Kehormatan

Kehormatan
53. Dendam tak berakal.


__ADS_3

Terdengar suara yang sangat menyakitkan. Bang Panji memijat tengkuk sahabatnya agar terasa lebih lega. "Kalau kau tidak macam-macam, tidak akan terjadi seperti ini.


"Bisakah kau berhenti mengomel, suaramu itu membuatku semakin mual..!!" Gerutu Bang Gesang.


"Naah itu poin pentingnya, seharusnya kau diam saja dan jangan banyak bicara. Prihatin lah sedikit sama Wira, kau ini sahabatnya atau bukan. Dia sudah terkena kutuk sumpahnya Nasha karena terlalu tamak melihat perempuan cantik........" Cerocos Bang Bujang.


"Terutama kau harus diam. Suaramu........." Tenggorokan Bang Gesang rasanya tercekat. "Hhhkkkkk.. aku benci dengar suaramuuu..!!!"


"Kenapa??? Kau tau.. anak-anak di asrama saja menungguku untuk bernyanyi." Ucap Bang bujang dengan sombongnya.


"Nyanyi Bin*ang ke*il saja kau banggakan" Bang Gesang sudah terpancing emosi namun kemudian ia mulai muntah lagi.


Bang Panji menepak bahu Bang Gesang. "Jangan banyak bicara..!! Kamu mau muntah terus??"


Saat sedang berdebat, ponsel Bang Panji berdering. Bang Panji sempat melihat nama pemanggil nya, namun setelah melihat nama Diani.. ia memasukan kembali ponsel ke dalam sakunya tapi lagi-lagi nama Diani yang muncul hingga ada pesan singkat disana.


'Pak.. ini Nisa. Maaf Nisa menghubungi bapak karena ada seorang ibu membuat keributan di rumah dan Bu Diani menyuruh saya keluar rumah dan menghubungi bapak'


"Ada apa?" Tanya Bang Gesang.


"Di rumahku ada masalah"


"Ayo kita kesana..!!" Ajak Bang Gesang.


"Kau pulanglah dan jaga Nasha..!!"


"Aahh kelamaan..!!" Bang Gesang segera berdiri dan berjalan menghampiri Nasha yang masih terkejut dengan berita tentang Diani. Bang Gesang mengulurkan tangannya. "Ayo pulang..!! Sudah cukup main di barak"

__ADS_1


Nasha menyambut tangan Bang Gesang. "Tapi Susi belum pulang"


"Ya Tuhanku.. Abang nggak urus Susi. Jajang yang akan pulangkan Susi. Dia yang undang.. dia juga yang pulangkan" kata Bang Gesang. "Sudah ayo pulang, tidur sama Abang" bujuknya karena Bang Panji sudah mendahului untuk melangkah pulang ke rumah.


//


"Kau memang bodoh Diani. Tante sudah bilang, jangan pernah pakai rasa. Tugasmu hanya perlu menghancurkan seluruh keturunan Giras..!!"


"Tapi saya sungguh mencintai Bang Panji tanteee..!!" Kata Diani.


"Cinta hanya semu..!!!! Kamu saya ambil dari jalanan dan saya rawat agar bisa membalaska seluruh dendam saya karena Giras tidak mau menikahi saya" teriak Oma Nena menekan punggung Diani dengan tongkat penyangga di tangannya.


"Saya tidak sanggup lagi harus bersikap seperti itu. Dulu Tante meminta saya untuk memisahkan Bang Panji dari Nasha. Saya juga sudah menurut untuk memberikan obat agar bayi Nasha tidak bisa bertahan."


"Astagfirullah.. Diani" Tepat saat itu Bang Panji sudah tiba di rumah. Amarahnya seketika memuncak namun disana, telinga Nasha tak luput dari pengakuan Diani. Langkahnya terhenti nafasnya terasa sesak.


Diani terkejut sampai kebingungan memposisikan diri.


"Dek.." Bang Gesang mencoba membujuk Nasha meskipun tubuhnya sendiri tidak begitu stabil.


Nasha menepis tangan Bang Gesang.


"Kamu pulanglah bersama Gesang, biar Abang yang selesaikan masalah ini. Pinta Bang Panji melarang Nasha untuk mendekat.


"Nggak Bang, ini soal anakku. Anakku yang tidak pernah bisa kupeluk karena Diani..!!!" Nasha mulai histeris melihat Diani duduk terpaku di lantai.


"Wira.. bawa istrimu pergi..!! Percayakan semua padaku. Jaga kestabilan emosinya..!!"

__ADS_1


Bang Gesang membujuk Nasha namun Nasha menolaknya.


"Diani.. jika kau membenciku tak akan menjadi masalah buatku, tapi kau membunuh bayiku. Apa salahnya padamu? Dia bahkan belum melihat dunia, sedangkan saat itu kamu juga sedang mengandung buah hatimu dari Bang Panji.. kamu seorang ibu, dimana perasaanmuuu?????" Nasha begitu histeris dan Bang Gesang memeluknya.


"Kau lihat itu?? Dalam keadaan terpuruk ku, tak ada yang memeluk dan menenangkan diriku. Tapi saat kau berada dalam titik terendah mu, selalu ada banyak pria yang melindungi mu. Sungguh aku tak tau apa yang membuat mereka tergila-gila padamu" kata Diani yang kini menunjukkan sikap buruknya di hadapan semua orang.


"Karena Nasha memang pantas di cintai..!!" Bang Gesang terbawa murka melihat kelakuan Diani. Apalagi saat ini Nasha telah menjadi istrinya, sudah barang tentu ia akan membela sang istri.


Diani tersenyum menyeringai. "Dulu, saat bersamaku pun.. Bang Panji lebih banyak memikirkan Nasha. Saat kami pergi pacaran.. jika Nasha tidak ikut, Bang Panji selalu memintanya untuk ikut dengan alasan tidak baik hanya berduaan."


"Apa Abang salah jika mengamankan harga diri kita berdua. Saat Abang belum lulus dari pendidikan, Abang baru saja menjalani ikatan dinas. Apakah kamu tidak paham bahayanya laki-laki dan perempuan bersama"


"Kamu hanya mencari alasan Bang, jika saat itu aku hamil.. bukankah tidak menjadi masalah jika Abang benar-benar mencintaiku???" Kata Diani dengan teriakan yang melengking.


Oma Nena tertawa lepas, tawanya sungguh sangat menakutkan. "Kalian yang di.pikirkan hanya cinta. Cinta tidak akan membawa bahagia. Apalagi kita harus percaya dengan makhluk bernama pria. Dia hanya akan datang untuk menikmati tubuh kita dan akan meninggalkan kita seperti sampah. Bahkan saat dia sudah menitipkan benih.. dia akan pergi mencari kesenangan yang lain lagi. Dimana ada yang lebih menarik hati.. kau akan di tinggalkan. Ucap Oma Nena mendoktrin pikiran Diani. "Kau lihat, saat kau sakit.. kekasihmu tidak teguh mencintai mu dan malah menikahi wanita lain.. dan jika sahabatmu memang baik, dia tidak akan mau memiliki anak dari pria yang kau cintai.


Bang Panji meradang.. namun Bang Gesang pun sudah terbakar emosi. "Tuhan memberi kita manusia.. otak untuk berpikir, dan hati untuk merasa. Jika kita manusia tidak dapat menggunakan pemberianNya.. mengapa saat malaikat bertanya 'kau ingin jadi apa' sebanyak tujuh kali tidak kau pilih saja ingin menjadi binatang" ucap Bang Gesang tajam menusuk. "Kau bau tanah.. hampir masuk ke liang lahat" Bang Gesang yang jengkel langsung menendang tongkat penyangga Oma Nena hingga terjatuh duduk di samping Diani.


"Kauuuu.. kurang ajar sekali kau memperlakukan aku seperti itu..!!!"


"Kembalikan anakku..!!" Pinta Nasha, istri Lettu Wira itu sudah berurai tangis.


"Kematian anak Panji belum cukup untuk membayar sakit hatiku pada keluarga Giras." Kata Oma Nena.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2