
"Tapi Bang"
Bang Gesang seakan tak peduli. Tangannya mematikan kompor dan membawa Nasha masuk ke dalam kamar.
Nasha pun tak berkutik saat Bang Gesang terlihat sangat menginginkan dirinya. "Bang.. ini nggak boleh."
"Abang tau.. Abang sadar" jawab Bang Gesang. Perlahan tapi pasti, Bang Gesang merebakan Nasha. Ia pun sejenak saling menatap kemudian beralih menindih Nasha.
//
Bang Panji mengecup kening Nisa. Istrinya itu sempat ketakutan dan memberontak saat ia menyentuh nya.
POV Bang Panji.
"Ini Mas Panji dek, suamimu.. jangan takut..!!"
Nisa terisak-isak kuat saat aku membuka pakaiannya. Tubuhnya gemetar hebat. "Nisa perempuan kotor, Nisa perempuan kotooorr..!!"
Berkali-kali kata itu terus terdengar, aku tak tau apa yang pernah terjadi dalam hidup Nisa hingga ada orang yang tega menyakitinya hingga trauma seperti ini.
"Jangan Mas.. Nisa punya harga diri"
Entah kenapa batin ku terasa begitu ngilu dan sangat sakit melihat mu menangis seperti ini dek. Tidak tega, ingin marah dengan masa lalumu yang pahit. "Lihat kesini. Ini benar-benar Mas Panji. Mas suamimu. Satu-satunya pria yang bisa menyentuhmu. Tidak akan kasar sama kamu dek"
"Nisa hanya bisa mengecewakan Mas Panji."
"Apapun tentangmu.. itu masa lalu mu dek. Abang juga punya kepahitan dalam hidup. Percayalah, segalanya tidak pernah salah dan jalani saja apa yang sudah di tetapkan Allah pada kita..!!"
Sekali lagi aku membujuk Nisa dan perlahan.. dia tak takut lagi padaku.
POV Bang Panji end
...
Diani kesal saat malam hari dirinya pulang dan mendapati Nisa sedang tidur pulas di dalam kamar.
"Jangan di bangunkan..!!" Kata Bang Panji melihat Diani yang hendak membangunkan Nisa.
"Siapa yang akan urus anakku??" Ucap ketus Diani.
"Kamu nggak bisa urus anakmu??" Tegur Bang Panji sambil menggendong Reiya sedangkan Revan masih santai menyantap soto ayam buatan Nisa.
"Aku membayarnya untuk kerja. Dia pengasuh, pembantu dan tugas pembantu memang untuk membantuku" Diani semakin berani menunjukkan taringnya di hadapan Bang Panji.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu. Jangan suka merendahkan orang lain. Apa derajatmu setinggi itu?? Kau akan menjadi serendah-rendahnya manusia jika semua keindahan yang kamu miliki terlepas dari hidupmu" kata Bang Panji tak main-main.
"Kau bisa berbuat apa tanpaku Bang, aku ini ibu dari kedua anakmu" ucap Diani dengan segala keangkuhannya.
Bang Panji tersenyum menyeringai. "Aku memang kalah perkara kau ibunya, tapi tidak selamanya kau bisa jadi istriku."
Pintu kamar tengah terbuka. Secepatnya ia menyambar jilbabnya saat melihat ada Bang Panji. Suara Bang Panji membuatnya terbangun.
"Tidur saja kerjamu ya..!! Kemasi barangmu.. kamu saya pecat..!!!!" Bentak Diani tanpa ampun.
"Kembali ke kamarmu..!!" Pinta Bang Panji.
"Aku yang membayarnya..!!!!" Teriak Diani.
"Kau pikir darimana uangmu berasal. Sekarang diamlah dan jangan berdebat lagi..!!!!!!" Nada tinggi Bang Panji seketika menutup mulut Diani dengan rapat.
Diani masuk kamar dan menutup pintunya sekencang mungkin. Bang Panji sampai mengepalkan tangan merasakan kelakuan buruk Diani.
"Ibu Diani marah Mas." Kata Nisa dengan suara lirih.
"Panggil Diani saja. Buat apa kau panggil dia sesopan itu" Bang Panji pun bersungut kesal.
"Mas istirahat saja, biar Reiya sama Nisa"
-_-_-_-_-
Bang Gesang membuatkan segelas susu untuk Nasha. Ada rasa sesal tersendiri dalam hatinya, tapi apa mau di kata.. perasaannya yang begitu lemah membuatnya harus membongkar gudang yang sejatinya belum bisa untuk di buka. Ia menyadari betul kelemahannya dalam iman yang begitu tipis.
"Abang minta maaf..!!"
"Sebegitu tidak tahan nya Bang?" Tegur Nasha.
Bang Gesang mengangguk pasrah. "Iya, Abang minta maaf. Abang yang salah"
"Nasha mau lapor Papa..!!!!" Ancam Nasha.
"Ya nggak begitu juga donk sayang..!! Ini urusan dalam kamar. Masa Papa juga ikut terlibat" bujuk Bang Gesang mendinginkan hati Nasha.
"Abang sudah paksa Nasha. Dosa Bang..!!"
"Laah.. kamu nya juga nggak nolak di ajak dosa bareng khan yank..!!" Kata Bang Gesang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Nasha.
\=\=\=
__ADS_1
Nasha mengusap pipi bayi mungil yang sedang berada dalam gendongan seorang istri anggota. Ia menahan kuat tangisnya yang hampir pecah.
Dari kejauhan Bang Gesang hanya bisa mengusap dadanya. Ia bukan tak merasakan hal yang sama, malah ia pun memendam rasa sakit yang begitu dalam. Sudah satu bulan ini dirinya mengusahakan segala cara agar Nasha bisa segera hamil kembali namun tanda-tanda kehamilan sang istri belum juga terlihat.
Batinnya semakin sakit saat menyadari tubuh Nasha semakin terasa ringan, bobotnya turun drastis, turun lima kilogram,sejak kejadian itu. Nasha menghindari keluar rumah dan lebih banyak mengurung diri.
"Lihat apa black..!!" Sapa Bang Petir.
"Saya sudah mengusahakan berbagai cara Bang, tapi Nasha belum juga hamil"
"Sabar lah, Nasha juga baru sehat. Hamil juga butuh waktu"
"Yang penting Nasha sehat dulu, dia kurus sekali black"
"Bebannya berat Bang, butuh waktu untuk memulihkan keadaan fisik dan mentalnya" imbuh Bang Panji.
Tiba-tiba Bang Gesang terhuyung dan bersandar pada dinding Madjid Batalyon. Kakinya lemas, tubuhnya pun terasa lebih hangat dari suhu normal biasa.
"Black, wajahmu pucat sekali? Kamu sakit??" Bang Panji sampai kaget melihat perubahan ekspresi wajah Bang Gesang.
"Aku nggak apa-apa" jawab Bang Gesang. "Tolong jangan bilang apapun sama Nasha..!!"
"Ya sudah ayo.. kita ke unit kesehatan saja..!!" Ajak Bang Panji.
//
Bang Gesang sudah di tangani oleh beberapa anggota kesehatan. Bang Panji menghubungi Nisa perkara pertengkarannya tadi pagi.
"Bagaimana Diani? Apa dia jadi pergi menemui Nena??"
"Jadi mas"
"Pergi sendiri?" Tanya Bang Panji.
"Iya Mas, setelah Mas pergi.. mbak Diani langsung pergi" jawab Nisa.
Bang Panji terdiam sejenak. "Nanti mas pulang cepat..!!" Kata Bang Panji. "Insya Allah Mas perjelas semuanya hari ini juga. Sudah waktunya Diani paham posisinya..!!"
.
.
.
__ADS_1
.