibu sedang PMS" jawab Prada Iskandar ikut merendahkan suaranya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2