
Berkali-kali Nasha mencoba untuk mengejan namun dirinya seakan kehabisan tenaga. Bang Gesang sungguh tidak tega melihat perjuangan sang istri.
Nasha sampai hampir tidak sanggup berkata-kata, rasa sakitnya seakan meremukan tulang.
"Bu Wira.. apa masih sanggup?" Tanya bidan yang juga cemas dengan keadaan Nasha.
Tak ada respon dari Nasha.
"Pak Wira, tolong ibu di rebahkan saja di paha bapak, nanti bapak bantu dorong..!! Sepertinya ibu sudah tidak kuat lagi."
"Apa tidak bisa dengan tindakan operasi Bu?" Ucap Bang Gesang semakin tidak tega.
"Sudah terlalu jauh masuk panggul Wir, kamu lihat sendiri.. kepala bayimu sudah ada di pintu sedangkan bayimu kembar" jawab dokter.
"Ya Allah Bang, tolong usahakan yang terbaik untuk istri saya..!!" Pinta Bang Gesang.
"Pasti Wira."
~
Nasha tak lagi berontak, nafasnya pun sudah pendek.
Tangis Bang Wira pecah. Jika Nasha memaksa untuk mengejan, maka tenaga istrinya akan benar-benar habis namun jika tidak mengejan maka taruhannya Adah kedua buah hatinya.
"Bagaimana Bang?" Tanya Bang Gesang.
"Tetap harus sedikit mengejan meskipun kita bantu dorong" jawab dokter.
Tubuh Bang Gesang bersandar kasar karena terlalu lemas, tangannya dingin.
"Cepat bantu..!!" Suara dokter membuyarkan pikiran Bang Gesang yang sedang tertegun.
"Bu Wira.. Buu.." seorang bidan menepuk bahu Nasha.
"Dek.. sayang..!!" Bang Gesang ikut menyadarkan Nasha. "Deeekk.. ayo bangun..!!!" Sesak mendera perasaan Bang Gesang, ia sudah berusaha sekuatnya untuk tenang.
"Dorong perutnya Wir..!!!"
Secepatnya Bang Gesang mendorong perut Nasha, perlahan tapi pasti dirinya membantu persalinan untuk buah hatinya.
Mata Bang Gesang membulat besar melihat sosok kecil mungil keluar dari rahim Nasha. Bayi kecil yang masih teramat kecil harus terlahir karena insiden tak terduga.
__ADS_1
"Lanang Wir"
"Allahu Akbar.. Alhamdulillah Ya Allah..!!" Ucap syukur Bang Gesang sampai menangis kuat melihat putra pertamanya terlahir ke dunia. Tak ada suara tangis bayi dan itu membuatnya begitu panik. "Bagaimana anak saya Bang?" Tanya Bang Gesang.
"Masih saya usahakan..!!" Jawab dokter dengan bantuan dokter anak dan akhirnya jagoan itu bisa menangis meskipun dengan suara yang amat lirih.
Nasha tersadar, namun hampir tak bisa membuka matanya. Tak lama dengan sendirinya Nasha mengejan dan terlahirlah buah hati ke dua milik Kapten Gesang Wira yang melesat begitu saja di tangan seorang bidan.
"Syukurlah.. laki lagi Wir"
"Alhamdulillah..!!" Ucap Bang Gesang sekali lagi. Ia kembali bersandar mengatur perasaan tak karuan. Sesaat kemudian Bang Gesang melirik ke arah bawah.
"Robekannya lumayan Pak" kata bidan tersebut.
"Eegghh.." Bang Gesang menutup matanya sejenak, tak kuat melihat luka Nasha.
"Bang.. Nasha haus"
Bang Gesang membuka matanya. Lalu mencari tas berisi air minum dan makanan untuk Nasha. Setelah menemukannya, Bang Gesang segera membuka dan mengangsurkan ujung sedotan di bibir Nasha.
Beberapa teguk Nasha meminumnya. Mata Nasha perlahan tertutup. Bang Gesang menarik sedotannya. "Nasha mau tidur"
:
Adzan sudah terlantun di telinga kedua putranya, lelehan bening kembali meluncur di pelupuk mata.
Bang Gesang memegangi tangan kedua putranya yang sedang mendapatkan perawatan di dalam inkubator.
"Brigas Arya Gegana dan Setha Arya Taruna.. kuatlah kalian seperti nama yang Ayah beri untuk kalian berdua.
"Waah waaaahh.. sudah kembar, mirip bapaknya pula. Kau ini jahat sekali. Masa Nasha hanya kamu bagi sakitnya aja" protes Bang Bujang.
"Iya nih, dunia nggak adil" Bang Panji ikut tersenyum sembari mengintip si kembar yang masih berada dalam inkubator.
"Ya masa mau mirip Panji lagi" jawab Bang Gesang dengan ribuan makna.
Bang Panji tersenyum mendengarnya.
"Jagoan Om Bujang, kalian sudah berusaha keras. Sehat-sehat ya le" kata Bang Bujang. Tak lama Bang Bujang malah terbahak. "Kulitmu banget"
"Apa??" Tanya Bang Gesang sudah curiga.
__ADS_1
"Black.." jawab Bang Panji.
"Kulite maghrib" imbuh Bang Bujang.
"B*****t, ya berarti sudah jelas hasil karyaku"
"Makanya pakai lampu to brooo" ledek Bang Panji membuat tawa ketiganya semakin pecah.
Sengaja kedua sahabatnya itu membesarkan hati Bang Gesang melihat keadaan kedua putranya.
...
"Kok hitam Bang?" Nasha sampai menangis melihat kulit kedua putranya yang sedikit gelap, keriput dan terlihat sedikit menakutkan.
Bang Gesang memeluk Nasha lalu mengecup puncak kepalanya. "Anak kita terlahir istimewa, lahir sebelum waktunya. Bayi normal saja di kehamilan tujuh bulanan masih terlihat kecil, apalagi kedua jagoan kita. Mereka mampu bernafas, bertahan dan kuat saja sudah lebih dari cukup. Itu anakmu dek.. anak kita." Bujuk Bang Gesang yang juga menahan perasaannya yang tak kalah sakit seperti Nasha. "Seiring berjalannya waktu, anakmu akan normal. Kulitnya pasti sempurna, tubuhnya berisi. Mereka akan jadi pria-pria yang gagah. Kebanggaan Ayah dan Mamanya. Punya mereka saja sudah lebih dari cukup buat Abang. Abang nggak ingin yang lain lagi."
Nasha tak sanggup melihat keadaan kedua putranya sampai akhirnya tak sadarkan diri.
~
"Tidak hanya anakmu yang butuh waktu untuk pulih, tapi Nasha pun butuh waktu untuk menerima segala keadaan. Berilah perhatian khusus untuk Nasha. Semoga baby blues istrimu segera usai."
"Terima kasih banyak Bang."
...
"Kalau saja aku tau akan ada kejadian seperti ini, aku pasti akan terus berada di rumah untuk menemani Nasha.
"Wira.. Nasha pasti baik-baik saja, kamu yang tenang ya. Ini semua memang musibah tapi kamu juga harus bersyukur.. anakmu sehat dan mampu bertahan." Bujuk Mama Gina.
"Ya ampun Ma, semuanya mirip Wira." Gumam Papa Khobar yang lebih fokus pada kedua cucunya. "Nanti Papa ajari mancing Ma"
"Papaaa.." tegur Mama Gina.
.
.
.
.
__ADS_1