Kehormatan

Kehormatan
24. Keruh.


__ADS_3

"Aku juga ingin sehat. Maaf Bang"


"Alasanmu sungguh sulit di terima akal sehat Di..!!" Ucap Bang Panji sembari menggendong Revan dan terus menciumi putra kecilnya dari Diani. Revan tidur pulas dalam gendongan Papanya.


"Apa Revan sudah makan?" Tanya Bang Panji tanpa menoleh pada Diani.


"Tadi sudah Bang." Jawab Diani kemudian celingukan melihat rumah kontrakan Bang Panji. "Mana Nasha?"


"Dia sama Papanya"


"Kenapa??"


"Setelah kamu pergi.. Abang mendekam dalam jeruji besi kemiliteran. Nasha di bawa pergi Papa Khobar dan anak Abang dari Nasha juga tak sempat menghirup udara dunia" jawab Bang Panji. "Itulah kehancuran hati Abang"


Diani hanya diam berwajah datar. Ia terus mendekatkan sang putra pada papanya.


Bang Panji ingin menolak kehadiran Diani tapi melihat sang putra, hatinya luluh lantah.. membenci ibunya itu mungkin tapi tentang anak.. tak ada yang sanggup berpisah dari anak apalagi yang telah di tunggu hadirnya.


"Dapur Abang dimana? Aku mau buat susu untuk Revan. Apa Abang mau ku buatkan kopi juga?" Tanya Diani.


"Di sebelah sana..!!" Tunjuk Bang Panji. Matanya masih terus menatap pria kecil dalam gendongannya lalu menciumnya.


Diani berjalan menuju dapur.


:


"Kamu tidur di kamar sebelah..!!" Kata Bang Panji mengarahkan.


Diani mengangguk kemudian mengambil barang untuk di masukan ke dalam kamar.


Bang Panji melirik Diani. Entah kenapa jantungnya berdesir naik turun hingga kepalanya terasa pening. Ia segera menidurkan Revan di dalam kamarnya dan menyumpal bibir putranya dari Diani dengan botol susu.


"Apa Revan tidur pulas kalau malam?" Tanya Bang Panji menghampiri Diani di dalam kamar sebelah.


"Iya" jawab Diani sembari melepas cardigan dan melemparnya asal.


Desir darah Bang Panji semakin naik turun, ingin rasanya menghindar tapi Diani melangkah ke arahnya dan bersandar di dada bidangnya.

__ADS_1


"Maaf ya Bang, dulu aku tidak bisa melayani hasratmu. Sekarang aku sudah sembuh. Aku benar-benar berobat dan kembali membawa buah hatimu" kata Diani.


Bang Panji mendorong Diani. Ia tidak ingin terlibat masalah lebih jauh bersama Diani.


"Aku tau cintamu hanya untuk Nasha. Aku masih istrimu Bang, ijinkan aku melakukan kewajiban ku sebagai istrimu.. jika kamu benar-benar tidak suka.. kamu boleh menceraikan aku" Diani berjinjit mengecup bibir Bang Panji.


Gairah dalam diri Bang Panji tiba-tiba melonjak tinggi. Sungguh ia tidak dapat menahan diri. Tubuhnya menegang, hatinya keras menolak tapi tidak dengan bahasa tubuhnya. Ia memalingkan wajah tapi Diani lebih menguasai raganya.


"Lepaskan inginmu Bang, aku tau kamu rindu saat-saat seperti ini" Diani membuka kancing kemeja Bang Panji satu persatu.


***


Bang Gesang mengangkat Nasha tidur di ranjangnya. Ia tak tau lagi bagaimana cara membujuk pimpinannya untuk pulang ke rumah. Pak Cemar pun tak sanggup mencegah keinginan sang putri.


"Biar Bujang stand by disini" kata Pak Khobar.


"Ya Papaaaaa.. Nanti matahari terbit aku mau kencan" tolak Bang Bujang.


"Ini adikmu Jang.. masa mau kamu tinggal berdua disini sama Wira?????" Tegur Papa Cemar. "Lagipula kencannya masih besok. Kenapa ribut sekarang????"


"Astagaa Jaaaaangg..!!!!!" Papa Cemar kesal sekali dengan tingkah putranya.


"Papa jangan ribut dah. Nasha baru tidur" secepatnya Bang Bujang menghentikan omelan papanya.


Pak Cemar melihat Bang Gesang memilih duduk di samping ranjangnya yang sedang di tiduri Nasha. "Kamu nggak apa-apa Wir?"


"Siap.. aman komandan" jawab Bang Gesang.


"Saya tinggal dulu ya Wir, pagi ini saya ada kegiatan di Markas" pamit Pak Khobar.


//


Bang Panji melepaskan hasratnya yang telah tertahan lama. Rasanya tuntas dan puas hingga dirinya mengantuk lalu tertidur pulas.


Diani tersenyum puas melihat Bang Panji tidak menolaknya. "Aku juga bisa menyenangkan kamu Bang" ia pun menggeser tubuh Bang Panji yang tak ingat apapun lagi.


-_-_-_-

__ADS_1


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Panji kelabakan mencari pakaiannya. Ia melihat Diani pun tak tertutup sehelai benang pun sama seperti dirinya. "Ya Tuhan.. apa yang ku lakukan semalam??????"


Mendengar suara Bang Panji.. Diani pun terbangun. "Ada apa Bang?" Tanya Diani masih mengerjab.


"Apa yang kita lakukan semalam?"


"Apa Abang lupa?? Semalam Abang memintanya. Abang mengajak Diani masuk ke kamar ini" jawab Diani.


"Abang yakin nggak mengajakmu Di"


"Lalu kenapa kita bisa melakukannya??? Hasrat itu keinginan laki-laki Bang, bukan perempuan" Diani mulai menangis karena merasa Bang Panji menolaknya.


Bang Panji tak sampai hati melihat tangis Diani, pasalnya dirinya memang belum mengucap kata cerai untuk istri sirinya itu. "Maaf Di.. Abang hanya syok. Sebab Abang nggak merasa mengajakmu."


"Lalu jika kita benar melakukannya.. lantas apa semua salah??? Kita suami istri Bang. Tidak hanya Nasha saja yang ingin Abang manjakan" jawab Diani memukul telak batin Bang Panji.


"Sudahlah Di.. bukan saatnya membahas hubungan suami istri saat ini"


-_-_-_-


"Siap.. A1 komandan"


"Maka dari itu, saya nggak mau Nasha dekat dengan Panji lagi. Pergi tiba-tiba.. pasti kembali juga tiba-tiba. Apa kamu meyakini sesuatu?" Tanya Pak Khobar.


"Ijin Dan.. ini hanya analisa awal. Surat cerai dari pengadilan agama serta ikrar talak itu, istri kedua Panji yang mengirimnya" jawab Bang Gesang. "Mohon ijin.. dari email yang saya teliti dan saya bobol.. ada satu perbedaan tanda dari email tersebut.. 'prajurit_muda@tmail.com' dan 'prajurit_muda.@tmail.com'. Ada titik di belakang nama email tersebut. Dengan kata lain.. jelas Panji tidak pernah mengirimnya."


"Wira.. jika kamu nanti adalah seorang ayah dari anak gadismu.. kamu akan paham mengapa saya ingin mereka berpisah. Saya.. membesarkan Nasha dengan penuh cinta, mendidiknya dengan kasih sayang penuh. Saya tau Nasha salah sudah mengijinkan Panji menikah, tapi jika saat itu Panji punya ketegasan.. semua tidak akan terjadi, dari sini kita pahami.. Panji masih sangat menyayangi Diani. Surat talak itu sudah memukul batin Nasha entah dari Panji atau bukan.. masalahnya, saat Nasha sudah mampu melepaskan sedihnya dan bangkit dari keterpurukannya.. Panji kembali lagi. Apa tidak keterlaluan. Kertas putih mulus yang kamu remas, tidak akan bisa kembali halus bagaimana pun kerasnya kamu berusaha meluruskan" kata Pak Khobar.


"Siaapp.. paham komandan"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2