Kehormatan

Kehormatan
50. Perjuangan bertahan.


__ADS_3

"Kamu kenapa ndhuk. Kenapa bisa begini.?" Mama Gina mengusap rambut Nasha.


"Nasha juga nggak tau ma. Kesal aja rasanya setiap lihat Abang bicara sama perempuan" jawab Nasha.


"Bicara atau menyapa bukan berarti ada rasa dan suka. Itu hanya bentuk kesopanan untuk memanusiakan manusia" kata Papa Khobar ikut memberi pengertian pada Nasha yang hatinya masih tak jenak.


"Tapi Nasha nggak suka. Apalagi Abang senyum"


Mama Gina melempar pandangan ke arah Papa Khobar dan Papa Khobar. "Jangan lirik Papa Maa.. Mama pasti tau apa sebabnya"


...


"Tensinya baik ya Pak Kapten.. semua stabil. Kapten Wira besok sudah bisa pulang..!!"


Bang Wira tersenyum penuh rasa syukur karena dirinya sudah diijinkan pulang. Rasanya sungguh tidak nyaman berada di rumah sakit.


Tak sengaja ada sepasang mata melirik Bang Gesang dari sofa.


"Saya pamit Pak." Kata perawat wanita yang baru saja memeriksa Bang Gesang.


"Iyaa.. terima kasih ya" jawab Bang Gesang lembut.


Belum sampai satu langkah perawat itu berjalan. Rasa mual sudah kembali mengaduk lambungnya yang sesaat tadi sudah baik-baik saja. "Hhkkkkk" mata Bang Gesang pun melirik Nasha.


"Pak.. Pak Wira kenapa?" Perawat wanita itu hendak mendekat namun Bang Gesang melarangnya.


"Tolong panggilkan perawat pria..!!" Pinta Bang Gesang.


"Baik Pak, akan segera saya carikan..!!"


"Terima kasih" jawab Bang Gesang tanpa banyak basa-basi lagi.


~


"Abang janji nggak akan melirik perempuan lain dek..!!" Bang Gesang sungguh memohon karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang dirasakan nya.


"Nasha nggak percaya sama Abang. Pasti Abang mau kawin lagi"


"Lailaha Illallah.. Abang nggak mungkin punya niat begitu. Ini Abang baru buka mata saja sudah kamu sumpahin. Kalau Abang sempat punya niat kawin lagi.. Abang sudah pindah alam dek..!!"


"Benar.. Abang nggak niat kawin lagi???"


"Iya sayang"


"Kalau Abang melirik perempuan lain.. Abang mabuk sampai seperti ini ya. Kalau Abang nggak buat masalah, Abang puyeng aja."

__ADS_1


Bang Gesang menaikan jari kelingking tanda setuju daripada harus mendengar banyak perdebatan dengan Nasha, dan pada akhirnya.. Nasha pun menyambutnya.


//


"Revan minta kamu suapi..!!"


"Duuhh.. jangan ganggu aku Bang, biar Nisa saja. Lantas untuk apa aku membayarnya kalau dia tidak bisa mengurus anakku" tolak Diani.


"Kamu bisa melakukan nya sambil duduk atau mengajaknya lihat televisi..!!"


"Nisaaaa.. suapi Revan..!!" Teriak Diani memerintah Nisa.


"Baik Bu."


"Nggak mauu.. Evan mau sama Mama" Revan berontak dan menepis tangan Nisa. Bang Panji pun merasakan sedih melihat 'kesendirian' Revan.


"Abang Revan ingat nggak apa yang Tante Nisa bilang?? Perut Mama besar, ada adiknya Abang Revan yang tidak lama lagi mau lahir. Jadi Abang Revan harus sabar karena adik kecil, masih ada di perut Mama" bujuk Nisa.


"Heeh.. pergi kamu..!!!!!!! Nggak usah cari muka di depan suamiku..!!!" Bentak Diani.


"Dianiii.. jangan keterlaluan kamu..!!!" suara Bang Panji cukup mengagetkan Revan, Bang Panji pun sedikit bingung menempatkan diri.


Nisa tersenyum menatap mata Revan. "Kita keluar yuk Bang. Mama sama Papa sedang belajar nyanyi"


~


"Cukup.. Abang nggak mau bertengkar sama kamu Di..!!" Bang Panji berusaha merendahkan suaranya mengingat Diani sedang mengandung buah hati mereka.


"Terus saja membelanya. Abang memang tidak pernah mau membelaku"


"Astagfirullah hal adzim.. Dianiiiii.." Bang Panji sampai mengangkat tangan dan hampir menampar Diani yang terus berteriak.


Tepat saat itu Papa Rakit mencekal tangan Bang Panji. "Istighfar le..!!" Papa Rakit memberi kode agar Mama Fia membawa Diani jauh dari Bang Panji tapi Diani menepisnya dan langsung pergi menuju kamar.


Tak lama Diani kembali dan membawa tas kecilnya.


"Mau kemana kamu????" Nada suara Bang Panji masih meninggi penuh emosi.


Diani tetap melenggang pergi seakan tak mendengar suara Bang Panji.


"Kejar Pan..!!" Saran Mama Fia.


"Biar saja Ma"


"Diani sedang hamil, bagaimana kamu bisa membiarkan istrimu yang sedang hamil tua itu pergi sendiri..!!!" Kata Mama Fia yang sebenarnya sedikit banyak juga mencemaskan menantunya.

__ADS_1


Bang Panji segera menuju kamar dan bersiap berangkat kerja.


"Kamu tenang dulu Ma. Laki-laki bersikap seperti itu bukan karena tidak mau tau. Sudahlah, percayakan semua pada putramu..!!" Saran Papa Rakit.


~


"Bertemu perempuan itu lagi? Nangis?? Dimana??"


"Ijin Dan.. di sebuah cafe, daerah P" lapor seorang ajudan Bang Panji via ponsel.


"Kamu kirim foto kebersamaan mereka...!!" Perintah Bang Panji. Ia tidak seberapa cemas setiap kali Diani keluar rumah karena istrinya itu selalu menemui wanita setengah baya di luar sana. Hanya saja.. ia memperkirakan, sikap buruk Diani pastilah ulah wanita tersebut. "Kamu mendekat dengan hati-hati dan video kan mereka..!!"


"Siap Dan..!!"


//


"Alhamdulillah.. akhirnya pulang juga" Bang Gesang nampak bugar, bahkan seakan tak terjadi apapun seperti kemarin apalagi yang merawatnya adalah perawat dan Dokter pria.


"Kalau memang tidak ada kendala.. silakan beraktivitas. Tapi jangan terlalu berat. Sisa dehidrasi masih ada" saran dokter.


Dokter Fajar pun tiba. "Pulang bro???"


"Alhamdulillah.."


"Jangan balik kesini lagi ya, repot gue tangani pasien macam lu" kata Dokter Fajar.


Seorang ajudan Bang Gesang mengambilkan kacamata hitam dan Bang Gesang segera memakainya.


"Gayamu..!!" Tegur Bang Bujang yang baru saja membalas pesan singkat dari ponselnya.


"Gue nggak mau papasan dengan perempuan manapun. Amankan jalanku keluar dari rumah sakit ini..!!"


"Haaaahh???"


"Sudahlah.. minimal sampai adikmu baikan, aku nggak mau bertemu makhluk bernama wanita. Mau mati gue tiap merasakan mual gara-gara adik kesayangan mu cemburu" Bang Gesang pun turun dari ranjang.


"Tapi sayang donk sama Nasha???"


"Sayang lah.. sayang banget, nggak lihat perjuanganku?? Kalau nggak gara-gara adikmu yang cantik itu, mana ma aku ndelosor mabuk, hampir mati sampai seperti ini" jawab Bang Gesang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2