Kehormatan

Kehormatan
55. Saling menguatkan.


__ADS_3

Aku memegangi tangan Nasha yang hingga kini belum juga sadar. Efek obat bius membuatnya tertidur total. Sesaat tadi aku menerima sebuah wadah kecil dari dokter usai melakukan tindakan pada Nasha. Samar kulihat bentuk yang belum begitu jelas. Dialah bakal janin yang tidak pernah sempat terlahir ke dunia. Dadaku kian sesak. Sekuat-kuatnya aku menghadapi kerasnya dunia ini, tak akan sanggup aku melihat tangis kesakitan dari Nasha istriku.


Perlahan kulihat Nasha mulai sadar dan langsung mual namun kali ini bukan mual karena calon bayi kami.. melainkan karena obat bius yang membuatnya tidak sadar.


Dengan sabar kuusap bibirnya, ku bersihkan dengan tissue dari atas nakas.


"Peluk Abang kalau sakit..!!" Pintaku saat melihat Nasha masih terlihat kesakitan meremas perutnya.


"Anak kita bagaimana Bang?"


Batinku sakit sekali. Bingung bagaimana harus menjelaskan bahwa calon anak kami sudah tiada.


"Baaang..!!!!" Nasha menggoyang lenganku menuntut jawaban yang pasti.


Aku bingung bagaimana harus menjelaskan pada Nasha, tapi Nasha harus tau keadaannya.


"Allah belum percaya sama Abang untuk menjagamu dan anak kita. Allah sudah mengambilnya kembali" kataku menguatkan batin yang sebenarnya juga terluka dan tak kalah sakitnya dari Nasha.


"Nggak Bang, aku mau anak-anak ku. Aku mau mereka kembali..!!!!!" Teriak Nasha kembali terdengar histeris dan itu sungguh sangat luar biasa menyakiti hatiku yang juga harus kuat menerima ketetapan takdir.


Nasha menarik jarum infus di tangannya, tangis istriku Nasha terdengar hingga keluar kamar rawat membuat Papa Khobar, Bang Bujang, Bang petir dan Mama Gina masuk ke dalam ruangan.


Terpaksa ku hentikan langkah mereka agar aku bisa menenangkan istriku, terus terang batinku yang terluka cukup dalam juga membutuhkan waktu untuk tenang.


"Kita sama-sama kehilangan. Hatimu sakit, Abang pun juga begitu. Kalau Abang bisa memilih, biarkan Abang saja yang kembali padaNya daripada Abang harus melihat tangismu seperti ini." kataku sungguh dari lubuk hatiku yang terdalam.

__ADS_1


Seketika tangis Nasha semakin deras.


"Apa yang harus Abang lakukan. Abang tidak bisa mengembalikan mereka" dadaku sudah terlalu sesak. Aku tak dapat menahan laju tangisku, kutumpahkan segalanya.. tak peduli dengan apapun lagi. Sakit sesakit sakitnya hatiku saat ini. Kupeluk Nashaku, menangis bersamanya.


POV Bang Gesang off.


***


Papa Khobar menyuapi menantunya yang kehilangan selera makan. "Makan le, Papa tau rasanya sangat sakit kehilangan anak. Tapi hidup harus terus berjalan, setelah Nasha sehat dan pulih.. berusahalah lagi untuk bisa segera mendapat momongan. Hanya itu saja jalan terbaik sebagai pelipur lara hati kalian."


Walaupun sulit, akhirnya Bang Gesang mau melahap makan siangnya, sejak kemarin diang hingga siang ini baru Papa Khobar bisa membujuk menantunya untuk makan. Semalam suntuk Bang Gesang tetap terjaga karena tidak hanya satu atau dua kali Nasha histeris hingga tak sadarkan diri.


...


Bang Gesang mengembangkan senyumnya di hadapan Nasha. "Assalamualaikum cantiknya Abang Wira"


"Apa hatimu sudah lebih baik?" Bang Gesang mengusapkan punggung jarinya di pipi Nasha.


"Mungkin hati Nasha tidak akan baik-baik saja Bang." Jawab Nasha. "Nasha ibunya, Nasha gagal menjaga mereka"


"Abang juga ayahnya, anak pertama ku memang tidak berasal dari benihmu, tapi Abang mencintainya karena dia berasal dari rahim mu.. dan untuk 'dia' yang baru saja tiada, mungkin benar Abang tidak pernah membawanya dalam tubuh ini, tapi jiwa ini tetap merasa kehilangan karena dari diri Abang.. dia hidup meskipun hanya sesaat." Kata Bang Gesang. "Sayang, dia yang telah pergi, tidak akan mungkin kembali, tapi ada yang harus kamu ingat, Allah telah menjaganya.. sebaik-baiknya daripada kita yang masih hidup di dunia. Jika rindu.. do'akan anak kita yang sudah berpulang dan damai di surga"


Hening sejenak, perlahan Nasha mulai menghentikan tangisnya. Ia menatap mata Bang Gesang dengan lekat. Mata sendu sarat akan kesedihan tak terlukiskan. "Kapan Nasha hamil lagi Bang?" Tanya Nasha masih merasakan pilu dalam hatinya.


Pertanyaan yang begitu sulit untuk di jawab namun Bang Gesang pun tak ingin berlarut larut menghadapi ujian ini. "Maunya sih sekarang, tapi kamu belum sehat. Sabar ya, satu bulan lagi Abang buatkan dedek yang lucu. Mudah-mudahan Allah segera memberi Abang kepercayaan itu" jawab Bang Gesang tidak terlalu tegang agar Nasha tidak terbawa perasaan.

__ADS_1


//


Bang Panji menggendong bayi mungilnya bayi dari Diani. Seulas senyum menghias wajah kakunya. Bagaimana pun juga, ia sangat mencintai anak-anak nya walaupun harus terlahir dari wanita seperti Diani. Namun tak dapat di pungkiri hatinya juga sedih karena ulah Diani, putrinya harus mengalami masalah dengan paru-parunya.


"Kamu bahagia khan Bang?" Tanya Diani.


"Jelas Abang bahagia, tapi tidak dengan pernikahan kita..!!" Jawab Bang Panji.


"Maksud Abang.. Abang akan tetap menceraikan aku???" Seketika Diani meradang mendengar ucapan Bang Panji.


"Aku sudah melahirkan dua anakmu. Apakah semua itu tidak bisa menghapus kesalahan ku. Aku melakukan semua itu karena cemburu melihat mu terlalu mencintai Nasha" Diani tak bisa membendung emosinya. "Aku bertaruh nyawa demi dua anakmu"


"Tapi perlu kamu ingat, kamu dan kawan sekongkol mu telah menghilangkan nyawa anak ku, aku berpisah dengan Nasha dan yang terakhir.. Nasha kembali kehilangan calon bayinya" jawab Bang Panji.


"Itu bukan salahku. Nasha kehilangan bayinya karena kelakuannya sendiri"


"Maling teriak maling??" Tak habis pikir Bang Panji merasakan kelakuan Diani. Kini niatnya semakin bulat untuk berpisah dari Diani.


"Ingatlah Bang, bayi dan anak di bawah umur akan ikut dengan ibunya." Ancam Diani.


"Tepat sekali. Tapi tidak untuk wanita dengan sakit jiwa seperti mu..!!" Jawab Bang Panji.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2