
"Ya Allah.. sungguhkah itu dek??" Seketika Bang Panji memeluk Nasha. Hatinya sangat bahagia karena Nasha mau menerima dirinya kembali.
Duduk di samping Nasha.. Bang Gesang yang tengah merokok. Raut wajahnya datar saja seakan tak ada yang terjadi.
Tak lama Bang Gesang berdiri tanpa menatap wajah keduanya. "Saya pamit ke toilet dulu..!!"
Bang Panji tersenyum mengacungkan jempolnya pada Bang Gesang. Hanya ekor mata Nasha yang terus memperhatikan punggung Bang Gesang yang berlalu pergi.
"Bang, bisakah Nasha masih tinggal bersama Papa? Nasha juga ingin kita tidak melakukan kontak fisik lebih dulu" kata Nasha.
Untuk sesaat Bang Panji terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Nasha menolak kontak fisik dengannya.
Ada apa denganmu dek? Apa selama terpisahnya jarak di antara kita selama ini tidak lantas menjadikan rindu di dalam hatimu? Dua setengah tahun berlalu membuat rindu Abang padamu bagai tak surutnya air laut. Tak ada nama wanita lain bahkan tidak 'bertemu' wanita lain walau gelombang rindu menggoyang batinku.
"Baiklah.. tidak akan ada kontak fisik hingga hatimu benar-benar siap" jawab Bang Panji. "Tapi ijinkan Abang memperlakukan kamu layaknya istri Abang seperti yang biasa Abang lakukan dulu"
"Iya Bang"
...
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tak ada pembicaraan apapun di antara Bang Gesang dan Nasha. Seakan semua sungguh hanya profesional kerja.
"Nasha mau nongkrong dulu"
"Ini sudah malam. Mau kemana lagi?" Tanya Bang Gesang.
"Nasha mau lihat pemandangan di bukit Cemara" jawab Nasha.
Bang Gesang melihat jam tangannya lalu berbalik arah menuju tempat yang di minta Nasha.
:
POV Bang Gesang.
Aku tak tau apa yang terjadi pada Nasha hari ini. Yang kutau sejak pembicaraan semalam, tiba-tiba dia lebih banyak diam.
Aku tidak ingin berbesar kepala atau menduga-duga apapun yang terjadi saat ini. Pikiran positif ku mengatakan Nasha sedang beradaptasi dengan kembalinya Panji dalam hidupnya. Lelaki yang selama ini membuat patah hati hebat dalam hidup Nasha.
Lebih dari dua tahun lalu aku melihat Nasya depresi berat, kehilangan anak sekaligus kehilangan suami yang tiba-tiba menceraikannya.
Flashback Bang Gesang.
__ADS_1
Setelah kejadian malam itu, baru aku bertemu dengan dia lagi. Gadis yang saat itu mendapat pelecehan dari seorang anggota karena sahabat baiknya telah menjualnya. Gadis yang juga adalah adik sahabatku sendiri.
"Saya mau kamu menjaga Nasha dari lingkungan luar yang mungkin membahayakan dirinya. Nasha akan kembali melanjutkan pendidikan yang sempat terputus" perintah Dan Khobar saat itu.
"Siaap..!!"
Aku melongok melihat kecantikan mantan istri rekan seperjuanganku. Ada apa?? Mengapa kamu tega menduakan wanita selembut Nasha? Apa salahnya?. Hanya itu saja yang berputar-putar dalam benakku.
Kulihat wajahnya sembab, tak ada rona bahagia dari wajahnya.
"Wira, ini seluruh identitas Nasha yang baru. Saya harap tidak ada jejak yang bisa di lacak oleh mantan suaminya yang kurang ajar itu. Saya tau suami Nasha adalah sahabatmu juga. Tapi jangan campur aduk masalah pekerjaan dan urusan pribadi. Mulai hari ini saya serahkan urusan penjagaan Nasha sama kamu..!!"
"Siap komandan..!!" Jawabku tanpa tau.. siapa suami Nasha yang sebenarnya.
***
"Pak Wira.. ibu nom pingsan di kamar mandi..!! Bibi nggak kuat Pak..!!" Teriak bibi memanggilku yang sedang ngopi di pos bersama beberapa anggota yang lain.
Entah untuk berapa kalinya Nasha pingsan. Sejak aku mengambil tugas ini, aku sudah terlalu sering melihat Nasha pingsan.
"Saya kesana bi. Terima kasih" aku segera berlari masuk ke kamar putri junjunganku.
~
Hatiku tidak tenang, perasaanku tidak nyaman, aku gelisah memikirkan Nasha, mondar-mandir sendiri di depan kamar menunggu bibi yang sedang menggantikan pakaian Nasha.
Tak lama pintu terbuka. "Sudah Pak, apa bibi panggil dokter saja?"
"Biar saya bicara dulu dengan Nasha. Kalau memanggil psikiater lagi, keadaan Nasha akan semakin buruk karena diperlakukan berbeda" jawabku kemudian masuk ke dalam kamar dan menutupnya.
Nasha meringkuk menekuk badannya, tatapannya kosong, ia hanya menggigiti kukunya. Aku mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Dek, apa kamu tau arti sebuah keikhlasan?" Aku mengarahkan wajah Nasha agar menatapku. Bukannya aku sok pintar, tapi ada sisi batinku yang terhantam kuat sekali hingga aku tak tahan untuk diam saja melihat hal ini. "Jika hatimu terasa sangat sakit dan penuh sesak di dalam dada.. mengadulah pada Sang Pencipta. Dia memberimu ujian ini berarti Yang kuasa sudah memilihmu bersamanya.
"Nasha ikhlas menikah dengan dia, tapi dia membuang Nasha begitu saja. Apa karena Nasha tidak sanggup melahirkan anak untuk dia"
Ku remas sprei di ranjang Nasha. Aku tak tau apa yang kulakukan ini benar atau tidak, tapi...
"Mau kah kamu sholat sama Abang?" Tanyaku.
Nasha hanya menatap mataku dan.. dia tidak menolak ku.
__ADS_1
~
Usai sholat kami sama-sama saling menunduk. Aku meraih Al Qur'an di atas nakasnya. "Mau membacanya sama Abang?"
Nasha pun mengangguk.
\=\=\=
"Lama ya Bang?"
"Nggak" jawabku. Sejak malam itu perlahan aku melihat senyumnya mengembang. Senyum dari paras wajah ayu sang Nasha. Cantik.. tak ubahnya bidadari.
Aku mengalihkan pandanganku, berusaha menepis nakalnya pikiran saat memandang putri komandan besar yang selama ini ku junjung tinggi. Aku harus sadar diri, aku hanyalah putra angkat seorang petani tak berpunya jauh di ujung desa seberang pulau. Aku tak tau siapa orang tuaku, darimana asalku dan mengapa aku di buang. Tak pantas untuk diriku menyimpan perasaan pada wanita secantik Nasha Shabilla Larasati.
Nasha mulai melanjutkan kuliah dengan semangat. Setiap hari aku menjaganya selayaknya diriku sendiri. Dia batu berlianku.
"Nasha mau ke kebun praktikum deh Bang, setelah itu Nasha mau ke supermarket" katanya.
Aku mengangguk saja, tak akan pernah mungkin aku menolak inginnya. Kubiarkan dia ceria, melupakan semua sakit dalam hatinya hingga sampai saatnya nanti Nasha lulus menjadi seorang sarjana pertanian yang baik.
"Ayo cepat Bang, Nasha mau lihat tanaman Nasha yang luar biasa. Hari ini sudah ada hasilnya."
Sungguh Nasha sangat ceria. Inilah keceriaannya saat bersamaku, namun ini untuk pertama kalinya ku lihat senyumnya yang sangat indah dan aku pun ikut bahagia.
"Memangnya kamu tanam apa dek?" Aku berusaha antusias mendengar semangatnya.
"Singkong Bang" jawabnya menunggu reaksiku.
Aku menelan salivaku dengan kasar, kukira Nasha akan menyebut bunga anggrek, buah strawberry atau apa pun yang akan di panen dengan manis. Aku bingung, tapi aku terhibur juga dengan kepolosannya. Aku bertepuk tangan mengapresiasi usaha kerasnya. "Waaahh.. Alhamdulillah berhasil ya dek. Mudah-mudahan besar dek singkongnya" do'a ku sungguh tulus.
"Iya Bang, Nasha puas kalau singkongnya besar."
Tiba-tiba mulutku terdiam serasa terkunci mendengar jawab Nasha. Sekelebat pikiran nakal melesat di kepalaku.
.
.
.
.
__ADS_1