
"Ijin Abang"
"Apa nih? Roman-romannya mau ngajak gelud"
"Siap.. tidak Bang. Saya mau ijin minta makan di rumah Abang?" Jawab Bang Gesang.
Untuk sejenak Bang Arko terbelalak tapi kemudian senyumnya merekah. "Rasakan.. itulah hukuman untuk keusilanmu selama ini. Anakmu balas dendam" kata Bang Arko kemudian menghubungi istrinya. "Maa.. hari ini masak apa di rumah?"
~
Tak hentinya Mbak Lela Arko tertawa, senang sekali rasanya melihat ekspresi wajah Om Wira yang tertekan dan cemas setiap menuruti permintaan sang istri. "Jangan begitu lah Om ekspresi nya. Demi anak"
"Siap mbak, aman.. saya nggak apa-apa kok" jawab Bang Gesang sambil menerima makan siang dalam meal box.
"Itu ayam bumbu Bali sama tumis kangkung. Mudah-mudahan bumil suka ya..!!" Kata Mbak Lela.
"Terima kasih banyak mbak. Maaf merepotkan."
"Saya senang kok Om" jawab Mbak Lela.
...
Bang Gesang sungguh sangat bahagia melihat Nasha banyak makan.
Tak lama pintu ruangan Bang Gesang terbuka dengan paksa.
"Black.. ada Lintar tuh" Bang Kisar mengagetkan Nasha
"Heeh Sar..!!!" Bang Gesang melirik memberi kode mata agar Bang Kisar berhenti bicara.
"Lintar? Siapa Lintar?"
"Mantan Wira" kata Bang Bekisar.
"Teman Abang" jawab Bang Gesang.
Seketika Nasha meletakan nasinya, memasang wajah cemberut dengan wajah mendung meremang merah. "Nasha mau pulang Bang, Nasha capek."
Nasha berdiri lalu berjalan meninggalkan Bang Gesang dan Bang Kisar.
__ADS_1
"Moncongmu memang minta di tabrak meriam. Kalau Nasha ngambek begini repot urusannya..!!" Kesal sekali Bang Gesang melihat tampang Bang Kisar.
"Yank.. dengar Abang dulu lah. Lintar hanya teman Abang saja" Bang Gesang berjalan mengikuti langkah Nasha.
...
Nasha langsung melompat tertelungkup di atas ranjang.
"Allahu Akbar.. anak ku..!!" Jantung Bang Gesang seakan hampir melompat melihat Nasha menangis kesal. "Sayang.. dek.........."
"Nasha nggak suka Abang dekat sama perempuan..!!!!!" Pekik Nasha.
Sejenak Bang Gesang tertegun. Tak biasanya Nasha bersikap seperti ini. "Kapan Abang pernah dekat sama perempuan? Selama sama kamu apa kamu pernah lihat Abang dekat sama perempuan lain?" Perlahan Bang Gesang duduk di samping Nasha dan membalikan tubuh istrinya perlahan. "Kalau marah jangan lompat lagi, kasihan si dedek"
Nasha memukuli Bang Gesang meluapkan kesalnya dan Bang Gesang tanpa perlawanan menerima kemarahan sang istri yang sedang cemburu padahal sudah jelas Nasha pun belum tau siapa Lintar.
"Dia siapa????? Benar mantan Abang atau bukan??" Nasha masih begitu terbawa emosi.
"Lintar adik perempuannya Panji. Kamu nggak tau??" Tanya Bang Gesang.
Nasha menggeleng bingung, mungkin karena pernikahannya dengan Bang Panji tidak bertahan lama, sehingga dirinya tidak banyak tau tentang keluarga inti Bang Panji apalagi kebersamaan mereka harus terbagi dengan Diani.
Nasha menyadari, dalam hubungan mereka jelas Bang Gesang lebih banyak mengalah karena menerima dirinya yang notabene adalah mantan istri dari sahabat sendiri, tapi Nasha juga tidak sanggup menolak rasa kesal akan hadirnya wanita dari masa lalu Bang Gesang.
"Kenapa masih cemberut aja. Masih nggak percaya sama Abang?" Tanya Bang Gesang.
"Musyrik kalau percaya sama Abang" jawab Nasha ketus.
"Benar-benar buat gelisah saja. Kamu minta di buat tenang macam apa, hmmm??" Dengan lembutnya, Bang Gesang beralih, beringsut mendekap Nasha. "Ayah kangen dedek Ma...!!"
:
Bang Gesang membuang nafas lega melihat Nasha tertidur, tapi ada seulas senyum dari wajah tampan Bang Gesang.
"Abang jangan lirik perempuan lain ya..!!" Nasha mengigau dalam tidurnya, tapi suara itu masih jelas terdengar.
"Menggemaskan sekali kalau bumil pengen di manja. Mana mungkin Abang melirik perempuan lain sedangkan yang disini saja sudah segalanya buat Abang"
-_-_-_-
__ADS_1
Bang Panji melihat makanan di meja masih utuh tak tersentuh. Tadi sesaat sebelum masuk ke dalam rumah, ia melihat putranya di suapi oleh tetangga yang lain.
Kemana Diani? Kenapa Revan sampai di asuh tetangga??.
Bang Panji mencari Diani kesana kemari tapi dirinya tidak mendapatkan istrinya dimana pun.
"Di....!!!" Bang Panji terus mencari Diani.
Tak lama Diani masuk ke dalam rumah dan membawa seorang perempuan muda.
"Nanti kamu tidur di kamar belakang ya. Di tengah kamar Revan" kata Diani pada perempuan muda tersebut.
"Baik Bu, saya ngerti"
~
"Kamu bawa perempuan lain ke rumah ini tanpa sepengetahuan Abang?? Abang nggak nyaman ada perempuan lain di rumah ini Di. Kalaupun kamu ingin pengasuh untuk Revan.. kenapa nggak mencari wanita yang lebih berpengalaman dan setengah baya..!!" Tegur Bang Panji.
"Mau muda atau tua, asal Abang tidak ada rasa.. maka tidak ada masalah Bang. Dulu kita pernah satu rumah bersama Nasha, semua tidak masalah.. karena kamu hanya ingin menyentuh Nasha daripada aku" jawab Diani.
"Okeeee.. terserah kamu mau berpikir apa. Kalau kamu selalu merasa tersisih daripada Nasha, itu juga terserah kamu. Hiduplah dengan cara berpikir mu sendiri. Abang muak dengan seluruh tingkahmu..!!" Bentak Bang Panji.
...
Adzan Maghrib berkumandang, sore ini Bang Gesang memilih sholat di masjid Batalyon karena pengajian setiap malam Jum'at. Saat keluar dari teras, ia melihat Bang Panji pun keluar dari rumah.
"Sepi amat rumahmu, Revan dimana?" Sengaja Bang Gesang membesarkan hatinya menyapa Bang Panji lebih dulu.
"Lagi sama Nisa"
Bang Gesang mengerutkan keningnya. "Siapa Nisa?" Tanya Bang Gesang.
"Pengasuh nya Revan" jawab Bang Panji dengan malas.
.
.
.
__ADS_1
.