Kehormatan

Kehormatan
26. Harapan tipis.


__ADS_3

"Dek.. sadar dek...!!" Bang Gesang panik menyadarkan Nasha. Tangannya gemetar mengacak seisi nakas mencari segala obat-obatan yang mungkin bisa di pakai untuk menyadarkan Nasha.


"Biasanya Nasha simpan barang begitu di dalam lemari" kata Bang Bujang membiarkan kepanikan Bang Gesang.


Bang Gesang beralih membuka lemari. Ia mengacak dan mencari seisi sudut lemari. "Nggak ada Jang.. dimana??" Tanya Bang Gesang gugup.


"Cari aja..!!" Bang Bujang mengoles minyak yang ia ambil dari kantong celananya lalu mengoles pada sekitar hidung dan pelipis Nasha, tak lupa di sekitar perut adik perempuannya.


"Nggak ada Jang.. yang benar kamu..!!!!!" Suara Bang Gesang sampai meninggi saking paniknya.


"Nggak ada ya sudah, Nasha juga sudah beres nih"


Bang Gesang menoleh melihat perlahan Nasha sadar karena Abangnya sudah mengoles minyak angin. Tak menunggu waktu lama Bang Gesang segera menghampiri Nasha.


Refleks Bang Gesang kembali memeluk Nasha. "Dek.. Ya Allah kamu ini. Abang bisa di tempeleng Bapakmu kalau ada apa-apa sama kamu"


"Black.. apa mengacak-acak isi lemari pimpinan juga termasuk kegiatan ajudan?" Tegur Bang Bujang.


Bang Gesang melepas pelukannya lalu menoleh melihat hasil kerjanya barusan. Ia terduduk lemas di samping ranjang. "Maaf.. nanti saya benahi"


"Heran gue. Yang di acak cuma jerohan doank. Kawin lu sanaaaa.. biar nggak sayang dokter bedah ngebentuk senter mungil mu" ledek Bang Bujang.


Wajah Bang Gesang merah padam mendapat ledekan dari sahabatnya yang sebenarnya memang sangat usil. "Diam Jang, niat sekali kamu buat aku malu. Ada perempuan nih" bisik Bang Gesang geregetan.


"Buktikan donk..!!! Hahahaha...!!!" Bang Bujang berlari keluar dari kamar Nasha meninggalkan Bang Gesang dan Nasha berdua.


"J****k.. ngisin-ngisini" gerutu Bang Gesang salah tingkah karena ada Nasha.


~


Pikiran Bang Gesang melayang tak tentu arah saat membereskan pakaian Nasha yang jatuh berantakan. Namun dirinya tetap bersikap tenang seperti biasanya seakan tak terjadi apapun.


"Biar nanti Nasha bereskan" kata Nasha masih dengan suara tangisnya yang terdengar tertahan.


Tak lama Papa Khobar masuk ke dalam kamar Nasha karena cemas dengan putrinya yang sedang berduaan dengan ajudan meskipun pintunya terbuka lebar. Ia melihat Bang Gesang sedang memunguti barang pribadi putrinya.


"Kenapa kamu bawa ubur-ubur nya Nasha?" Tegur Pak Khobar.

__ADS_1


"Siap salah Komandan." Bang Gesang kelabakan menyembunyikan benda ajaib penunjang kecantikan seorang wanita tersebut.


Pak Khobar merampas benda tersebut dari tangan ajudan putrinya yang tinggi dan gagah. "Kamu ini lajang, jangan sampai kamu nggak tau jalan pulang gara-gara terbayang ubur-ubur. Masih mending kalau yang di ingat hanya ubur-ubur. Bagaimana kalau ternyata penasaran sama isinya ubur-ubur????"


"Siap..!!"


"Ndhuk.. ndhuk.. kalau ada barang keramat itu di simpan baik-baik." Pak Khobar sedikit mendorong lengan Bang Gesang yang jelas berpostur lebih tinggi darinya sampai akhirnya Bang Gesang sedikit bergeser memberi jalan pada Komandannya menuju lemari. Pak Khobar memasukan benda keramat tersebut pada laci lemari.


"Wir..!!!"


"Siap..!!"


"Kalau sudah selesai cepat ikut saya ke ruang kerja..!!" Perintah Pak Khobar karena keluarga Bang Panji sudah pamit untuk pulang.


"Siaap..!!"


//


"Mama tidak pernah menolak jika anak memang menyukai pilihan nya, tapi bukan pilihan seperti mu Diani" kata Mama Fia saat mereka sudah sampai di rumah.


"Cukup Diani. Mama ku juga Mama mu, jangan kurang ajar..!!" Bang Panji balik membentak Bang Panji.


"Terus saja menjadikan Nasha seorang ratu walaupun dia sudah bukan bagian dari keluarga ini, dan teruslah dengar kata Mamamu yang tidak pernah salah ini." Diani berlari menuju kamarnya.


"Lebih baik kita pulang Pa. Nampaknya Mama terlalu banyak bicara" kata Mama Fia.


Tatapan Papa Rakit sudah teramat sangat mematikan. Papa yang sangat mencintai istrinya jelas tidak bisa menerima begitu saja ucapan Diani.


"Kamu tau.. Papa ini makhluk yang paling sangat menyesal jika sempat membentak Mama mu. Diani pilihanmu dan itu rupa pilihanmu. Entah kamu yang terlalu bodoh atau Papa yang banyak menanggung dosa sampai mata hatimu buta, mentulikan telinga dari kenyataan yang ada." Ucap Papa Rakit. "Papa Khobar dan Nasha meminta Papa untuk menyimpan masalah ini.. tapi kedunguanmu membuat Papa tidak tahan. Yang mengirim surat perceraian dan ikrar talak mu itu adalah Diani. Sekarang kalian sudah bersama, didiklah istri mu sebaik-baiknya jika kau ingin mendapatkan surga. Tapi kalau kamu gagal.. pintu neraka mengintaimu. Kamu laki-laki.. imam keluarga.. arah rumah tangga mu.. ada di tangan mu..!!"


***


Seperti hari-hari sebelumnya, Bang Gesang menjemput Nasha di kampus. Beberapa hari lagi adalah hari wisuda Nasha. Dia akan menyandang gelar sarjana pertanian. Beberapa waktu yang lalu Nasha sudah lulus sidang dengan nilai yang sangat baik.


"Abang bisa jemput Nasha? Bukannya hari ini Abang ijin ada pekerjaan di Batalyon?" Tanya Nasha.


"Sudah selesai." Bang Gesang melihat jam tangannya. "Ayo.. Abang mau ada perlu"

__ADS_1


"Kalau ada perlu kenapa tidak di selesaikan saja Bang" kata Nasha.


"Perlunya juga mau minta tolong sama kamu." jawab Bang Gesang datar seperti biasa dan tidak pernah berubah sikap dingin itu.


...


Nasha bingung saat Bang Gesang memberhentikan mobilnya di sebuah toko mas ternama. "Kita mau apa Bang?"


"Abang mau melamar seorang wanita, bisakah kali ini ibu pimpinan membantu ajudan untuk memilihkan yang terbaik"


Bagai tersambar petir di siang bolong. Hati Nasha terasa begitu sakit tapi ia tetap berusaha menahannya. "Iya Bang, Nasha akan pilihkan"


~


"Bagaimana ciri-ciri calonnya Abang?" Tanya Nasha saat akan memilih sebuah cincin.


"Carikan saja seukuran jari manismu.. kulitnya serupa kulitmu"


Nasha mengangguk, matanya menyisir seluruh deretan cincin yang ada di etalase.


"Mbak.. apa ada cincin yang eksklusif? Pinta Nasha pada penjaga toko mas.


Bang Gesang tersenyum tipis. Ia tau Nasha memang sungguh tulus. Jika Nasha orang yang jahat, apapun yang terjadi.. dirinya akan menolak permintaannya atau minimal mencari perhiasan yang biasa saja.


"Bang.. lihat ini. Warna matanya kalem sekali.. baby pink." Nasha menunjukkan cincin itu pada Bang Gesang.


Tak menunggu waktu lama, Bang Gesang mengambilnya lalu memasangkan di jari manis Nasha. "Cantik sekali, secantik yang memakainya" kata Bang Gesang.


Seketika Nasha menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah karena ia menyadari pujian itu bukan untuknya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2