Kehormatan

Kehormatan
23. Butuh jawaban.


__ADS_3

Mohon maaf untuk satu minggu kedepan Nara akan sedikit landai untuk up di karenakan kesibukan Nara dalam kegiatan organisasi 🙏🙏.


🌹🌹🌹


"Oya?? Sakit apa? Abang kesana sekarang..!!"


...


Bang Panji mengecup kening Nasha saat dirinya baru tiba di rumah sakit. Di dalam kamar rawat hanya ada Bang Bujang, Bang Gesang dan Nasha.


Di ranjangnya.. Bang Gesang sengaja memejamkan matanya menelan kepedihan yang ia rasakan.


"Kenapa lu??" Sapa Bang Panji melihat sahabatnya terbaring tak berdaya di atas ranjang.


"Lagi 'dapet' " jawab Bang Gesang mengurai senyumnya menyambut Bang Panji.


Bang Panji tersenyum mendengarnya kemudian ia semakin merapat dan memeluk Nasha dari belakang.


Agaknya Nasha tidak begitu suka Bang Panji memanjakan dirinya. Ia melepas pelukan Bang Panji.


"Kenapa dek, memangnya nggak kangen?" Tanya Bang Panji yang sebenarnya sangat merindukan hangatnya bersama Nasha.


Sikap Nasha yang dingin membuat Bang Panji melepas pelukannya. Ia masih berpikir bahwa Nasha hanya sekedar malu mengumbar kemesraan di hadapan Bang Gesang sebab Bang Gesang pun langsung menutup matanya.


...


"Kamu ini sebenarnya kenapa? Sikapmu aneh sekali??" Bang Panji sungguh merasa sikap Nasha banyak berubah, tidak hangat seperti dulu.


Suasana kantin yang ramai menjadi mencekam dan terasa dingin.


"Aneh apa sih Bang, Nasha hanya minta waktu" kata Nasha.


"Apa kamu tidak rindu sedikit pun sama Abang?? Dua tahun lebih kita terpisah. Abang juga sudah mendapatkan hukuman, di sel.. membayar semua kesalahan yang pernah Abang lakukan sama kamu"


"Nasha nggak ingin membicarakan hal ini Bang, Nasha nggak ingin mengingat semua masa lalu yang pernah kita jalani dulu" jawab Nasha.


"Jangan banyak alasan.. kamu mencintai pria lain??"


Nasha semakin jengah dengan situasi ini. Ia berdiri dan berniat meninggalkan Bang Panji.


"Tidak ada yang boleh mengambilmu dari sisiku. Walaupun harus dengan darah.. Abang akan mempertahankan kamu..!!!" Ucap Bang Panji setengah mengancam Nasha.


Tak peduli dengan apapun lagi, Nasha pergi meninggalkan Bang Panji menuju kamar rawat Bang Gesang.

__ADS_1


~


"Ada apa?? Siapa yang buat kamu menangis????" Sekuat-kuatnya Bang Gesang bangkit dari posisi tidurnya. Hatinya cemas melihat Nasha menangis.


Pintu kamar rawat Bang Gesang terbuka kencang. Dengan membawa amarah yang memuncak, Bang Panji menarik tangan Nasha.


"Abang mau bicara..!!!!!" Bentak Bang Panji.


"Nasha nggak mau bicara apapun dan membahas apapun..!!" Nasha meronta melepaskan genggaman tangan Bang Panji.


"Sudah pot.. jangan paksa Nasha..!!!" Bang Gesang sampai harus turun dari ranjang.


"Kau jangan ikut campur. Aku mau bicara dengan istriku..!!"


Sekuat Nasha melepaskan diri dan mengibaskan tangannya sampai genggaman tangan terlepas. Nasha berlari ke belakang punggung Bang Gesang.


"Dek, Panji mau bicara sama kamu. Bicaralah dulu kalian baik-baik..!!" Bujuk Bang Gesang.


"Nggak mau, Nasha nggak mau bicara apapun"


Bang Gesang melirik Nasha memegangi ujung pakaian di pinggangnya. Erat dan seakan tak ingin melepasnya. Hatinya kembali tak karuan, tapi kini posisinya adalah sebagai ajudan Nasha. Baginya.. sehat ataupun sakit dirinya, tanggung jawab tidak boleh terlepas sedikitpun.


Tangan Bang Panji berusaha meraih Nasha kembali tapi Bang Gesang menepisnya.


"Jangan di paksa pot, biarkan Nasha tenang dulu..!!"


"Saya memang hanya seorang ajudan. Tapi kau juga tau tugas seorang ajudan.. tak peduli bagaimana pun dan siapapun yang mengancam atasan saya.. saya akan turun tangan secara langsung apapun yang terjadi." Ucap Bang Gesang tidak keluar dari jalur yang seharusnya. "Lebih baik kamu tinggalkan Nasha dulu. Biarkan dia tenang..!! Nggak ada gunanya kau memaksa wanita yang sedang PMS"


Bang Panji menggeleng sengit. "Ternyata kamu lebih memahami dia daripada aku"


"Maaf.."


"Sedekat itukah seorang ajudan dengan pimpinannya???" Tegur Bang Panji begitu kesal apalagi saat melihat Nasha tak melepas genggaman tangannya.


"Pimpinan hanya merasa nyaman dalam penjagaan saya. Tidak lebih..!!" Jawab Bang Gesang.


"B******n..!!" Bang Panji pun segera meninggalkan tempat. Rasanya ia tak sanggup melihat kedekatan Nasha dan Gesang meskipun hanya sekedar ajudan dan atasan.


~


"Kamu tidak boleh begitu. Panji tetap suamimu. Laki-laki yang harus kamu utamakan."


"Nasha tau Bang, tapi sejak ikrar talak itu turun.. hati Nasha terasa dingin. Sekarang Nasha tau kalau surat itu bukanlah dari Bang Panji.. tapi hati Nasha terlanjur kosong dan sepi. Nasha akui dulu sempat mencintai Bang Panji meskipun hati Bang Panji terbagi untuk Diani."

__ADS_1


"Abang paham dek. Tapi selama kamu masih menjadi istri Panji.. memang sudah selayaknya kamu menghormati, melayani dan melaksanakan kewajiban mu sebagai istrinya Panji. Penuhi kebutuhan lahir batinnya. Dia uring-uringan juga karena rindu kamu. Itu hal yang wajar. Panji meminta hak nya sebagai suamimu itu tidak salah" pelan-pelan Bang Gesang memberi pengertian pada Nasha.


~


Seulas senyum di wajah Bang Panji, sejak tadi dirinya belum pergi dan terus berada di sana mengawasi Nasha. Ia cemas sahabatnya akan menikungnya, tapi ternyata dirinya salah. Seperti yang ia kenal.. Gesang memang bukan tipe pria seperti yang ia cemaskan.


Bang Panji pun pergi meninggalkan rumah sakit mengurai kelegaan meskipun harus meninggalkan sang istri dalam pengawalan sahabatnya.


-_-_-_-


Malam tiba. Bang Panji kembali ke kontrakan. Ia malas kembali ke rumah dinas karena tidak nyaman 'hidup sendiri'. Bang Panji memutuskan untuk membeli nasi bungkus sebelum pulang ke rumah kontrakannya.


...


Saat sedang menikmati makan malam dalam kesendirian nya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.


Bang Panji segera beranjak dan berjalan membuka pintu rumah.


Saat pintu terbuka..


Deg..


Jantung Bang Panji terasa terhantam kuat.


"Papaa..!!" Sapa pria kecil dalam gendongan ibunya.


"Di_ani..!!!!" Sungguh Bang Panji hampir tak mempercayai penglihatannya. Dua setengah tahun berlalu dan kini ia kembali melihat sosok istri kedua dalam hidupnya.


"Aku pulang Bang, Abang senang khan melihatku pulang?"


Lidah Bang Panji terasa kaku, tapi seketika ia meraih pria kecil dalam gendongan Diani.


"Hai.." sapa Bang Panji. Matanya berkaca-kaca.


"Revan rindu Papa"


Bang Panji menciumi wajah pria kecil itu. Perasaannya berantakan tak karuan. Bahagia karena bisa memeluk putra yang selama ini ia harapkan, tapi.. dirinya sudah tidak memiliki perasaan dengan Diani. Semua sudah sirna bersamaan dengan perginya Diani saat itu. Hatinya di penuhi dengan kecemasan, sudah ada anak di tengah mereka.. dan itu berarti, sulit untuk menceraikan Diani demi sang putra,


Apakah mungkin jika aku menyatukan Nasha dan Diani kembali?.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2