Kehormatan

Kehormatan
76. -


__ADS_3

"Iihh keciiill, Abang nggak suka" Bang Setha mencolak colek pipi baby Ganesha. "Di buang saja Yah..!!"


"Heehh.. enak saja main buang. Sama adik harus sayang..!!"


"Ini yang buat Mama sakit ya Ayah??" Tanya Bang Brigas sembari mencubit pipi Ganesha.


"Allahu Akbar.. Jangan Bang Brigas..!!! Adik sakit. Kalau belum cuci tangan jangan pegang pipi adik..!!" Tegur Bang Gesang, sejak pulang dari rumah sakit kemarin hatinya ketar ketir karena si Abang kembar sangat aktif melihat sang adik. Abang Brigas yang melihat Ganesha seperti mainan dan Bang Setha yang melihat adiknya bagai musuh yang sangat mengganggu.


"Abang Setha nggak suka adik." Setha keluar dari kamar Mama Nasha dengan berlari.


"Lho Bang, Abang Setha kenapa?" Nasha menegur Bang Setha namun langkahnya masih sangat pelan dan meraba-raba karena keadaannya belum pulih.


"Ayah hanya sayang Ganesha" jawab Setha.


"Kata siapa? Ayah juga sayang sama Abang" bujuk Nasha.


Bang Setha berlari keluar rumah sekencang mungkin sampai tak sengaja menabrak Bang Petir.


"Eehh.. ada apa le?" Tanya Bang Petir.


"Ayah lebih sayang Ganesha daripada Abang Setha" kata Setha.

__ADS_1


Bang Petir pun menggendong keponakannya yang masih kecil. "Kenapa Abang Setha tanya begitu? Ayah sayang Abang Setha, Abang Brigas juga adik Ganesha. Ayah lebih memperhatikan adik Ganesha karena adik masih sangat kecil, belum bisa makan, belum bisa minum, belum bisa jalan apalagi bicara, jadi adik masih butuh Ayah sama Mama."


"Jadi Ayah sayang Abang?"


"Sayang donk. Abang tenang saja" jawab Bang Petir.


~


Bang Petir melihat Bang Gesang sibuk sendiri dengan bayinya. "Sesekali perhatikan di kembar..!!" Ia pun menegurnya.


"Saya sudah berusaha Bang, tapi mau bagaimana lagi.. Nasha belum begitu sehat, jadi mau tidak mau saya sendiri yang mengurus semuanya.


"Pakai saja baby sitter Wir" saran Bang Petir.


"Biar Nasha cari sendiri Wir, yang sesuai selera nya. Kamu hanya memantau saja..!!"


"Sudah pernah juga, dan tetap dia tidak cocok dengan baby sitter nya dan apapun itu selalu Nasha kerjakan sendiri" Bang Gesang menerangkan yang sebenarnya pada Bang Petir.


"Oohh.. mungkin baby sitter kalian terlalu muda atau seumuran sama Nasha. Dia takut baby sitter itu akan melirik mu" kata Bang Petir mulai menebak.


"Aku nggak mikir apa-apa Bang, pikiranku hanya ingin meringankan tugas Nasha saja."

__ADS_1


"Tapi pikiran perempuan tidak semua begitu. Lebih baik kamu carikan ibu setengah baya yang masih kuat bekerja untuk menjaga anak-anak. Jadi hati Nasha pun juga tenang" Bang Petir menepuk bahu Bang Gesang. "Nanti aku akan bantu jaga Brigas dan Setha, sekalian aku akan memberi pengertian pada keduanya agar mereka paham akan hadirnya keluarga baru di tengah kalian"


...


Malam hari Nasha masih meringis kesakitan. Persalinan Ganesha memang terbilang cepat tapi rasanya sungguh nyaris mencabut nyawanya. Banyaknya jahitan membuatnya tidak leluasa untuk bergerak. Karena bosan hanya merebahkan diri di atas ranjang. Nasha pun memilih berjalan kecil di sekitar rumah untuk melemaskan ototnya.


Tak di sangka Bang Gesang berdiri di belakangnya dan menirukan gaya dan cara Nasha berjalan. Merasa ada yang menirunya, Nasha pun menoleh. "Abang kenapa?"


"Nggak apa-apa. Menemani kamu jalan saja." Jawab Bang Gesang.


"Oke.." Bang Gesang mengambil langkah besar lalu melompat berjingkat-jingkat seakan meledek Nasha yang tidak bisa banyak tertawa apalagi membalas apapun perlakuanya.


"Abang meledek Nasha?" Tanya Nasha.


"Nggak.. siapa yang meledek??" Jawab Bang Gesang sembari melompat kesana kemari.


"Abaaang.. Nasha sakiit, jangan meledeeeekk..!!" Teriak Nasha kesal.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2