Kehormatan

Kehormatan
44. Perlindungan.


__ADS_3

"Maaf, Nyonya Wira baru saya antar, tadi sempat mual" Kata Bang Gesang di ujung pintu saat membukanya untuk Nasha.


"Mohon maaf saya terlambat" Nasha menangkupkan kedua tangannya karena tidak enak dengan istri anggota yang lain.


"Nggak apa-apa Om Wira" jawab Mbak Lela Arko kemudian mengulurkan tangannya menyambut Nasha yang tersenyum malu-malu.


~


"Ijin ibu Wadan.. ibu-ibu memiliki uang kas. Jadi jika baju olahraga yang baru di rasa terlalu mahal.. apa bisa kita ambilkan sebagian dari uang kas, dan sisanya di cicil selama dua bulan untuk pengadaan pakaian tersebut. Mengingat kita tidak tau pasti kondisi ekonomi per kepala keluarga"


"Nggak bisa Mbak Wira.. kita ini istri anggota. Suami punya gaji, masa pakaian saja harus mencicil"


"Baik Mbak Panji. Tapi kembali lagi, masing-masing kepala keluarga punya kebutuhan ekonomi masing-masing. Jika di rasa memberatkan.. maka saya usul sisanya untuk di cicil" jawab Nasha. "Secara tidak langsung, ibarat kata.. kita sudah memotong uang susu hanya demi pakaian olahraga yang tidak setiap saat kita pakai"


"Ijin ibu, kami setuju dengan ibu Wira" jawab seorang anggota kemudian di setujui dengan anggota yang lain.


...


"Sha.. kenapa sekarang kamu jadi wanita yang angkuh dan sombong? Aku lebih dulu jadi anggota disini. Kenapa suaramu lebih banyak di dengar?" Tegur Diani.


Nasha mengingat setiap ucapan Bang Wira. Dalam hatinya tetap menyayangi Diani sebagai sahabatnya. Tapi ia pun tak ingin Diani semakin di permalukan orang.


"Sudahlah Di.. jangan membahas sesuatu yang tidak penting. Kita ini hanya seorang istri yang mendampingi suaminya. Kegiatan dalam organisasi adalah kegiatan sosial.. bukan sebagai ajang cari muka." Jawab Nasha.


"Jadi kamu menuduhku hanya untuk cari muka pada atasan? Pada Ibu Danyon dan Wadanyon???" Diani terlihat memasang wajah murka.


"Aku tidak mengatakan seperti itu, tapi kamu yang sudah menjawab alasanmu sendiri."


Emosi Diani semakin menjadi, ia gelap mata dan mendorong Nasha tapi dengan sigap Bang Panji mampu menahannya.


"Apa-apaan kamu Di????" Bentak Bang Panji menegur Diani. "Kamu nggak apa-apa dek??" Jelas sekali kecemasan Bang Panji terhadap Nasha masih sangat nyata.


"Panggilan itu tak pernah berubah.. 'dek', kau pun hampir tak pernah memanggilku dengan selembut itu Bang" kata Diani kemudian memilih pulang.


"Dii..!!!!!!!!"


"Abang kejar Diani dulu. Hamilnya sudah besar Bang" Nasha sedikit mendorong Bang Panji agar segera mengejar Diani.

__ADS_1


~


"Apaaa?? Terus kamu bagaimana?? Ada yang sakit????" Bang Gesang langsung bereaksi saat Nasha jujur dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Ini Abang lihat sendiri. Nasha nggak apa-apa. Nasha sehat, Bang Panji menahan badan Nasha"


"Alhamdulillah" Bang Gesang mengusap wajahnya mengurai kelegaan. "Kamu istirahat disini dulu. Jangan kemana-mana.. Abang tinggal sebentar.. masih ada pekerjaan"


Nasha mengangguk dan berbaring di ranjang kecil milik Bang Gesang di dalam ruangan.


~


Bang Gesang berniat mengetuk ruangan Bang Panji yang tidak jauh dari ruangannya. Ingin berterima kasih padanya, tapi ia mengurungkan niatnya saat Bang Panji benar-benar sangat marah pada Diani.


"Kelakuanmu itu sangat buruk Di..!!! Berbulan-bulan Abang membimbing mu, agar kamu membuang segala sifat burukmu. Abang punya perasaan Di. Entah dosa apa sampai Abang harus menerima hukuman seberat ini. Dulu Abang sangat menyayangi mu.. sampai kamu meminta Abang untuk menikahi Nasha. Setelah menikah, Abang tak bisa memungkiri.. hati ini saya juga sangat mencintai Nasha." Bang Panji sampai menangis berhadapan dengan Diani. "Namun semua hancur berantakan, semua karena ulahmu satu persatu"


Diani terdiam menahan tangisnya.


"Jika saja tidak ada anak di dalam perutmu. Abang sudah menceraikanmu Di" kata Bang Panji.


"Jika selama menjadi istrimu, akhlak ku tidak baik. Maka menikahlah dengan wanita yang menurut Abang baik, asal.. Abang jangan menceraikan aku" pinta Diani kemudian pergi dari ruangan.


~


Bang Gesang segera pergi dari sekitar ruangan Bang Panji.


//


"Apa hubungan mu dan Oma Nena?"


"Maksud Abang apa?" Diani mengusap air matanya kemudian memasang wajah angkuh di hadapan Bang Gesang.


"Kau lihat jabatanku?? Percuma kau membohongiku Di..!!"


Diani tersenyum sinis. "Urusi saja urusanmu, tidak usah ikut campur..!! Atau kamu memang ada rasa untuk ku.. Bang Wira"


Bang Gesang tersentak dan sedikit berhati-hati dalam tindakannya, sebab salah langkah sedikit saja.. dirinya dan rumah tangga nya bisa hancur berantakan.

__ADS_1


"Kenapa? Lettu Gesang Wira takut terlibat skandal dengan istri Lettu Panji?"


"Begitukah?" Bang Gesang mencoba memberanikan diri tegas menghadapi Diani. "Kau akan tamat, jika kusampaikan tentang Nena yang ada di belakang punggungmu. Bukan saja Panji akan hilang, tapi pernikahan mu juga hanya akan menjadi cerita. Kau mungkin tidak ingin di ceraikan, tapi satu kali pria mengucap talak.. maka kau hanya akan menjadi serpihan debu..!!!!"


"Bang.. tolong jangan sampaikan pada Bang Panji tentang apapun yang Abang ketahui..!!" Pinta Diani sedikit cemas.


"Maka seujung kuku pun, jangan pernah mengucap atau menyentuh istri Lettu Gesang Wira.. jika kau tidak ingin menerima akibatnya..!!!!!!" Ancam Bang Gesang tak main-main menciutkan hati Diani.


...


Nasha masih tertidur saat Bang Gesang kembali ke ruangannya. Senyum Bang Gesang merekah tampan. Ia menyentuh pipi Nasha dengan punggung jari tangannya. "Tidur saja cantik.. apalagi sedang manja."


Tak lama Nasha menggeliat melihat Bang Gesang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Abang lama sekali" protes Nasha.


"Masa sih, hanya satu jam saja Abang tinggal" kata Bang Gesang.


"Nasha lapar Bang'


"Sayangnya Abang mau makan apa? Si kecil pasti juga lapar" tangan Bang Gesang beralih mengusap perut Nasha.


"Abang minta makan ke rumah mbak Lela ya..!!" Pinta Nasha.


"Astagfirullah.. kenapa harus minta Wadanyon sih.. kamu ini..!!" Bang Gambar menggeleng menepuk dahinya. "Malu lah sayang. Abang masih kuat belikan kamu makan"


"Tapi anak Abang mintanya begitu"


"Duuh Tuhan, ngadep Wadan lagi" gerutu Bang Gesang.


"Nggak ikhlas nih Bang?"


"Ikhlas sayang, ini juga mau ke ruang Wadan" tanpa berpikir lama, Bang Gesang segera berdiri kembali dan melangkah keluar ruangan. "Ampun dah bumil" gumamnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2