Kehormatan

Kehormatan
60. Rasa di balik rasa.


__ADS_3

Terdengar suara berisik di dalam kamar Bang Panji.


"Black.. istighfar..!!!!!" Bang Arko mencoba membujuk Bang Gesang. Satu persatu barang di dalam kamar pecah, suara jerit Diani mendominasi dengan kencangnya dan akhirnya Bang Petir datang membawa Nasha yang sepertinya tadi sedang terlelap, terlihat dari wajah sayu Nasha. "Suamimu di dalam. Cepat bujuk dia..!!!!"


"Ampuuunn Bang Wira..!!" Suara Diani begitu ketakutan di dalam sana.


"Jangan pernah libatkan istri Lettu Wira dalam masalahmu..!!!!!!!" Bentak Bang Gesang.


"Sakiit Bang, aku nggak berani lagi berurusan dengan Nasha" kata Diani dengan suara nyaris hilang tercekat.


pyaaarrr..


Kemudian terdengar suara hantaman di dinding.


"Ampuuunn Bang..!!!"


Bang Bujang menyenggol lengan Nasha yang tertegun entah memikirkan apa.


"Baang..!!!!" Sapa Nasha dengan suara melengking. "Abaaaang..!!!!!!" Panggil Nasha.


Keributan itu terhenti sejenak.


"Kalau Abang berani berduaan dengan wanita lain.. Nasha pulang ke rumah Papa sekarang juga..!!!!" Ancam Nasha.


Tak lama pintu terbuka, terlihat kucuran darah dari sela jemari Bang Gesang.


"Abaaang..!!" Sungguh kaget Nasha melihat banyaknya luka di tangan Bang Gesang, bahkan ada pecahan kaca yang menempel di tangan.


"Mana anggota kesehatan, cepat..!!!!" Perintah Bang Arko.


Dengan langkah gontai, Bang gesang menghampiri Nasha lalu memeluknya dengan erat. "Abang meninggikanmu, setinggi-tingginya wanita dalam hidupku. Dia.. tidak punya hak apapun melontarkan kata-kata tidak pantas" ucap Bang Gesang melemah.


Nasha memahami perasaan Bang Gesang. Suami yang sangat menyayangi nya melebihi apapun. Air matanya tumpah melihat lelehan darah dari tangan Bang Gesang. Nasha pun membalas pelukan Bang Gesang dan mengusap dadanya. "Kenapa masuk kamar sama perempuan lain? Abang nggak takut Nasha cemburu?" Tegur Nasha. Sungguh besarnya cinta Bang Gesang membuatnya luluh lantak.


"Dia tidak pantas kamu cemburui" jawab Bang Gesang.


"Lalu siapa yang pantas??" Goda Nasha tapi tangannya tetap mengusap punggung Bang Gesang. Disana para anggota sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Termasuk mengamankan mantan istri Lettu Panji.


"Tidak ada, karena Abang tidak pernah mengkhianati mu."


//


Bang Panji bernafas lega saat dokter mengatakan bahwa kandungan Nisa sehat dan hanya mengalami syok. "Alhamdulillah.."


Nisa tidak berani menatap mata Bang Panji karena terlalu takut.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bilang?" Bang Panji mengulang pertanyaan nya.


Nisa masih saja menangis tak berani menatap mata Bang Panji.


"Kamu istri Mas. Sudah seharusnya kamu bilang sama mas atas setiap keadaan yang terjadi" kata Bang Panji mengusap perut Nisa.


"Ni_sa takut Mas. Nisa akan menyusahkan mas Panji saja karena Reiya masih tiga bulan." Jawab Nisa.


"Itu urusan Mas. Yang penting kamu sama anak kita sehat. Nanti Mas carikan pengasuh untuk membantumu menjaga anak-anak."


"Nggak usah Mas, Nisa juga pembantu" agaknya saat ini Nisa menjadi sedikit lebih sensitif.


"Jangan bilang begitu lagi. Diani yang menganggap mu begitu, tapi Mas tidak pernah menganggap mu begitu. Lagipula, mau namanya pembantu sekalipun.. mereka sangat berjasa. Meringankan beban mu meskipun kamu pun banyak pegang kendali dalam rumah tangga" jawab Bang Panji.


POV Bang Panji.


Aku tak menyangka istriku Nisa akan mengandung calon buah hati kami secepat ini. Tak ada yang kusesali. Aku hanya berharap, istriku Annisa akan selalu sehat dan menjadi pelabuhan terakhirku.


Sungguh sejak tadi aku mendengar kehamilan istriku, hatiku was-was tidak tenang, apalagi aku meninggalkan keributan di rumahku. Entah bagaimana kelanjutan nasib Diani setelah kutinggalkan tadi.


Jujur aku tidak banyak ingin tau tentang wanita yang kini telah menyandang status sebagai mantan istriku, yang aku tau kini aku telah memiliki Nisa di hatiku.


POV Bang Panji end.


"Masuk..!!"


Terlihat Iskandar masuk ke dalam ruang rawat Nisa.


"Ada laporan apa?" Tanya Bang Panji.


"Ijin.. Ibu Diani sudah di amankan Kapten Petir dan Kapten Arsene. Beliau membawa ibu Diani ke kantor POM untuk di tangani lebih lanjut, juga masih berunding apakah kasus ini akan di lanjutkan pada pihak kepolisian. Sementara saat ini Ibu Diani saat ini masih menjalani proses pemeriksaan kejiwaan" laporan Om Iskandar.


"Saya minta tolong panggilkan letnan Bujang dan Letnan Wira.


"Mohon ijin Dan.. Letnan Wira sedang mendapatkan perawatan di unit kesehatan"


"Ada apa dia??"


"Siap.. ijin........"


"Ada apa??"


"Sesaat setelah Danton membawa ibu ke rumah sakit, Bu Diani mencecar Bu Nasha dan Letnan Wira tidak terima lalu menyeret ibu Diani ke dalam kamar Danton dan nyaris membunuh ibu Diani.. jika Bu Nasha tidak mencegahnya. Tangan Letnan Wira luka, tensinya meninggi" jawab Om Iskandar.


"Ya Tuhan, aku tak tau lagi kalau urusannya sama Wira. Kalau Wira sudah marah.. tembok pun retak."

__ADS_1


"Siap.. Kamar Danton yang hancur."


"Apaaaa?????" Mata Bang Panji terbelalak kaget.


//


Nasha sampai terbawa panik karena akhirnya Bang Gesang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tak tau apa sebabnya sampai Bang Gesang sakit seperti itu.


"Aman Jar, nggak ada masalah apapun" kata senior dokter Fajar. "Ini juga sudah di cek lab"


"Kok bisa ya, kenapa?" Dokter Fajar tak bisa menyembunyikan wajah bingung sembari membaca hasil lab.


"Nggak apa-apa Bang.. Jar.. Saya terima dengan ikhlas semua ini. Saya ikhlas, yang penting Nasha bahagia" ucapnya tak bisa di artikan.


"Maksudmu bagaimana Wir???"


Bang Gesang tersenyum. "Yang jelas sekarang aku lebih paham keadaan ku sendiri."


...


Bang Gesang menguatkan dirinya untuk bangkit saat melihat Nasha tidur menelungkupkan kepala di ranjang rumah sakit. Perlahan ia memindahkan Nasha untuk tidur di atas ranjang.


"Eeehh black.. kau apakan rumahku?" Tegur Bang Panji saat sahabatnya sedang mengangkat Nasha dan merebahkan Nasha di atas ranjang.


"Aku malas lihat istrimu" jawab Bang Gesang enteng.


"Mantan istri, istriku hanya Nisa" Bang Panji mulai menegaskan.


Bang Gesang menyangga tubuhnya usai merebahkan Nasha. Melihat keadaan Bang Gesang tidak stabil, Bang Panji pun sigap membantu dan merebahkan Bang Gesang pada ranjang yang sama dengan Nasha setelah menarik pembatas di sisi ranjang.


"Lu sakit apa sih pot?"


"Nggak sakit"


"Terus???????" Bang Panji bingung menerka jawaban Bang Gesang yang mengambang.


Tak ada jawaban dari Bang Gesang. Ia hanya mengembangkan senyum tampan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2