
"Saya mohon tolong bantu saya. Saya butuh kekuatan hukum untuk mengasuh kedua anak saya...!!"
"Tapi Pak..!!"
"Tolong Nisa..!! Saya akan mengabulkan apapun yang kamu minta. Kamu mau uang? Rumah? Mobil?......."
"Tidak selalu, harta bisa menyelesaikan segala masalah Pak" jawab Nisa.
"Maaf Nisa, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan mu. Hanya hanya bingung bagaimana caranya agar anak saya tidak terlepas dari saya" jawab jujur Bang Panji.
"Tidak ada satupun keluarga saya di dunia ini. Jika diijinkan.. bolehkah saya menumpang hidup dengan bapak. Setidaknya sampai Bang Revan tidak mau dengan saya lagi" kata Nisa.
"Apa ini artinya kamu mau menikah dengan saya?" Tanya Bang Panji.
"Iya Pak."
***
Nisa mencium punggung tangan Bang Panji dan Bang Panji mengecup kening Nisa. Meskipun pernikahan mereka berlandaskan perjanjian namun tidak sepenuhnya hati Bang Panji menganggapnya demikian.
Dalam hatinya paham pernikahan bukanlah sebuah permainan. "Kuharap ini yang terakhir kalinya. Aku sudah lelah" gumamnya namun masih terdengar oleh Nisa.
Nisa gemetar dan sedikit menjauhi Bang Panji yang kemudian mengusap puncak kepala Nisa untuk menenangkan istrinya itu.
"Kita ke rumah sakit ya..!!"
"Iya Pak."
Bang Panji tersenyum. "Saya bukan majikanmu, kamu boleh mengganti sapaanmu..!!"
...
Diani tidak suka melihat Nisa berjalan membuntuti Bang Panji yang sedang menggendong Revan. "Kenapa bukan kamu yang gendong Revan???"
"Maaf Bu, tadi Bang Revan minta sama bapak" jawab Nisa.
"Kamu nggak perlu jawab apapun. Kamu tidurlah di ranjang itu sama Revan. Saya di sofa" kata Bang Panji pada Nisa.
Diani sudah jauh lebih sehat karena Bang Panji meminta pengobatan yang terbaik, bukan tanpa alasan.. Bang Panji ingin segera menyelesaikan segalanya dengan Diani.
"Kamu pulang saja..!!" Perintah Diani.
"Tidurlah sama Revan..!!" Perintah Bang Panji yang pastinya lebih di dengarkan oleh Nisa.
Aku mengambil ponselku dan duduk di sofa.
POV Bang Panji.
__ADS_1
Aku melihat Nisa berperangai lebih lembut daripada Diani. Jujur aku takut menjalani pernikahan ke tiga ku ini namun aku pasrahkan pada Tuhan bahwa kali ini aku tidak salah.
Sejak tadi, Nisa tidak berani menatapku dan terus menundukan kepala. Aku tak tau mengapa aku jadi sangat takut menyentuhnya saat dia menarik tangan saat aku ingin menggandeng tangannya.
Diani mulai bersungut kesal dan sama sekali tidak mengubah kelakuannya. Dia semakin berusaha menunjukan taring seakan aku tidak mempermasalahkan segala yang pernah terjadi.
Tak lama ada perawat masuk membawa putri kecilku Reiya. Sudah waktunya Diani memberikan ASI tapi Diani menolaknya.
"Pakai susu formula saja bu. ASI saya macet." Alasan Diani yang membuatku sakit hati tapi dalam sakit hatiku tersimpan hikmah. Reiya tidak akan sulit untuk lepas dari ibu kandungnya.
"Heehh Nisa, gendong Reiya dan beri susu botol..!!!" Kata Diani sembari memainkan ponselnya.
Nisa beranjak perlahan untuk bangkit namun aku menahannya dan mengarahkan untuknya agar kembali tidur.
Aku memasukan ponselku kemudian mengambil Reiya dari gendongan perawat. "Biar saya saja." Aku menggendong bayi kecilku kemudian menciumnya." Sama Papa ya sayang. Besok kita pulang sama 'Mama'."
Ku lirik Diani sedikit mengembangkan senyumnya, namun aku tidak peduli.
POV Bang Panji off..
//
"Besok kita pulang..!! Abang sengaja mengundur waktu agar kamu bisa benar-benar istirahat."
"Janji ya Bang, besok pulang..!!" Kata Nasha.
***
Nisa menggendong baby Reiya, Bang Panji menggendong si kecil Revan sedangkan Diani berada di kursi roda dengan di dorong perawat menuju lobby
Saat itu mereka bertemu dengan Nasha dan Bang Gesang.
"Nasha baru selesai perawatan Bro?" Sapa Bang Panji.
"Iya, aku mau Nasha benar-benar sehat." Jawab Bang Gesang sembari mengintip baby mungil dalam gendongan Nisa. "Cantik sekali" kata Bang Gesang dengan senyum berbagai makna.
"Terima kasih Om Wira" Jawab Nisa.
Bang Panji tersenyum mendengarnya. Tau Nasha seakan berkecil hati, Bang Panji pun berdiri di hadapan Nasha. "Kamu pasti akan segera mendapatkannya juga. Percayalah, Wira itu pandai menembak. Peluru nyasar pun masih tepat sasaran" Bang Panji membesarkan hati Nasha.
Mata Nasha berkaca-kaca. Ia menahan sedihnya namun berusaha tersenyum. "Iya Bang, terima kasih"
"Thanks bro"
"Sama-sama" Bang Panji pun meninggalkan tempat.
Mereka semua tak peduli apakah Diani menyapa atau tidak. Begitu pula dengan Nasha yang kini hatinya terasa mati untuk Diani.
__ADS_1
...
Nasha melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Hatinya terasa nyeri mengingat segala perhatian Bang Gesang saat dirinya hamil. Tangisnya kembali terurai, ia memeluk Bang Gesang dengan erat. "Apakah Nasha bisa menjadi seorang ibu?"
"Pasti bisa, dan kamu adalah ibu yang hebat.. ibu terhebat" jawab Bang Gesang menahan perasaan nya sendiri. "Abang janji akan membuatmu secepatnya menjadi seorang ibu" janji Bang Gesang.
***
"Kamu berangkat kerja Bang..!!" Tanya Diani karena Bang Panji tak lagi berpamitan dengannya.
"Hmm.." jawab Bang Panji seakan tak peduli dan melangkah ke dapur menemui Nisa yang pastinya sedang di sibukan urusan rumah tangga.
Bang Panji melihat Nisa sedang menyuapi putranya yang sudah wangi.
Nisa pun menunduk saat Bang Panji melihat ke arahnya. "Anak Papa makan apa? Mama masak apa hari ini" sapa lembut Bang Panji.
"Maem sop ayam Pa" jawab Nisa. "Mau sarapan?" Tanya Nisa memberanikan diri menyapa Bang Panji.
"Iya" jawab Bang Panji meskipun sebenarnya dirinya tidak begitu niat untuk sarapan pagi.
Nisa segera mengambilkan nasi di piring dan mengambilkan lauk serta sayur untuk Bang Panji.
Jika biasanya Bang Panji tak peduli dengan apa yang terjadi, kali ini dirinya merasakan nyamannya memiliki seorang 'istri'.
"Masakanmu enak" puji Bang Panji tanpa banyak bicara.
Nisa pun menunduk menyimpan wajahnya.
~
Bang Panji menciumi putranya. "Papa kerja ya le. Baik-baik sama Mama..!!"
Kemudian Bang Panji berdiri dan berpamitan pada Nisa.
Nisa lumayan bingung dan canggung. Pernikahan mereka hanya sebuah 'perjanjian' namun Bang Panji menyodorkan tangannya seakan mereka adalah suami istri yang sesungguhnya namun Nisa tetap meraihnya. Ia menunduk dan mengecup kening Nisa.
"Hati-hati jaga anak. Kamu cepat sarapan..!!" Pesan Bang Panji.
"Iya Mas." Jawab Nisa.
Senyum Bang Panji mengembang. "Nanti Mas pulang makan siang" sedikit sentuhan di pipi Nisa membuat istrinya itu menunduk tersipu.
.
.
.
__ADS_1
.