Kehormatan

Kehormatan
51. Perasaan tak tertebak.


__ADS_3

"Abang mau menarik perhatian siapa? Kenapa pakai kacamata?"


"Istri Abang sing paling ayu dewe.. coba lihat itu. Sepanjang jalan hanya ada laki-laki. Demi siapa Abang minta jalan ini steril dari makhluk bernama wanita?" Jawab Bang Gesang.


"Oohh.. ya sudah kalau begitu." Ekspresi Nasha hanya datar saja menanggapi ketakutan Bang Gesang, namun Bang Gesang sempat melihat senyum di wajah Nasha.


Alhamdulillah.. nggak marah lagi. Bagaimana pun caranya, aku harus buat mood Nasha bagus setiap harinya.


//


"Darimana kamu??" Bang Panji menghadang langkah Diani yang hendak masuk rumah sore hari itu. Sejak pagi istri Panji pergi dari rumah dan baru kembali sore hari.


"Jalan-jalan"


"Siapa Nena??" Tanya Bang Panji.


"Maksud Abang?" Diani cukup terkejut mendengar Panji menanyakan soal Nena padanya.


"Kamu jangan pura-pura bodoh. Abang tau kamu sering menemui Nena"


"Hanya kenalan" jawab Diani seakan menutup diri kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.


Bang Panji menyusul kemudian mencekal tangan Diani. "Katakan atau kau rasakan akibatnya..!!!!!!" Ancam Bang Panji tidak main-main dengan ucapan nya. Matanya pun tajam penuh penekanan. "Kalau kamu terus berulah.. Kamu hanya tinggal menunggu waktu..!!"


"Kenapa? Kamu mau menikah lagi Bang?" Tanya Diani dengan berani karena paham suaminya tidak akan mendua karena kisahnya yang telah lalu sudah cukup membuat trauma mendalam.


"Kamu pikir Abang tidak berani? Apa yang patut di pertahankan dari seorang Diani?? Kehilangan Nasha adalah kesakitan dan penyesalan mendalam, tapi tidak dengan kamu. Kalau kamu mau hilang.. hilanglah sudah, asal jangan bawa anak-anakku pergi..!!"


"Kamu melepasku, berarti kamu siap kehilangan anakmu Bang" Jawab Diani.


Bang Panji tersenyum menyeringai. "Ibu yang sakit mental tidak akan mendapat hak asuh anak. Kamu pahami itu Diani..!!"


Mendengar itu semua. Tubuh Diani gemetar, tiba-tiba badannya memanas dalam kecemasan.


//


"Haah?"


"Gendong Bang.. gendong. Nasha males jalan" pinta Nasha dengan segala tingkah manjanya belakangan ini.


"Iyaa sabar. Abang turun dulu"


"Sama Abang aja ya dek. Wira baru lepas infus. Abang takut kamu nggelinding kalau Wira nggak kuat angkat" kata Bang Petir.


"Sudah Bang, biar saya saja. Saya nggak lemas lagi kok" jawab Bang Gesang karena paham Nasha hanya ingin bermanja dengannya.


Bang Petir pun pasrah mendengar permintaan sang adik.


"Bang..!!"

__ADS_1


"Dalem sayang" Bang gesang melebarkan senyumnya menanggapi Nasha.


"Tidur di mess yuk..!!" Ajak Nasha.


"Mess perwira??" Tanya Bang Gesang.


"Baraknya Om Taja" kata Nasha.


"Yo nggak boleh to yooo.. kalau kita tidur disana, kita harus menyingkirkan tiga puluh bujangan yang sedang istirahat"


"Oohh" Nasha pun terdiam tapi wajahnya terlihat sedih.


Setiap kali Nasha seperti ini, hatinya selalu lemah dan tidak tega. "Kalau di mess perwira boleh. Karena anggota pakai kamar masing-masing. Abang yang tanggung jawab. Tapi kalau di barak.. kasihan anggota yang lain meskipun Abang bisa melakukannya"


"Ya sudah, ayo..!!" Ajak Nasha.


"Ke Mess perwira?"


"Ke barak Taja"


"Untuk apa sayang? Nggak boleh" tolak Bang Gesang sekali lagi. Tapi lagi-lagi saat melihat wajah Nasha, hatinya kembali terombang ambing.


Bang Gesang mendudukkan Nasha di sofa setelah Bang Petir membuka pintu rumah mereka. "Ya sudah, Abang hubungi Iskandar dulu..!!"


...


"Mohon maaf saya buat acara dadakan. Terus terang saya mengganggu jatah istirahat kalian karena.. istri saya ngidam pengen merasakan tidur di barak"


"Siap.. tidak apa-apa Dan. Ijin.. untuk selanjutnya kalau ibu butuh bantuan, silakan katakan saja. Selama kami mampu, pasti akan kami bantu." Kata Prada Beno.


"Terima kasih ya"


"Hoooee Letnan.. pelanggaran kau ya..!!" Tegur Bang Arko.


"Siap salah Abang. Ini bukan acara besar. Ijin.. istri ngidam pengen ngincip rasanya tidur di barak" jawab Bang Gesang yang memang belum sempat lapor pada atasan karena membuat acara di barak.


"Naahh.. maka dari itu, surprise.... Saya panggilkan penyanyi dangdut khusus untuk menghibur kita semuaa..!!!!"


Seketika mata Bang Gesang melotot, tubuh yang awalnya tenang mendadak gemetar, perut terasa perlahan melilit naik turun.


Dengan di antar Bang Bujang.. penyanyi wanita tersebut menyapa semuanya.


"Haiii.. salam kenal, saya Susi"


Bang Gesang menoleh ke sekitar, tak ada tanda Nasha terbangun dari tidurnya. Ia pun tersenyum tampan dan menyapa. "Hai juga, kenalkan.. saya Letnan Jaler"


"Waahh.. Pak Letnan yang punya acara ya?"


"Iya nih, Susi mau nyanyi apa?" Tanya Bang Gesang mulai 'kambuh'.

__ADS_1


Tak lama Bang Panji muncul membawa wajah suntuk, namun saat melihat banyak rekannya...wajah malasnya seakan hilang.


"Black.. jangan mulai dah. Awas ya kalau sampai kumat lagi" Bang Panji setengah mengingatkan dan mengancam.


"Amaan.. Nasha tidur" jawab Bang Gesang.


:


Segala peralatan telah disiapkan. Bang Gesang sibuk mengobrol dengan rekan dan sesekali menanggapi Susi yang seakan mencari perhatian nya.


"Broo.. bisa nggak kalau buat musiknya nggak disini. Takut istirahat Nyonyaku terganggu" pinta Bang Gesang sedikit melirik Susi.


"Pak Jaler sudah punya istri?" Kata 'Nyonyaku' agaknya sedikit mengganggu alam bawah sadar dan batin Susi.


"Memangnya kenapa? Mau jadi istri saya?" Goda Bang Gesang.


Rekannya pun sampai ternganga mendengar dan melihat fenomena langka pasalnya seorang Gesang paling anti menggoda nakal seorang wanita apalagi sampai bertingkah genit dan mata keranjang seperti itu.


"Mau lah Pak. Siapa yang tidak mau sama pria gagah berpangkat seperti bapak" jawab Susi terus terang.


"Istrinya galak. Sama saya saja yang nganggur" sambar Bang Panji tak kalah nakal. Pertengkaran dengan Diani tadi membuatnya sesekali ingin merefresh pikiran.


"Nggak usah berebut. Susi mau kok di gilir cinta bapak berdua" entah jawab Susi itu sungguh-sungguh atau hanya sekedar candaan. Keduanya tidak peka dan tidak peduli karena sedang galau dan cemas dengan pikiran masing-masing.


"Kami pantang berebut, oke lah.. di gilir saja" kata Bang Panji menimpali 'candaan' tersebut.


Bang Gesang merokok mencemaskan Nasha setiap saat.


"Ijin.. sound sistem sudah aman Dan"


"Ayooo nyanyiiii..!!!!" Bang Arko terburu-buru berlari diikuti Bang Bujang untuk berebut mic di atas meja.


Keduanya sangat percaya diri meskipun suara mereka hanya tingkat jam*an.


"Saya duluan Bang...!!" Pinta Bang Bujang.


"Junior ngalah" kata Bang Arko.


"Heehh.. itu mic ada tiga. Jangan berebut..!!" Bang Gesang mengingatkan.


Susi duduk mendekati Bang Gesang. "Bapak mau nggak kalau kita nyanyi di privat room. Kamar bapak yang mana?" Bisik Susi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2