Kehormatan

Kehormatan
31. Mencoba misi perdamaian.


__ADS_3

"Abang sudah bilang jangan menyebut nama Nasha lagi dalam hubungan kita. Abang sudah tidak bersama dia lagi"


"Tapi Abang selalu sedih saat menatap wajahnya. Apa Abang masih mencintai dia???" Teriak Diani.


"Sampai kapanpun juga Abang tidak bisa melupakannya, bagaimana pun keadaannya.. Nasha pernah melahirkan anak Abang.. dan perpisahan Abang sama Nasha tidak akan terjadi jika tidak ada sifat tamak mu Diani. Apa salah Nasha sama kamu sampai kamu sejahat itu sama Nasha??"


"Aku tamak??? Aku jahat???? Dia yang jahat.. dia selalu ranking satu, aku rangking dua. Dia sok membayar uang sekolahku karena dia orang kaya. Pria yang kusukai menyukai dia karena wajahnya yang di buat polos. Selalu menjadi pahlawan saat aku ada masalah. Dan terakhir sikap sok nya adalah membiarkanmu menikahiku." Ucap Diani.


"Apa-apaan kamu ini. Kamu yang memintaku menikahi Nasha karena kamu sakit berat. Seharusnya kamu berterima kasih sama Nasha karena dia rela membagi ku untuk kamu juga" bentak Bang Panji.


"Kalau dia wanita yang baik seharusnya dia menolak" kemarahan Diani mempengaruhi emosi Bang Panji.


Bang Panji mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Kenapa?? Abang mau pukul?? Nggak sayang aku lagi?? Nggak ingat anak di dalam perutku????" Ucap Diani menyudutkan Bang Panji. "Dan Abang.. kalau memang Abang sayang sama aku, Abang nggak akan menyentuh dia sampai hamil"


Kening Bang Panji berkerut, sikap Diani jauh berbeda dengan sosok Diani yang dulu. Ia sungguh tidak bisa menerka apakan Diani sungguh wanita yang baik atau ada suatu hal yang membuat Diani jadi seperti itu.


"Kau sudah gilaaaa..!!!!!!!!" Bang Panji keluar dari kamar dan membanting pintu kamar dengan keras.


//


"Ijin Dan, semua sudah beres sesuai request." Kata Prada Iskandar.


"Ya sudah Is, kamu cepat makan dulu di rumah Papa mertua saya. Nanti ada titipan dari istri saya untuk anak-anak di barak. Ada berapa orang bujangan yang tinggal di barak.?" Tanya Bang Gesang.


"Ijin Dan.. barak A sampai E tersisa seratus dua puluh lima orang anggota" jawab Om Iskandar.


"Ya sudah, nanti kamu bilang sama istri saya. Saya nggak tau kenapa istri saya tanya"

__ADS_1


"Siap..!!"


//


"Ini nasi kotak untuk om-om bujangan ya Om. Mohon maaf Abang minta waktunya di sela waktu istirahatnya. Terima kasih banyak atas bantuannya. Besok untuk di sampaikan pada seluruh anggota, tolong hadir dalam acara resepsi pernikahan saya dan Abang"


"Siap ibu, kami pasti datang. Terima kasih banyak kirimannya..!!"


"Sama-sama Om Is" jawab Nasha.


Dari balik dinding ada seulas senyum di bibir Bang Gesang. Istrinya itu memang sangat perhatian dengan siapapun. Jangankan dengan anggota, dengan wanita seperti Diani yang tega mengkhianatinya saja.. Nasha masih berbaik hati, apalagi dengan para anggota di Batalyon.


***


Malam tiba, Bang Gesang sengaja membuat kesibukan hingga hari sudah lewat tengah malam. Setelah merokok, Bang Gesang hanya berkutat di sekitar dapur lalu kembali lagi duduk merokok padahal bibi saja sudah tidur.


"Kenapa kamu belum tidur? Pengantin harus istirahat biar besok nggak sayu" tegur Papa Khobar.


"Ini punya Abang. Sana.. Abang nggak bisa tidur sama laki-laki" kata Bang Petir.


Bang Gesang mengambil bantal yang lain dan membawanya ke sofa ruang tamu tapi kini Bang Bujang yang menyambar bantalnya.


"Ini punyaku dan ini tempatku, cari tempat yang lain..!!" Kata Bang Bujang.


Bang Gesang masih bingung berdiri di tempatnya.


"Kamu mau terus berdiri di sana sampai kapan? Cepat masuk kamar..!!!" Perintah Papa Khobar.


"Kamar mana Pa?" Tanya Bang Gesang dengan bodohnya.

__ADS_1


"Ya kamar Nasha.. masa kamar Mama Gina??? Kamu mau Papa hajar??????" Jawab Papa Khobar.


Refleks Bang Gesang mengangkat kedua tangannya. "Nggak Pa, nggak berani..!!!!" Bang Gesang segera menuju kamar Nasha.


~


POV Bang Gesang.


Perlahan kubuka pintu kamar Nasha. Kamar yang kini terlihat sangat indah dan wangi. Aku melihat Nasha sudah tidur, masih dengan menggunakan kebaya dan membawa pose cantik yang menggoda naluri lelaki ku. Secepatnya aku menutup pintu, ku usap wajahku yang mulai gusar.


"Ya Allah, kenapa perasaanku jadi seperti ini. Dulu.. jangankan yang begini, yang te******g saja bisa ku sikat. Sekarang hanya melihat Nasha tidur, berhijab, memakai pakaian lengkap.. b****i ku sudah bangkit, bedanya.. aku tidak berani menyentuh Nasha" aku membatin dalam hati.


Aku duduk di samping Nasya, ku perhatikan wajah nya yang kalem dalam tidur, tenang dan tanpa pura-pura namun sarat akan rasa lelah yang amat sangat. Di dalam hatiku dulu hanya kasihan padanya, gadis kesayangan Pak Khobar yang sangat santun juga lugu, tapi seiring berjalannya waktu.. rasa itu berubah makna. Aku mencintai Nasha, mencintai putri komandan yang seharusnya aku jaga.


Nasha menggeliat membawa desah dalam tidurnya. Seketika kepalaku terasa pening, aku mengalihkan pandanganku agar tidak terus menatapnya, tapi lain di bibir.. lain juga di hati. Astagaaa.. aku tak kuat lagi memandangi paras wajahnya. Ku tekan lampu di atas nakas agar terlihat temaram.


Aku membuka pakaianku yang sudah terasa berat di badan. Ku rebahkan tubuhku di belakang punggung Nasha. Entah sadar atau tidak, ada rasa penasaran yang membuat pikiranku berkelana di tengah malam buta, jiwa inteligen ku tak bisa ku tahan. Tenang, senyap, kalem, tapi pasti. Ku tarik penutup kebayanya perlahan. Ku selipkan tanganku menyusuri dua bongkah keindahan dada istriku Nasha, aku semakin terjerumus rasa penasaran. Masih kurang ku rasakan semua, ku naikan belahan rok batik milik Nasha. Seketika mataku melotot kemudian segera berpaling. "Ya Tuhan, aku terjebak ulahku sendiri"


Baru aku akan beranjak, Nasha kembali menggeliat sampai tak sengaja dadanya menyentuh wajahku. Perlahan ku remas tubuhku, lelakiku sudah terbawa perasaan. Aku beralih posisi dan menarik pakaian Nasha perlahan. Aku beralih posisi. Hati-hati ku lakukan, ku kecup keningnya, ku kecup bibirnya, ku mengarahkan dirinya agar tidak terganggu dengan misi rahasia ku. Pertama kali bagian tubuhku menyentuhnya. Aku menggigit bibirku menahan suara yang mungkin akan membuat Nasha terbangun. Aku mencoba menekan diri, perlahan....


Tolong jangan bangun sayang, biar Abang check lokasi, belajar menyenangkan mu.. untuk selanjutnya.. kamu hanya akan mengingatku saja.


POV Bang Gesang end.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2