Kehormatan

Kehormatan
65. Rujak.


__ADS_3

'Ya Allah, jijik sekali aku melihat tingkah para amphibi itu, memang mereka masih sopan, tapi mengeksploitasi diriku demi kesenangan pribadi juga tidak sopan.'


Tak ada yang tau Bang Gesang sempat memarahi Lolita and the gank karena menginginkan foto bersama dirinya dan akhirnya Bang Gesang melepas seragam demi menjaga identitas dan membuat blur wajahnya dan jika sampai foto dirinya tersebar, maka Bang Gesang akan menghajarnya secara jantan.


Bang Gesang menggosok tubuhnya dengan tumpukan kembang di bak mandinya saat kembali mengingat tangan Lolita and the gank berani 'mentoel' dirinya.


"Bang..!!!"


"Dalem..!!" Jawab Bang Gesang dari dalam kamar mandi.


"Lama sekali"


"Mau apa dek?" Tanya Bang Gesang.


"Mau mandi juga" kata Nasha.


"Masuk saja, menghemat waktu..!!"


Nasha pun membuka pintu kamar mandi dan Bang Gesang menggandengnya masuk.


"Awas licin..!!!"


//


Diani terpuruk meratapi dirinya. Kini ia berada di dalam satu sel tahanan bersama Oma Nena.


"Kau sangat bodoh dan tidak bisa di andalkan. Seharusnya kau tidak pernah memupuk cintamu untuk Panji. Cinta itu tidak pernah ada, buktinya Panji hanya membuang mu untuk Nasha dan Nisa" Untuk kesekian kalinya Oma Nena mencuci otak Diani. Ia pun kesal karena ulah Diani.. semua impian nya untuk menjadi orang kaya kini gagal total dan malah harus mendekam dalam jeruji besi.


"Aku akan tetap mengambil anak ku."


Terdengar suara membahana Oma Nena yang terasa menggema di dalam ruang tahanan membuat bulu kuduk Diani bergidik ngeri.

__ADS_1


***


Bang Gesang bersandar kasar pada dinding saat melewati ruang Wadanyon. Badannya terasa sangat letih usai berlatih repling. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, rasanya kini dirinya mulai pintar menata alur gejolak dalam tubuh.


"Astagfirullah hal adzim.. aku saja laki-laki merasakan sakit seperti ini rasanya tidak kuat, bagaimana wanita di luar sana yang merasakan hamil.. sudah membawa perut besar. Masih juga harus mual. Tangguh sekali" gumamnya.


Pelan-pelan kakinya melangkah, matanya jernih melihat segerombol mangga muda di pohon depan ruang Danyon. Ia mengambil ponsel di sakunya.


:


Bang Gesang duduk sendirian membuka kaki duduk di bawah sebuah pohon rindang. Bermodalkan cobek beserta bumbu rujak jarahan dari ibu kantin, rujak ala Kapten Gesang pun siap untuk di nikmati.


"Waaahh.. enak lu yeee. Anggota yang lain sibuk kegiatan, lu malah sibuk makan rujak" tegur Bang Bujang.


Bang Gesang hanya menolehnya sekilas kemudian kembali menyantap rujak mangga muda karyanya setelah memaksa Om Iskandar mengambilnya.


"Sabar lah Jang. Perutku hanya bisa makan makanan tertentu. Aku lapar sekali" jawab Bang Gesang membuat hati Bang Bujang trenyuh juga.


Perjuangan Bang Gesang untuk mencintai dan menjaga buah hatinya begitu luar biasa.


"Sini coba..!!"


Bang Gesang pun menerima tahu isi dari Bang Bujang dan mencoba mencoleknya di sambal rujak. "Alhamdulillah bisa, aku minta ya..!!"


"Ambil sesukamu. Yang penting ada tenagamu buat kita ribut" kata Bang Bujang.


Bang Gesang tersenyum mendengar perhatian sahabatnya. "Sabar.. kalau sudah sehat, kuhantam rahangmu yang cerewet itu"


"Nasha juga cerewet lho" sambar Bang Bujang.


"Kalau Nasha mah tempat hantamnya beda dan adikmu itu nggak akan berkutik kalau aku yang menghantamnya"

__ADS_1


Bang Bujang sampai melirik mendengarnya. "Lu beneran sakit nggak sih? Perasaan kalau soal yang anuuu tetap aman aja"


Ponsel Bang Bujang berbunyi, ia mengambil dan melihat siapa pemanggilnya. "Aduuuhh Tuhankuu.. Aku lupa taruh galon ke atas dispenser. Gista bisa ngamuk nih" gumamnya kemudian mengangkat panggilan telepon.


"Abang dimana?" Tanya Gista di seberang sana.


"Di Batalyon donk sayang. Oiyaa.. maaf ya Abang belum sempat naikan galonnya. Abang terburu-buru tadi di telepon sama Gesang"


Seketika Bang Gesang menoleh karena merasa di kambing hitamkan sahabat sekaligus kakak iparnya.


"Memangnya ada apa Bang?"


"Ini.. si Gesang ngidam makan rujak, Abang yang panjat nih karena Gesang nggak bisa panjat pohon"


"Heeehh..!!!!!!" Bang Gesang mulai jengkel mendengar cicitan Bang Bujang berbesar mulut belaga menjadi pahlawan kesiangan.


Tangan Bang Bujang meremas bibir Bang Gesang agar suara nya tidak terdengar oleh Gista.


Saking kesalnya Bang Gesang pada kakak kandung Nasha ini, ia menguleg beberapa biji cabe rawit lalu menyendok dan menyuapkan ke mulut Bang Bujang yang jahil.


"Huuuaaaaahhh... Pedas sekali Black..!!!!!" Protes Bang Bujang seketika mematikan sambungan telepon dan langsung menyambar gelas air minum Bang Gesang.


"Makan tuh, selamat menikmati jontor nya bibirmu..!!!" Rasanya puas sekali Bang Gesang membalas fitnah keji dari iparnya.


"Aduuuhh panasss" pekiknya lagi.


Bang Gesang tak peduli lalu melanjutkan menyantap rujak nya meskipun teh hangat miliknya sudah bocor ke perut Bang Bujang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2