
Nasha melihat hiasan kamar pengantin yang begitu indah. Bertabur bunga yang wangi. Untuk sejenak langkahnya terhenti, ia tertegun memandangi indahnya kamar.
"Abaikan saja hiasannya. Sekali-kali kita tidur dengan suasana baru" kata Bang Gesang.
POV Bang Gesang.
Aku tau Nasha sangat sedih dengan sakitnya Papa Khobar, mertuaku.
Aku pun mengerti keadaan Nasha dan aku tidak mungkin memaksakan diri ku yang sedang menginginkan kebersamaan malam bersama dengan istriku Nasha. Perasaanku sebagai laki-laki mungkin tidak dapat di cegah, tapi tubuhku jelas merespon kehadiran Nasha. Istriku yang sangat cantik masih lengkap dengan baju pengantin yang indah, serta riasan wajah yang masih sembilan puluh lima persen menempel walaupun terkena banyak sapuan dunia luar.
"Maaf ya Bang, rasanya Nasha belum siap....."
"Nggak apa-apa, Abang paham. Tidurlah dek.. Abang tau kamu capek" kataku menenangkan Nasha, padahal jiwa egoisku sebagai pria sudah tidak tenang dan tidak terima karena aku pun manusia biasa, tapi aku masih bisa berpikir jernih untuk tidak memaksakan diri hanya karena nafsuku yang sudah setinggi langit.
~
"Setidaknya kamu masih bisa mengunci mulutmu rapat Sar..!!! Nasha syok sekali dengar papanya terkena serangan jantung" tegur ku yang sebenarnya juga baru tau tentang penyakit Papa Khobar. Sejak lama aku menaruh curiga perihal obat-obatan yang ada dalam tas mertuaku namun beliau hanya berdalih bahwa itu adalah vitamin khusus laki-laki.
"Maaf, aku cemas sekali lihat reaksi Nasha" jawab Bekisar sahabatku.
"Kalau kamu bisa sedikit menutup rahasia junjunganmu, pasti hasilnya tidak akan separah ini. Setidaknya urusan pribadi atasan biarlah atasan sendiri yang bicarakan dengan keluarga, seandainya kita sebagai ajudan salah bicara, bisa hancur semua Sar..!!!" Aku sungguh menegur Bekisar.
"Siap salah ting. Lain kali saya akan lebih waspada." Jawab sahabatku itu.
:
Aku melirik Nasha, istriku itu belum juga tidur dan masih duduk di tepi ranjang. Matanya pun memerah dan akhirnya aku memilih masuk ke kamar untuk menemani Nasha. Indahnya pemandangan dari atas hotel seakan tidak berpengaruh apapun bagi Nasha.
__ADS_1
POV Bang Gesang end.
"Kenapa belum tidur? Pakaian juga belum ganti" kata Bang Gesang.
"Nasha nggak ingin melakukan apapun Bang" jawab Nasha.
"Papa sudah jauh lebih baik dan bisa bercanda dengan sahabatnya. Apa kamu pikir Papa akan senang melihat putrinya sedih seperti ini?" Bang Gesang mengusap tangan Nasha. "Cepat ganti pakaian dan bersihkan badan. Sudah dari pagi pakaian itu menempel. Apa nggak berat?" Bang Gesang menarik tas kecil Nasha. Ia sudah paham jika biasanya tas itu berisi keperluan pribadi sang istri.
Nasha pun mengambil tas itu. "Abang jangan lihat ke sini. Nasha mau ambil sesuatu"
"Ambil saja. Abang juga nggak akan pakai barangmu" kata Bang Gesang terdengar santai namun cukup menjengkelkan.
"Nasha mau buka jilbab Bang"
Bang Gesang tersenyum, berarti dirinya akan melihat sosok Nasha seperti tiga tahun yang lalu, saat pertama kali ia melihatnya Nasha seperti yang sekarang. "Buka..!! Abang ini suamimu, apa kamu merasa Abang ini masih ajudanmu?"
"Selamanya Abang akan tetap jadi ajudan Nasha" jawab Nasha kemudian melepas pengait hijabnya.
Pengait itu terlepas, Bang Gesang menarik hijab Nasha hingga rambutnya tergerai indah. "Subhanallah..!!" Bang Gesang membatin lalu menunduk menjauhkan pandangan yang tidak semestinya. Ia hanya melirik Nasha dari cermin yang ada di hadapannya.
Entah bagaimana awalnya, Nasha pun ikut mencuri pandang ke arah Bang Gesang. Namun saat lirikan itu saling bertemu, mereka kembali membuang pandangan dengan salah tingkah. "Kamu bersihkan badan. Nanti Abang tidur di sofa saja kalau kamu nggak nyaman" Bang Gesang berdiri untuk menghindar tapi Nasha meraih tangan Bang Gesang.
"Abang disini saja, tidur sama Nasha..!!" Pinta Nasha.
"Kamu yakin nggak terganggu sama Abang?" Tanya Bang Gesang.
"Nggak Bang, Abang disini saja" kata Nasha.
__ADS_1
Bang Gesang mengangguk lalu melepas kemeja dan melonggarkan ikat pinggangnya. Nasha pun seketika duduk dengan gelisah. Ia hanya meremas ujung tas yang sedang di genggamnya.
Suami Nasha itu menyembunyikan senyum karena tau Nasha terlihat begitu gugup. Sikap jahilnya pun muncul. Ia berdiri tepat di hadapan Nasha memperlihatkan perutnya yang rata bermotif roti sobek.
Nasha semakin panik saat tepat di depan matanya, terlihat kejantanan Bang Gesang sudah menegang menyesakan pakaian. "Ehmm.. Nasha mau ke kamar mandi" pamitnya karena tidak mau memikirkan hal yang tidak-tidak meskipun pada akhirnya pikirannya pun melayang-layang. Nasha segera beranjak dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
~
Nasha sebegitu gelisah nya hingga dirinya bingung berbuat apa.
"Aku harus bagaimana ya? Abang memang nggak memaksa, tapi sebagai istri Bang Wira... Aku pun harus tau diri." Gumamnya masih mondar-mandir dan hanya suara keran berbunyi menyamarkan kegugupannya.
Sedangkan di luar kamar, Bang Gesang mengatur nafasnya. Sebagai seorang pria dirinya berusaha tenang.
"Kalau sudah begini, lalu bagaimana?? Aku tidak ingin memaksa Nasha, tapi hatiku tidak sejalan dengan pikiranku. Haruskah aku mengajaknya baik-baik??" Gumam Bang Gesang tak kalah cemas.
Tak lama pintu terbuka. Nasha keluar memakai dress tidur berbahan satin dan berjalan melangkah pelan hingga ke ranjang.
Mata Bang Gesang terus melotot, mulutnya ternganga melihat dress satin tersebut membentuk lekuk tubuh Nasha. Desir darah Bang Gesang berpacu deras memanaskan ubun-ubun kepala.
"Abang mau ke kamar mandi?" Tanya Nasha menghilangkan rasa gugupnya.
Refleks kaki Bang Gesang pun melangkah menghampiri Nasha. "Abang mau kamu..!!" Jawab Bang Gesang seakan mengingkari janji.
.
.
__ADS_1
.
.