
Bang Gesang mengerjab. Rasa peningnya belum juga hilang.
"Kamu tidak perlu gladi penyambutan dan lain-lain. Hanya duduk saja dan langsung ikut kegiatan. Mana ada perwira mabuk-mabukan" ledek Bang Panji.
"Aku mual juga bukan mau ku Pan..!!" Terdengar Bang Gesang sedikit emosi menanggapi Bang Panji.
"Kau ini pemarah sekali" hanya tawa saja mengiringi ucap Bang Panji.
//
"Jangan perlakukan saya seperti ini..!! Saya ini istri Lettu Panji dan ingat.. saya tidak mau berpisah dengan Lettu Panji." Kata Diani.
"Tapi anda dan Lettu Panji sudah berpisah secara agama. Ada bukti dan saksi. Berkas surat permohonan cerai dari Lettu Panji sudah masuk ke bagian personel hanya tinggal menunggu ikrar talak yang baru selesai beberapa waktu yang lalu" jawab anggota yang menyelidiki kasus Lettu Panji dan Diani.
"Apaaaa???" Diani sungguh kaget mendengar ternyata Bang Panji memang sudah merencanakan perceraian mereka sejak lama. "Apa Bang Panji tidak tau jika dia menceraikanku maka dia akan kehilangan hak asuh atas anaknya?????" Diani masih mencari celah kemenangan meskipun ia tau kemungkinan nya begitu kecil.
Pihak kepolisian yang juga ikut menangani kasus Diani pun melirik kuasa hukum militer milik Bang Panji.
"Apa kalian tidak tau pelanggaran Bang Panji?? Bang Panji menikah lagi atas ijin dariku"
"Mohon maaf ibu Diani. Pak Panji menikah setelah menyerahkan berkas cerai, juga menceraikan ibu setelah ibu melahirkan" jawab pengacara militer Bang Panji.
"Tidak bisa, anak-anak ikut saya..!!" Pekik Diani.
"Anda mendapatkan tuntutan dari Lettu Gesang Wira karena sudah menghilangkan calon anak dari Lettu Gesang Wira." Jawab pengacara itu lagi. "Pak Panji dan Pak Wira sudah mengirim bukti tindakan tidak terpuji ibu Diani...!!"
"Tidaaaaakk.. saya tidak salah. Saya tidak mau di tuntut dan mendekam dalam penjara" teriak histeris Diani.
//
Malam tiba. Nasha tak hentinya mengunyah apa saja yang di mintanya sejak tadi. Berbeda dengan Bang Gesang, suaminya itu malah tak sanggup menelan apapun selain minum es jeruk dan biskuit bayi.
Senyum Bang Gesang mengembang lega melihat Nasha bisa makan tanpa hambatan.
"Abang nggak makan?" Tanya Nasha.
"Nanti saja. Kamu makan saja yang banyak" jawab Bang Gesang. Tak lama rasa mual menghampiri nya.
"Nasha kenyang Bang" Nasha pun meletakan buah jambu di atas nakas.
"Hhkkk.." Bang Gesang berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Kening Nasha seketika berkerut.
~
"Kenapa?"
"Abang mual dek" jawab Bang Gesang setelah sedikit lebih lega. Ia memasukan dua butir permen mint sebagai pengobat rasa pahit di sekitar rongga mulut karena memang perutnya telah benar-benar kosong.
"Malas lihat Nasha?"
Bang Gesang melihat raut wajah Nasha yang tidak bersahabat. "Ya nggak lah, masa lihat istri sendiri malas"
"Terus kenapa mual?" tanya Nasha.
"Si dedek ngajak main Ayahnya. Kebiasaan anakmu ini lho, nggak bisa lihat Ayahnya santai sedikit" Bang Gesang membelai rambut Nasha. "Abang rela, ikhlas begini sampai anak kita lahir asalkan kamu selalu sehat. Abang bawa badan sendiri, masih bisa tahan kalau sakitnya seperti ini.. tapi kamu bawa anak kita, malah kalian jadi bertiga"
"Bener nih Bang alasannya karena dedek? Bukan karena malas lihat Nasha?" Nasha mulai menyelidik dengan segala pemikirannya.
"Abang nggak pernah bohong sama kamu" ucap Bang Gesang serius.
"Ada bohongnya.. itu............."
Tau Nasha mulai kelabakan, Bang Gesang pun memberi jeda Nasha untuk bernafas. "Cerewet sekali sih istri Abang. Kira-kira sudah berapa lama tidak di sayang?"
"Satu minggu Bang"
Memang baru satu minggu Bang Gesang dan Nasha belum melepas rindu, tapi semua terasa sangat lama bagi mereka.
"Di sayang Abang yuk..!!"
"Kata dokter nggak boleh Bang" tolak Nasha masih mengingat pesan dokter Fajar.
"Bagi yang tidak bisa menahan diri" jawab Bang Gesang.
"Abang bisa nggak?" Nasha pun ragu, tak sepenuhnya percaya pada Bang Gesang.
"Bisa sih nggak, tapi Abang usahakan hati-hati. Abang juga ingat anak dek"
Mata keduanya saling memandang. Bang Gesang kembali mendekati Nasha dan Nasha tak lagi ragu hingga terjadi sesuatu yang di inginkan.
***
__ADS_1
Badan Bang Gesang mulai bugar dan tak seperti kemarin teler bagai mayat hidup.
"Tumben segar sekali" tegur Bang Panji.
"Ya masa harus teler terus."
Bang Panji tersenyum melihat semangat littingnya sudah kembali normal. "Jangan teler lagi. Nyusahin lu"
:
"Jangan ada panggung hiburan kecuali anggota atau istri anggota yang mengisi acara..!!!" Ucap tegas Wadanyon.
Mbak Lela Arko pun tersenyum mendengar ketegasan suaminya. Beberapa waktu yang lalu dirinya memang meminta panggung hiburan untuk di tiadakan karena sejak hamil ini aura sensitif nya terganggu.
"Yaaaa.." Bang Gesang mendesah panjang.
"Kenapa Black???" Tanya Bang Arko.
"Masa satu pun nggak ada Bang?"
Para anggota mengeryit. Tak biasanya Lettu Gesang memprotes perkara seperti ini. "Apa Bu Wira hamil lagi?" Bisik seorang anggota pada rekannya.
"Mungkin saja. Pak Wira tidak pernah banyak tingkah seperti ini" jawabnya tanpa dan hanya bisa sekedar menebak.
"Kalau ibu Wira hamil. Kita ketempuhan perkara"
"Tapi duit Pak Wira ngalir" bisiknya melirihkan ucapan.
"Hmm.. tenang Om. Nanti saya sendiri yang datangkan langsung. Nggak apa-apa khan?" Tanya Mbak Lela.
"Nggak apa-apa Mbak, yang penting ada import dari luar"
Mbak Lela pun tersenyum cantik menatap suaminya yang kini tersenyum lebih lebar.
.
.
.
.
__ADS_1