
"Sah.. Alhamdulillah..!!"
Bang Gesang mengusap wajahnya yang memerah menahan tangis haru setelah dirinya menyandang status baru sebagai suami Nasha.
Nasha pun terisak karena statusnya pun kini telah berganti menjadi Nyonya Nasha Gesang Wirayuwana.
Tirai yang sejak tadi menutup kini terbuka.ata Bang Gesang melihat cantiknya paras Nasha. "Subhanallah..!!" Ucapnya kemudian menunduk.
"Amaan Dan.. sudah halal" ucap beberapa orang anggota Bang Gesang karena tau komandannya tersebut memang pria yang sopan.
Mama Gina sangat bahagia, di bantu Mama Fia mereka mengiringi Nasha duduk di samping Bang Gesang.
Untuk pertama kalinya Bang Gesang tersenyum meraih tangan Nasha. Sorakan pun terjadi karena Lettu Gesang memang begitu pelit senyum.
Bang Gesang tak peduli dengan reaksi para anggotanya yang sedari tadi meledeknya tanpa henti di bawah pimpinan Lettu Bujang dan Lettu Bekisar.
"Assalamu'alaikum.. wahai bidadari hati"
Sungguh Nasha tersipu hingga pipinya merona. "Wa'alaikumsalam ajudan nekat". Perlahan Nasha memegang tangan Bang Gesang dan meraih punggung tangan dan menunduk menciumnya.
Rasa dingin menyelimuti tangan Bang Gesang. Hati-hati sekali ia menyentuhnya. "Jangan coba-coba minum obat tidur lagi..!! Mulai hari ini.. biar Abang saja yang kasih obat tidurnya, biar nggak salah takar. Overdosis pun aman..!!"
"Astagaaa Wiraaaa..!!!!!!"
Plaaakk..
"Masih siang nih" Papa Rudra menepak kepala Bang Gesang karena anak buahnya itu sudah mulai oleng melihat kecantikan Nasha. "Berdo'a dulu. Yang itu sisakan buat malam saja..!!!"
"Siaap..!!"
Jujur batin Bang Gesang mulai gelisah, tubuhnya menegang hingga seisi ruangan mampu melihat ketegangan Lettu Gesang padahal selama ini dalam hal apapun tak pernah sekalipun Lettu Gesang segugup ini meski pria itu sudah berusaha untuk tenang.
Tangan Bang Gesang mengarah pada puncak kepala Nasha. Ia membacakan do'a dengan sangat khidmat lalu meniup dan mengecup puncak kepala Nasha. "Semoga Allah senantiasa meridhoi pernikahan kita."
Tangan itu perlahan turun ke dada Nasha, matanya terpejam haru karena saat ini dirinya sudah bisa menyentuh tanpa rasa takut. "Sungguh besar rasa terima kasih Abang atas keikhlasanmu bersanding dengan pria sepertiku. Biar Allah yang membalas semua. Jika Allah berkehendak, kelak Abang akan sangat berhutang nyawa atas apa yang akan Abang titipkan padamu" Bang Gesang menarik tangannya.
Nasha hanya mengangguk, tak sanggup menjawab apapun perkataan pria yang kini telah menjadi suaminya.
__ADS_1
Di sudut sana, sejak tadi ada sepasang mata memandang dengan tatapan begitu menyakitkan. Rasa kehilangan, penyesalan dan sakit hati begitu melekat kuat pada hati pria tersebut. Dia adalah Bang Panji yang menyimpan perasaan dalam diam.
"Bang. Aku mau pulang..!!" Ajak Diani.
"Sabar dulu, acara belum selesai"
"Aku bosan Bang" jawab Diani yang tengah duduk bersandar membawa perut besarnya yang sudah berusia enam bulan.
"Abang tidak ikhlas Nasha menikah dengan Bang Wira?? Sampai kapan Abang masih memikirkan Nasha. Abang juga punya rumah tangga sendiri. Abang punya aku dan Revan. Apa masih kurang??" Tanya Diani mulai kesal.
"Jangan bicara aneh-aneh disini..!! Nggak usah ngawur kamu..!!" Tegur Bang Panji terdengar dingin.
Ia akui sejak dirinya mengetahui kebenaran dan fakta tentang pernikahan mereka serta kenyataan yang di lakukan Diani.. sakit hati Bang Panji semakin terasa. Hampir setiap hari ada saja perselisihan di dalam rumah tangga mereka, pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi tanpa bisa di hindari.
Diani keluar membawa perut besarnya dan itu membuat Bang Panji naik darah sebab Diani tidak bisa lembut dan selalu kasar dalam pembawaan diri. Bang Panji pun segera menyusulnya keluar.
...
Hingga sore menjelang, Bang Gesang tidak begitu banyak pendekatan dengan Nasha. Ia lebih banyak berinteraksi dengan rekan-rekannya dan Nasha pun lebih banyak mengakrabkan diri bersama ibu-ibu yang lain.
Di balik sikapnya yang terkesan kaku, mata itu terus melirik ke arah Nasha.. mengawasi setiap gerak gerik wanita yang kini telah ia halalkan.
"Nanti"
"Dia mana berani.. melirik saja paling jago. Gue ragu.. ini perjaka mampu nggak menaklukkan mantan janda muda, pengalaman nya pasti di atas rata-rata" ledek Bang Kisar ajudan pribadi Papa Khobar.
"Maksudmu opo????? Mentang-mentang aku perjaka.. kamu pikir aku nggak bisa buat istriku puas??" Ucap kesal Bang Gesang sampai terdengar di meja para tetua keluarga hingga menoleh menatap ke arah meja Bang Gesang.
"Eheemm.." Bang Gesang sedikit mengibaskan kerah baju batiknya yang terasa gerah. Malu setengah mati karena ulah kedua sahabatnya yang sering kali membuatnya naik darah.
"Ini Pa, kata Wira nggak berani tidur sama Nasha. Apa kita buat pisah kamar dulu Pa?" Kata Bang Bujang semakin memanasi suasana.
"Eehh........!!!" Bang Gesang panik mendengar ucap Bang Bujang yang seakan mengerjai dirinya.
"Oohh gitu, ya sudah nanti biar Nasha tidur sama Mama" jawab Papa Khobar seakan merestui saran putra keduanya.
"Hhhhhhh.. sudahlah kalian atur-atur saja." Bang Gesang terbawa perasaan hingga berjalan keluar ruangan. Para tetua dan sahabat Bang Gesang sampai menertawai tingkah suami Nasha itu.
__ADS_1
...
Malam tiba. Tamu undangan sudah pulang. Rumah sudah tidak seramai seperti saat tadi. Namun gedung batalyon sudah di sulap menjadi hiasan pesta mewah dan megah sesuai permintaan dadakan Lettu Gesang yang pastinya sangat membuat para anggota kelabakan. Pihak wo pun harus ekstra kerja keras demi permintaan sang perwira muda.
Bang Gesang mengusap wajahnya yang basah dari tetesan air usai mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib. Tak sengaja dirinya berpapasan dengan Nasha yang juga akan mengambil air wudhu. Di lihatnya riasan itu masih begitu indah menghias wajah Nasha meskipun sudah berkali-kali tersiram air wudhu.
"Mau sholat sama Abang?" Tanya Bang Gesang masih kaku dan berhadapan dengan Nasha.
:
"Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin" Bang Gesang mengusap wajahnya mengakhiri bacaan do'a dalam sholatnya.
Bang Gesang mengarahkan duduknya menghadap Nasha. Sekilas kedua mata mereka saling menatap namun keduanya saling menunduk.
Menyadari dirinya adalah seorang pria, tidak mungkin ia membiarkan Nasha yang akan memulai pendekatan ini lebih dulu. Bang Gesang mengangkat dagu Nasha dengan jari telunjuknya. "Salim dulu sama Abang.."
Nasha pun menunduk mencium punggung tangan Bang Gesang.
Untuk sejenak mereka saling pandang lalu kembali menunduk. Tangan keduanya terasa sangat dingin tapi tangan Bang Gesang jauh lebih dingin.
"Kita mau disini saja Bang?" Tanya Nasha membuka percakapan mereka.
"Ehmm..!! kamu.. mau sekarang dek????" Bang Gesang sedikit gugup menjawabnya.
"Maksud Nasha.. apa kita mau di kamar saja? Di luar juga masih ada orang dan persiapan resepsi besok"
"Oohh.." Bang Gesang menggaruk kepalanya. "Abang kira.. kamu mau....." Bang Gesang mengusap wajahnya. Pikirannya sudah trip and adventure kemana-mana.
Nasha menundukan pandangannya dengan senyum. "Mau.. tapi kalau di ajakin Abang" jawab Nasha pelan tapi bernada manja.
Refleks Bang Gesang tersenyum penuh arti dengan sebelah tangan menutup wajahnya yang tak karuan. "Di ajakin apa sayangkuu???" Ucapnya berusaha bersikap normal di antara denyut jantung yang tidak aman.
.
.
.
__ADS_1
.