
POV Bang Panji.
Nasha mendorong ku untuk kesekian kalinya saat aku ingin menciumnya, aku sungguh rindu padanya.
"Ini untuk kesekian kalinya kamu menolak Abang. Abang ini suamimu dek. Dosa kamu nolak suami seperti ini" teguranku untuknya karena sudah satu bulan lamanya bahkan lebih, aku berusaha mengambil hati istri pertamaku tapi tetap tidak ada hasil apapun.
Batinku pun masih merasa bersalah dan tertekan karena aku tidak sengaja menyentuh Diani hampir dua bulan yang lalu. Yaa.. Diani kembali lagi dalam kehidupan ku dan Nasha.
Sungguh aku tak sengaja, tak merasakan apapun saat melakukan, tapi saat melihat sisa-sisa hasil kerja itu, sudah jelas aku melakukannya bersama Diani. Sejak saat itu, aku mulai melakukan dengan Diani.. tak lain dan tak bukan.. dia masih punya hak mendapatkan nafkah batin dariku. Tapi ada perbedaan yang kurasakan. Jelas Nasha sangat memuaskan batinku.
"Nasha nggak mau di paksa" jawabnya.
"Dek.. kamu jangan lalai dengan kewajibanmu. Bagaimana kalau Abang melampiaskan semuanya pada perempuan lain???" Tak sengaja ucap kasar itu terlepas dari bibirku. Tingkah Nasha yang menolakku malah memicu amarahku. Aku yang sedang di landa bi***i malah mendapat penolakan keras dari Nasha, bahkan saat aku tidak sengaja menyenggol dadanya.. Nasha malah semakin menangis kencang. Aku frustasi sekali dengan sikapnya.
POV Bang Panji end.
"Baang Wiraa..!!!!" Teriak Nasha sekuatnya.
Bang Gesang kebingungan, tak mungkin dirinya menerobos masuk ruang VIP karaoke yang sengaja di sewa sahabatnya itu untuk ngobrol berdua.
"Dek.. Nashaa.. kenapa dek??" Bang Gesang mengetuk pintu dengan kuat, ia cemas sekali mendengar suara teriakan itu.
Serba salah di rasakan Bang Gesang. Di satu sisi Bang Panji adalah suami Nasha yang bebas melakukan apapun pada istrinya namun di sisi lain Nasha tidak menghendaki pertemuan dengan Bang Panji. Nasha mau bertemu dengan Bang Panji hanya karena menghormati suaminya itu.
"Bang Wiraaaa" suara Nasha semakin melemah hanya isaknya saja yang begitu terdengar pilu.
Lama kelamaan ada rasa sakit juga dalam hati Bang Gesang. Suara Nasha membuatnya sungguh tidak tahan, secepatnya ia mendobrak pintu ruang VIP karaoke tersebut.
Bang Gesang melihat Bang Panji sedang memaksa Nasha untuk melakukan hubungan suami istri tapi Nasha meronta tak ingin tersentuh oleh suaminya.
"Poot.. jangan..!!!!" Bang Gesang menarik bahu Bang Panji.
Emosi Bang Panji merangkak naik saat sahabatnya mengganggu kesenangannya. Bang Panji beranjak sembari membereskan diri, menyimpan kembali senjata perang yang sejatinya sudah siap untuk menyerang.
Bang Gesang melepas jaketnya lalu menutup tubuh Nasha. Untuk kedua kalinya selama hidup, ia melakukan hal yang sama pada Nasha. Bang Gesang mendorong Bang Panji hingga ke sudut ruangan. Matanya tajam menatap wajah Bang Panji.
"Kau halal melakukannya, tapi memaksa istri yang belum siap dengan keadaan mentalnya sama saja dengan memperkosa..!!!!" Bentak Bang Gesang.
Drrrttt.. drrrttt.. drrrtt..
Ponsel Bang Gesang berbunyi nyaring. Bang Gesang mengambil ponsel dari dalam sakunya.
"Wadan?? Tumben..!!" Gumamnya.
Tangan itu masih mencengkeram erat kaos Bang Panji.
"Selamat siang Wadan. Dengan Lettu Gesang J. W.. ijin arahan..!!"
"Posisi Black..!!"
"Ijin.. sedang IB Bang. Arahan..!!" Jawab Bang Gesang.
"Coba tolong cari Panji, hubungi dia..!! Saya nggak bisa hubungi ponselnya. Ini berkas data pengajuan nikah sudah beres. Istrinya menunggu di Batalyon"
__ADS_1
Cengkeraman tangan Bang Gesang semakin kuat sembari melirik Bang Panji. "Siap Abang.. mohon ijin.. istri Lettu Panji naik atas nama siapa?"
"Diani Putriani" jawab Wadanyon.
"Siap..!!"
"Dianii?? Dianiii.. bukannya Diani sudah........!!" Nasha sampai lemas mendengar nama Diani.
"B******n.. sampai kapan kau mau buat Nasha menangis terus. Kau mau memintanya kembali padamu tapi kamu masih memberatkan Diani istri keduamu..!!" Bang Gesang yang sedang kesal langsung meluapkan emosi dan menghajar Bang Panji.
...
"Nashaa.. aku rindu kamu" Diani menghambur memeluk Nasha.
Tubuh Nasha terasa dingin dan kaku, apalagi duduk disana ada seorang bocah laki-laki berusia dua setengah tahun. Wajahnya mirip dengan Bang Panji, bahkan gaya rambutnya pun mirip.
"Kenapa kamu kaget melihatku? Apa Bang Panji tidak cerita kalau aku sudah kembali? Hampir dua bulan ini kami bersama" kata Diani dengan wajah polosnya.
Nasha mengangkat senyum menanggapi kehadiran Diani yang jelas membuatnya begitu kaget.
"Kenapa kalian berpisah?" Tanya Diani kembali memeluk Nasha.
"Ada apa kamu disini??" Tegur Bang Panji dengan raut wajah tidak suka.
"Mau bagaimana lagi Bang, kalian sudah menikah. Kita juga terlalu sering bersama. Aku hamil."
Bagai tersambar petir kagetnya hati Bang Panji. Nasha pun terkejut tapi dirinya masih mampu menyimpan rasa sedihnya.
"Kamu hamil Di????"
Bang Gesang yang sedari tadi diam dan sibuk memeriksa berkas milik Diani, melihat tidak ada cacat administrasi untuk menaikan status Diani.
"Baiklah Di, tidak ada yang kurang, semua administrasi bersih dan semua bisa naik ke Danyon." Pandangan mata Bang Gesang mengarah pada Diani lalu beralih menatap Bang Panji. "Nanti kamu ke ruangan saya setelah mengantar Diani pulang..!!"
"Siap pot" jawab Bang Panji.
"Kamu Abang antar pulang ya dek..!!" Kata Bang Gesang. Ia melihat Nasha banyak diam bagai mayat hidup.
...
"Sumpah aku tidak bermaksud seperti itu. Diani tiba-tiba kembali membawa Revan anakku. Pengobatannya di luar negeri berhasil dan Diani kembali menemuiku"
"Apapun alasanmu.. aku tidak bisa menerimanya Pot. Terlepas pada posisiku saat ini.. aku tidak bicara sebagai staff Intel. Aku bicara sebagai sesama pria." Ucap Bang Gesang. "Apa kau mau mengulang kesalahan yang sama??? Tegakah kamu menyakiti hati Nasha????
"Nasha tetap istri pertamaku"
"Tidak ada namanya lagi dalam status riwayat hidupmu" jawab Bang Gesang. "Lebih baik kau temui Pak Khobar. Kau harus menjelaskan status Nasha di hadapan keluarga..!!!!! Hidup adalah pilihan pot..!!!"
"Apa kau sedang menekanku?" Tanya Bang Panji.
"Apakah ada yang salah dari ucapan saya.. Lettu Panji?" Jawab Tegas Bang Gesang. "Saya berusaha menyarankan yang terbaik. Saya anggap menutup masalahmu saat ini. Cukup hanya kamu dan saya yang tau"
***
__ADS_1
Papa Rakit dan Mama Fia datang bersama Bang Panji dan Diani keesokan harinya.
Bang Gesang memilih berdiri di dekat Nasha sembari berjaga padahal Pak Khobar sudah memintanya untuk duduk. Bang Gesang merasa tidak pantas berada di tengah keluarga terpandang dan terhormat seperti mereka.
"Mas Mar.. terima kasih banyak karena kali ini Mas mau menerima keluarga kami."
"Panggil biasa saja.. saya masih muda" sambar Pak Khobar.
"Baiklah Mar, saya pribadi dan keluarga memohon maaf atas segala perbuatan Panji yang sudah membuat keadaan kita jadi seperti ini. Kedatangan kami kemari adalah untuk membahas status Nasha pada diri Panji" kata Papa Rakit sembari memangku Revan cucunya dari Bang Panji dan Diani.
"Paa.. tolong beri aku waktu. Ini masalah rumah tanggaku..!!" Bang Panji terlihat frustasi menghadapi tekanan untuk kesekian kalinya.
"Cukup Panji... Kamu sangat mengecewakan Mama" Mama Fia begitu emosional menghadapi putranya ini"
"Papa Rakit.. Mama Fia.. atas nama pribadi Nasha memohon maaf jika selama menjadi menantu Mama dan Papa, belum menjadi sosok seperti yang diharapkan.. masih banyak kekurangan dalam diri Nasha. Jujur Nasha akui.. pernikahan Abang dan Diani memang adalah permintaan Nasha. Namun seiring berjalannya waktu.. karena suatu hal, Nasha mohon pada Abang Panji.. untuk mengembalikan Nasha pada Papanya Nasha" ucap Nasha begitu halus dan terdengar menyayat hati. "Diani sudah memberikan cucu untuk Papa dan Mama. Revan butuh keluarga yang utuh"
"Nasha.. sayang.. sampai kapanpun kamu akan tetap jadi menantu Mama" kata Mama Fia terisak.
Disana Diani duduk menunduk terdiam, kalem, tanpa banyak bicara.
POV Bang Panji.
Ku ikuti saran sahabatku Gesang. Walaupun dia adalah pria yang kaku. Ku akui dirinya sangat dewasa menyikapi keadaan. Ku hubungi orang tuaku. Ku ceritakan keadaan yang terjadi pada diriku. Papaku sangat marah karena Diani bisa kembali mengandung benih dariku, tapi bedanya kali ini.. Diani mengandung benihku dengan cara yang normal.
Saat ini.. aku mendengar permintaan Nasha. aku benar-benar merasakan kehancuran ku sebab hanya Nasha wanita yang sangat ku cintai. Nama Diani sudah terhapus sejak aku menyentuh Nasha untuk pertama kali. Namun saat ini posisiku terjepit. Diani sudah sembuh, dia istriku.. dan sudah ada anak di antara kami.
Air mataku tak terbendung, ku pandang wajahnya dalam buram air mata. Berat dan teramat berat kurasakan detik demi detik perpisahanku dan Nasha. Pikiran hitam dan putihku berkelebat bergantian.
Dengan berat hati ku langkahkan kaki ku. Aku menarik kursi kecil di sampingnya.
"Pandang wajahku..!! Sungguhkah ini permintaan dari hatimu?" Tanyaku.
Nasha mengangguk. "Iya Bang."
Aku menyentuh puncak kepalanya. Menguatkan perasanku yang setengah hati.
"Dalam hati Abang.. tak pernah ingin ada hal seperti ini. Abang sungguh mencintai dan menyayangimu, tapi jika perpisahan kita akan membuatmu bahagia. Abang ikhlas.. mudah-mudahan kamu segera mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Abang, yang mampu membimbing mu, mengembangkan senyum mu dan tidak hanya membuat tangis sedihmu" kataku dengan tidak tega. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Suaraku terasa bergetar. "Nasha Shabilla Larasati binti Bapak Mumchemar Al Khobar.. mulai hari ini.. detik ini juga.. jatuh talak saya padamu.. dan mulai detik ini.. kamu bukanlah istri saya lagi"
Seketika tangis Nasha pecah. Papa Cemar dan Mama Gina tak kalah sedihnya. Nasha ambruk namun dengan sigap Gesang menyangga tubuh Nasha.
Kulihat raut wajah Gesang begitu panik hingga memeluk Nasha, sikapnya terlihat sangat protektif. "Nasha.. bangun dek. Kamu kuat.. kamu pasti kuat..!!!"
"Bawa Nasha jauh dari sini.. Bang Wira" pinta Nasha di sela kesadarannya.
Kini sedikit kusadari.. Nasha mencintai sahabatku sendiri dan seakan gayung bersambut.. sahabatku membalasnya dalam diam.
POV Bang Panji end.
.
.
.
__ADS_1
.