Kehormatan

Kehormatan
59. Sebuah kehormatan.


__ADS_3

"Black.. kenapa lu??" Bang Panji sampai ikut panik saat Bang Gesang demam.


"Nggak apa-apa. Capek kegiatan aja"


"Kegiatan apa sih?? Kita ini pasukan, kegiatan seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari. Cepat bilang, ada apa?" Tanya Bang Panji. "Badanmu juga jadi susut begini pot, kowe mikir opo??" Prihatin sekali Bang Gesang memperhatikan sahabatnya.


"Namanya manusia kadang ada drop nya kang, nggak mungkin segar terus" jawab Bang Gesang santai.


drrrttt.. drrrttt.. ddrrtttt..


Bang Gesang segera mengangkat panggilan telepon dari Nasha istrinya. "Wa'alaikumsalam.. dalem sayang, ada apa?"


"Abang dimana?" Tanya di seberang sana.


"Abang di lapangan dek, baru selesai latihan. Ada apa sih?"


"Nasha pengen ke pasar malam" jawab Nasha.


"Kamuuu.. ngantuk dek? Ini masih jam setengah dua yank..!!"


"Yaaa.. pokoknya Nasha nanti mau lihat pasar malam" pinta Nasha.


"Ooo_ke.. nanti malam kita lihat pasar malam" Bang Gesang menyanggupi permintaan sang istri.


Bang Gesang memutus sambungan telepon saat Nasha sudah mengakhirinya. "Wa'alaikumsalam" ucapnya lirih. Untuk sejenak Bang Gesang tertegun mendengar permintaan Nasha. "Alhamdulillah.. istriku sudah mau keluar rumah dan minta jalan-jalan. Apapun yang Nasha minta pasti ku kabulkan asal Nasha ceria lagi. "Ucap syukur Bang Gesang.


"Semangat broo..!!" Bang Panji menyemangati sahabatnya.


...


"Ijin Dan, info pasar malam nihil" kata Om Iskandar.


"Aduuuuhh.. jangan kencang kalau kamu bicara, nanti istri saya bisa dengar." Bang Gesang menghentikan ucap Om Iskandar.


"Siap Dan."


"Bagaimana ya ini, mana istri sudah mulai pengen ini itu, tapi pasar malamnya nggak ada."


"Bang..!!" Sapa Nasha.


"Dalem sayang.. Abang di teras" jawab Bang Gesang.


"Ada nggak pasar malamnya?" Tanya Nasha.


"Nggak ada sayang" Bang Gesang memilih jujur daripada Nasha semakin kecewa jika dirinya berbohong.


"Ya sudah, nggak apa-apa." Namun raut wajah itu sarat akan kekecewaan yang mendalam.


"Tunggu harinya saja ya, nanti kalau ada pasar malam pasti Abang ajak kamu kesana" bujuk Bang Gesang hati-hati sekali.

__ADS_1


Nasha mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar.


Seketika deru nafas Bang Gesang tak beraturan. "Ya Allah, wetengku kaku, rasane ora karuan" Bang Gesang meremas perutnya.


"Dan....!!!!!"


"Nggak apa-apa, saya nggak apa-apa" sejenak Bang Gesang tertegun, sekilas dirinya melirik pintu kamar. Tersungging senyuman hangat menghias wajahnya.


'Apa kamu menyapa ayah nak?'


"Astagfirullah.. sakit sekali" Bang Gesang menahan mual, ia tetap berusaha kuat dengan keyakinan dalam hatinya.


//


Diani melempar tas milik Nisa dan mengusir nya. "Kau hanya sampah dan p*****r yang ku pungut dari jalanan..!!"


"Nisa bukan p*****r Bu. Tapi saat itu ibu janji untuk melunasi hutang saya, jika saya mau jalan-jalan dengan pria itu" kata Diani sesenggukan.


"Kau sama bodohnya seperti istri Wira itu. Itulah pentingnya kepintaran untuk bertahan hidup..!!" Bentakan Diani terdengar hingga luar rumah dan saat itu Bang Panji masuk ke dalam rumah.


"Kamu masuk kamar..!! Bawa anak-anak..!!" Pinta Bang Panji dengan suara lembut pada Nisa.


"Sudah kubilang berkali-kali, jangan pernah kamu membela nya di hadapanku Bang, kamu mau tau siapa dia??????? Dia adalah wanita yang ku tinggikan derajatnya. Tanpa aku, mungkin selamanya Nisa akan masuk ke dalam lubang hitam" teriak Diani yang sama sekali tidak mau merendahkan intonasi suaranya.


"Rendahkan suaramu..!!!" Peringatan Bang Panji yang sudah terbakar emosi.


"Kenapa?? Mau pukul aku??? Pukul Bang, Abang akan mendapatkan kasus besar kalau berani menyakitiku..!!!"


:


"Saya.. Raden Panji Upas Wilalung dengan sadar menjatuhkan talak untuk kamu Diani dan mulai detik ini.. kamu bukan istri saya lagi" ucapnya di hadapan pihak terkait yang sudah di hubungi Bang Panji.


Diani terdiam mematung. Ini adalah kali ketiga dirinya mendengar kata-kata itu dari Bang Panji. Tak menyangka Bang Panji akan sungguh menceraikan dirinya yang sudah melahirkan dua anak untuk nya.


Diani tersenyum di balik kegetiran ulahnya sendiri. "Kau tak akan bisa mengambil anak-anak Bang, hak asuh anak akan jatuh ke tangan ku. Apalagi kamu seorang duda"


Bang Panji menyeringai. "Sayangnya.. Lettu Panji, telah beristri"


Sungguh kaget Diani sampai nyaris tak bisa berkata apapun. "Istri?? Siapa perempuan itu??? Siapa perempuan yang sudah merebutmu dariku????" Diani kembali berteriak seperti orang gila. "Apa Nasha??? Kamu kembali sama Nasha????? Wanita j****g sialaaan..!!!!"


Bang Gesang terbakar emosi karena mendengar nama istrinya di sebut namun Bang Arko segera memeluk dan menenangkan juniornya yang terkenal garang itu. "Sabar Black, tahan emosimu..!!" Kata Bang Arko.


"Saya sudah menikahi Annisa awal bulan lalu" jawab Bang Panji.


"Tidaaaaakk.. kalian semua pengkhianat..!!!!!!! Kurang ajaaaarr..!!!!" Suara Diani melengking hingga terdengar sampai anggota yang melakukan penjagaan di luar sana.


Seketika tangan Diani menyambar jilbab Nisa yang duduk tak jauh dari Bang Panji. "Wanita murahaaaan..!!!!!!!!!!!!!"


Melihat jilbab Nisa terlepas, Bang Panji segera menutup tubuh sang istri namun tak cukup dengan itu.. Diani menjambak rambut Nisa hingga terjungkal menabrak lemari.

__ADS_1


"Aaarrghh.." Nisa terpekik meremas perutnya.


"Nisaa??" Bang Panji terkejut melihat noda di kaki Nisa.


"Mas.. tolong..!!"


"Ya Allah, kenapa kamu dek?"


"Ni_sa.. hamil Mas"


"Astagfirullah.. kenapa kamu nggak bilang sama Mas Panji????" Tanpa banyak bicara, Bang Panji segera membawa Nisa menuju mobil.


Sambil berjalan, Bang Panji melirik Bang Gesang. "Aku minta tolong pot, handle semuanya. Aku mau ke rumah sakit..!!"


"Pergilah, biar aku yang tangani..!!!"


~


Mbak Narya membawa kedua keponakannya menuju rumahnya. Bang Arsene pun ikut sibuk dengan ulah Diani yang terus berteriak memberontak.


"Kenapa kalian perlakukan aku seolah aku ini orang jahat?"


"Kau memang pantas mendapatkan hasil dari bibit yang kau tanam..!!" Kata Bang Gesang.


"Aku bertahan hidup dengan keberanian dan akal yang kupunya. Kalian tidak pernah tau bagaimana caraku berjuang untuk hidup" Diani semakin menjadi dengan kehancurannya.


"Perjuangan dan hasil pikiran mu itu semuanya salah. Kau sudah membuat dua anakku meregang nyawa" Bang Gesang ikut terbawa emosi.


Diani menampari Bang Gesang, suami Nasha itu hanya diam mengepalkan tangannya karena sangat tidak ksatria jika dirinya membalas seorang perempuan tapi batinnya tidak sanggup mendengar saat Diani mengatakan sesuatu yang membuatnya darahnya mendidih.


"Nasha.. bukanlah wanita suci, aku sudah menjualnya pada beberapa laki-laki"


Bang Petir dan Bang Bujang yang berada disana ikut naik pitam, namun sebelum Bang Bujang bersuara, Bang Gesang mencengkeram dagu Diani.


"Kau wanita yang sangat berani Diani. Kurasa kita harus berkenalan lebih dekat..!!" Bang Gesang menyeret Diani masuk ke dalam kamar.


~


"Wiraaa.. buka pintu Wir..!!!!" Semua yang ada disana panik dan ketakutan. Mereka cemas Bang gesang akan melakukan hal yang fatal.


"Dimana Nasha????" Tanya Bang Petir.


"Nggak tau lah Bang" jawab Bang Bujang.


"Cariii..!!! Wira sudah kalap"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2