Kehormatan

Kehormatan
42. Kuat iman.


__ADS_3

Bang Gesang membanting Bang Arko namun masih tetap dengan teknik dan aturan yang terkontrol.


"Waaaahh.. Om Wira gagah sekali" Mbak Lela begitu puasnya melihat Bang Gesang membanting suaminya.


"Maa.. aku ini suamimu lho. Badanku sakit semua nih..!!" Protes Bang Arko saat tawa sang istri begitu membahana nya membanggakan pria lain.


"Aduuuhh.. sakit ya pa. Maaf, anak Papa cuma pengen lihat papanya di lapangan" kata Mbak Lela menghampiri suaminya.


Bang Arko pun dengan manja memeluk istrinya.


"Ututuuuu.. Papa mau apa?" Tanya Mbak Lela mengusap punggung Bang Arko layaknya seorang ibu pada anaknya.


"Mau martabak anget" jawab manja Bang Arko.


Seketika mata Bang Gesang melotot melihat ulah manja seniornya yang bahkan menjabat sebagai Wadan Batalyon. "Laahh.. Abaang????"


Bang Arko hanya menjulurkan lidah namun tetap bersikap manja pada sang istri.


"Bang.." sapa Nasha menyadarkan Bang Gesang.


Bang Gesang pun menoleh dan melihat Nasha duduk dengan pose yang cantik. "Kenapa yank? Mau repling sekarang?" Tanya Bang Gesang.


"Repling di rumah aja deh. Mau nggak?" Nasha tersenyum tipis namun cukup menggoda hasrat Bang Gesang.


"Bener nih?"


Nasha mengangguk pasti.


"Ehmm.. mau pisang goreng coklat keju nggak?" Bisik Bang Gesang.


"Iyaa.. mau" jawab Nasha.


Bang Gesang tersenyum nakal penuh arti. "Mohon ijin Wadan dan ibu, saya pamite mendahului. Istri kurang enak badan" pamit Bang Gesang saat itu.


"Alasan aja kamu. Yang nggak enak itu istrimu apa kamu? Bagian mana yang nggak enak??" Ledek Bang Arko.


"Ijin Abang, nggak enak juga sama istri. Ada masalah yang harus di luruskan" jawab Bang Gesang setengah berbisik.


"Letnan sableng. Ya wes sana..!!" Bang Arko pun mengijinkan Bang Gesang untuk pulang lebih dulu.

__ADS_1


"Siaap..!!" Terima kasih Abang"


...


"Nasha takut Bang"


"Abang ngerti.. Abang juga punya perasaan dek..!!" Janji Bang Gesang. Begitu sayangnya Bang Gesang pada Nasha, ia lebih memilih mengalah demi Nasha dan calon buah hati mereka.


"Tapi Bang......"


"Ada saatnya kita mengalah dengan keadaan, masih banyak waktu untuk kita berdua. Abang punya seribu cara melepaskannya.. kamu tidak perlu pikirkan Abang sayang.. Nyonyaku senang.. Abang pun senang" jawab Bang Gesang kemudian turun perlahan dan melakukan 'tugasnya' sebagai seorang suami.


:


Bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek di sore hari, Bang Gesang memejamkan matanya, bibirnya menghembuskan asap rokok tak tentu arah. Senyum nya mengurai kelegaan.


"Sendirian Bang?" Sapa Diani dari bingkai pintu dapur rumahnya membawa perutnya yang sudah membesar menggunakan dress yang super pendek dan membentuk lekuk tubuh.


"Eehh Diani.. mana Panji?" Jawab Bang Gesang berbasa-basi, ia salah tingkah bingung sendiri sebab Diani mengenakan pakaian yang bisa di bilang kurang pantas.


"Bang Panji masih di Batalyon. Abang sendirian saja?"


"Abang kenapa? Nggak pernah lihat seksinya perempuan hamil ya?" Senyum Diani terlihat nakal tapi saat Diani mulai mendekat, sosok Nasha muncul di belakang Bang Gesang.


"Merokoknya sudah Pa?" Nasha memeluk Bang Gesang dari belakang.


"Sebentar lagi" jawab Bang Gesang jujur karena memang masih ada rokok terselip di sela jarinya. Ucap syukur Bang Gesang membatin karena dirinya hampir mati gaya mengoreksi diri.


Langkah Diani terhenti, ia menyambar handuk di hadapannya dengan santai.


"Hai Di.. sedang apa disini?" Tanya Nasha lembut.


"Oohh.. aku mau mandi, ini mau as mbil handuk" jawab Diani dengan ekspresi tak terlukiskan.


Nasha tersenyum saja mendengarnya.


"Kamu sendiri kenapa?" Diani balik bertanya, sekilas terdengar bernada tak suka.


"Anakku nggak bisa kalau nggak di peluk ayahnya, maklum Di.. Mamanya juga minta manja sama Papa" Nasha membalas seorang Diani dengan lembutnya.

__ADS_1


"Duuuhh.. kalau Mamanya manja begitu, pasti Papanya repot sekali ya karena mama nggak mandiri."


Bang Gesang pun memiliki alasan kuat untuk tidak berada di sana. Ia segera mengangkat Nasha. "Gantian Papa lah yang di manja, masa Mamanya terus" sengaja Bang Gesang mengecup sela leher Nasha di hadapan Diani.


"Iiihh Abaaang" refleks Nasha merespon perlakuan Bang Gesang.


~


Baru kali ini Bang Gesang kelabakan menenangkan sang istri yang tengah melakukan gerakan tutup mulut. Nasha benar-benar cemberut menekuk wajahnya di hadapan Bang Gesang.


"Dek.. sayang, bicara lah sama Abang"


"Kenapa Abang nggak masuk kalau tau sahabat Nasha ada di sana?" Tanya Nasha.


Bang Gesang terpaku sesaat mendengar Nasha masih menyebut kata sahabat padahal ia tau selama ini Diani tak pernah bersikap baik pada sang istri. "Bagaimana kalau dia berniat buruk?"


Bibir Nasha pun sejenak terkunci mendengar kata-kata Bang Gesang. Sebagai seorang wanita yang pernah dekat dengan Diani, ia pun cukup tau bagaimana sifat Diani. Memang sahabatnya itu lebih mendominasi dan lebih berani dalam hal apapun tapi soal laki-laki, ia masih ragu jika Diani mampu melakukan hal sekeji itu padanya.


"Kamu tidak percaya dia berniat menggoda suamimu?" Bang Gesang seakan dapat menerka jalan pikiran Nasha.


"Jika memang dia berniat menggoda, kenapa Abang nggak menghindar dan langsung masuk ke dalam rumah??" Nasha sangat kesal mendengar jawaban Bang Gesang yang terdengar hanya sekedar beralasan.


"Dek, Abang tidak ingin mempengaruhi jalan pikiran mu. Tolong lah kamu membuka hatimu untuk bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang kamu kira sahabat baikmu itu tidak sebaik yang kamu bayangkan. Kamu sudah tau, kenapa kamu pura-pura tidak tau?" Mata Bang Gesang penuh ketegasan membidik, menatap mata Nasha. "Penolakan perasaanmu akan mempertaruhkan hubungan kita sebagai suami istri. Jika dasar percaya di hatimu sangat minim, maka rumah tangga kita akan goyah. Kita menikah bukan hanya untuk satu atau dua hari saja. Bagaimana kita akan melewati semua jika kita tidak saling percaya."


Nasha menarik nafas dalam-dalam dan menguatkan hatinya.


"Seribu wanita seperti Diani, tidak akan pernah menggoyahkan perasaan Abang sama kamu. Jujur mata Abang tidak sanggup menepis tentang keindahan makhluk Allah yang bernama wanita, tapi cukup Nasha saja.. bagian dari keindahan itu yang sungguh ingin Abang miliki seutuhnya karena hati ini hanya menginginkan seorang Nasha."


Sebersit senyum tersungging dari bibir Nasha. "Panjang sekali kata-kata Lettu Wira ini"


"Lah kamu nggak mau dengar. Tiga tahun Abang hampir gila naksir sama kamu. Kamu kira gampang jadi Abang? Tahan rindu, tahan cemburu, sakit sendiri cuma gara-gara Nasha." Ucap Bang Gesang membuang sikap kaku dan dinginnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2