Kehormatan

Kehormatan
72. Dan pada akhirnya.


__ADS_3

Ini kali pertama dokter mengijinkan Bang Gesang menggendong bayinya. Bayi kembar laki laki. Bang Gesang menggendong Brigas lebih dulu dan tangan Bang Gesang gemetar menggendongnya.


Bang Gesang kembali tidak sanggup melihat bayinya Tapi Bang Panji meyakinkan Bang Gesang untuk menyentuh bayi mungil nya.


POV Bang Gesang on.


"Ini anakmu dari Nasha." ucap Bang Panji terus membesarkan hatiku dan saat itu aku langsung melaksanakannya. Ku amati wajahnya. Aku terkesima saat aku kembali melihat wajah putraku. Wajahnya mirip denganku


Seorang perawat tiba tiba menyadarkanku, Perawat itu mengatakan Nasha berteriak histeris. Aku segera menyerahkan Anakku pada perawat dan berlari menemui Nasha dan Panji menyusulku.


"Sayang.. Abang disini"


"Apa mereka benar anak Nasha Bang, tolong.. Nasha nggak mau melihat mereka seperti itu" Nasha mengguncangkan lenganku. Pikiranku hilang entah kemana, aku bingung.


"Bang.. apa benar mereka anak Nasha? jawab Bang??" Nasha yang semakin histeris membuatku panik


"Anak siapa lagi? Jelas mereka anak kita berdua" Jawabku sambil memberi kode untuk membawa anakku. Tak lama Panji membawa salah satu bayiku padaku. Aku menyerahkannya pada Nasha.


"Ayo gendong dek..!! Ini anakmu" aku berusaha keras membujuk Nasha dan Nasha memejamkan mata, memeluk dan mencium anakku. Refleks aku ikut memejamkan mata tak kuat melihatnya. Dadaku sakit sekali melihat pemandangan ini. Tapi sungguh anak ini adalah anakku dan Nasha. Anak yang aku tunggu hadirnya setelah aku kehilangan buah hatiku.


Aku melihat tangan Nasha yang mulai gemetar, kuambil anakku dan meletakkannya kembali pada box bayi.


POV Bang Gesang end.


***


Bang Gesang melihat Nasha belajar menyusui Baby Setha. Setha sangat nyaman dalam dekapan Nasha.


Bang Gesang mendekati mereka berdua dan mengusap rambut panjang Nasha. Hatinya begitu sakit melihat Setha dalam dekapan Nasha. Ia tau istrinya belum sepenuhnya menerima keadaan kedua putranya.


Setha sudah selesai menyusu dan Nasha menidurkannya di ranjang mereka.


"Sayang, katakan sesuatu" Bang Gesang kelabakan karena Nasha sedikit kasar pada putranya.


"Bang Petir.. tolong hubungi dokter, saya cemas dengan keadaan Nasha" titah Bang Gesang karena saat itu tidak ada yang bisa di mintai bantuan selain Abangnya Nasha.


:


Brigas menangis kencang karena lapar dan haus. Setha pun menyusul dengan tangisnya. Bang Gesang berusaha menenangkannya tapi kedua putranya memang membutuhkan ibunya


"Sayang.. anak-anak haus, kamu gendong ya..!!" bujuk Bang Gesang. Semakin lama tangisan Brigas semakin menyedihkan. Bang Gesang sangat tidak tega melihat bayinya


"Kasihan anak kita sayang, dia butuh kamu"

__ADS_1


Nasha menutup telinganya dan menangis tidak ingin mendengar apapun. Bang Gesang yang mendekatkan Brigas padanya juga di tolaknya.


"Nasha nggak mau mereka Bang. Mereka bukan anak kita. Nasha takut..!!!" teriak Nasha.


Bang Petir menggendong Brigas menenangkan keponakannya sebisa mungkin. Bang Gesang sudah menunduk tak berdaya dalam tangisnya lalu menggenggam erat tangan Nasha dan memeluknya meski Nasha menolak, Bang Gesang tetap memeluknya.


"Kamu membutuhkan Abang saat ini. Abang tau hatimu sakit, tapi tidak mungkin kita menolak darah daging kita sendiri. Brigas dan Setha adalah anak kita berdua sayang. Kamu harus terima dengan ikhlas karena mereka yang terlahir dari rahim mu adalah ungkapan sayang Abang sama kamu"


Nasha menangis belum bisa menerima kenyataan ini, masih sangat sulit baginya harus menerima kenyataan bayinya tidak seperti bayi lain yang lucu dan menggemaskan. Suara tangisan Setha kembali terdengar. Bang Gesang melepas pelukannya dan mencoba mendekatkan Setha pada ibunya lagi.


"Lihat sayang, wajahnya mirip dengan Abang, tangisnya yang rewel sangat mirip denganmu" bujuk Bang Gesang.


Nasha masih kalut, dengan perasaan begitu terluka mencoba melihat Setha perlahan, Bang Gesang sangat tau Nasha sedang mencoba menguatkan dirinya menghadapi kenyataan.


POV Bang Gesang.


Nasha gemetar melihat Setha. Disentuhnya bayi mungil tanpa dosa itu.


"Nasha nggak bisa Bang" isakan tangisnya juga menyakitkan hatiku


Kutatap mata Nasha, aku mengisyaratkan kalau dia sanggup melakukannya. Bagaimana pun juga Brigas dan Setha adalah anaknya.


Nasha menerima Setha. Bayi mungilku itu mulai diam dan mencari kehangatan ibunya. Nasha mulai menyusui Setha dengan derai air mata yang terus mengalir. Aku luluh lantah menangisi anak dan istriku. Biarlah Nasha yang melihatku seperti ini. Saat ini aku juga merasakan sakit yang sama seperti dirinya. Hingga beberapa lama akhirnya Setha bisa tertidur dengan pulas, aku mencoba mendekatkan Brigas agar Nasha mau menyusuinya juga.


"Rasanya sakit sekali Bang menerima semua ini" Nasha sesenggukan meremas pakaian di dadanya.


...


Dokter terlambat datang karena terkena macet di jalan.


"Pak Wira, istri bapak masih bisa di katakan baik, hanya saja memang ada depresi karena masalah yang bapak ceritakan tadi" dokter menjelaskan. Aku sengaja mengambil dokter luar untuk menangani Nasha mengingat Nasha tidak hanya trauma persalinan.


"Apa yang harus saya lakukan dok?"


"Saya akan beri resep obat dan jika ada waktu, refreshing bersama keluarga adalah salah satu cara yang baik untuk meringankan beban perasaan istri bapak" Dokter menjelaskan


"Baik dok, sebisa mungkin secepatnya akan saya coba"


:


Nasha sudah tidur setelah dokter memeriksanya. Aku melihat Brigas dan Setha juga tidur dengan pulas.


"Papa yakin mama sangat menyayangimu. Mama hanya butuh waktu untuk menata hatinya. Papa janji tidak akan membiarkanmu dan mama bersedih setelah apa yang kita lewati sayang" Aku menciumi kedua putraku sembari menahan kuat sakit di hatiku.

__ADS_1


Secepatnya aku berjalan masuk ke kamar mandi. Ku nyalakannya shower dan mengguyur tubuhku. Aku menyandarkan punggungku di tembok, merosot dan menangis menumpahkan segala beban perasaanku.


POV Bang Gesang off.


Nasha bangun dari tidurnya dan melihat Bang Gesang tidak ada di sampingnya. Lamat terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Nasha berjalan pelan untuk melihatnya. Sungguh terkejut Nasha melihat Bang Gesang duduk di bawah guyuran shower. Bibir Bang Gesang yang membiru menandakan Bang Gesang duduk di kamar mandi begitu lama. Nasha mematikan keran air.


"Kenapa bangun sayang?" tanya Bang Gesang.


"Nasha mau di temani Abang" Jawab Nasha mencoba menahan perasaan seakan tak terjadi apapun.


"Berjanjilah jangan seperti tadi lagi ya! Abang sangat menyayangimu dan anak-anak"


"Nasha janji Bang, karena Nasha juga sayang Abang.........."


Hening sesaat, mata Bang Gesang menatap mata Nasha. "Juga Brigas dan Setha" Bang Gesang memeluk erat Nasha dan menghujaninya dengan ciuman.


"Kamu malaikat yang selalu ada di sini..!!" Bang Gesang menempelkan tangan Nasha pada dadanya.


Nasha tersenyum bahagia dan lega melihat Bang Gesang baik baik saja begitu pula sebaliknya.


"Bang, Nasha kedinginan" ucap Nasha dengan manja.


Bang Gesang melepas pakaiannya dan melilitkan handuk di pinggangnya lalu mengangkat Nasha yang ikut basah menuju lemari pakaian.


Bang Gesang mengambil pakaian dan memakainya. Nasha pun mengganti pakaiannya karena basah saat Bang memeluknya tadi.


Bang Gesang dan Nasha masuk ke dalam satu selimut dan mereka tidur bersama hingga pagi membiarkan lantai yang basah karena tetesan keduanya.


***


Bang Gesang bangun dari tidurnya dan melihat Nasha sedang menyusui sambil mengajak Brigas bercanda. Beberapa saat Bang Gesang memperhatikan mereka. Ada rasa damai melihat kedua malaikat itu tertawa bahagia. Diliriknya Setha sudah tidur pulas menandakan putranya itu sudah kenyang.


Bang Gesang mendekati Nasha dan Brigas.


"Anak papa sudah kenyang?"


"Sudah papa" Suara manja Nasha menghangatkan hati Bang Gesang.. istrinya perlahan sudah mampu membuka hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2