
POV Bang Gesang.
Tidak ada wanita yang kucintai sampai seperti ini kecuali kamu Nasha. Jika saja ada sesuatu antara aku dan Lintar, itu semua hanya karena kebersamaan kami dulu. Bergandengan tangan, kecupan sewajarnya tidak mungkin aku melakukannya karena Lintar masih sekolah.
Jangan mencemburui nya begitu dalam ya dek.. kebersamaan ku dan Lintar pupus begitu saja karena kami sama-sama saling egois, cemburu dan setelah itu kami mengambil jalan hidup masing-masing. Lintar dengan pendidikan nya, dan Abang mendalami pendidikan Intel.
Cepat sehat sayang, di dalam hatiku hanya ada Nasha seorang
POV Bang Gesang end.
POV Bang Panji.
Aku tidak nyaman di dalam rumah ku sendiri. Kehadiran Diani saja membuatku 'gerah' apalagi bertambah satu wanita lagi.
Annisa, gadis yang sengaja di bawa Diani untuk mengasuh Revan. Putraku satu-satunya dari pernikahan segitiga ku. Pernikahan yang amat sangat kusesali dan mungkin hingga seumur hidupku.
"Permisi Pak, saya mau buat susu untuk Bang Revan"
"Iya." aku segera menghindar, rasanya dunia ini sudah kehilangan aura cantik seorang wanita kecuali Mama Fia dan ibu dari putraku yang telah tiada.
Jujur hingga saat ini aku masih mengagumi mantan istriku. Dia yang lembut, dia yang polos dan dia yang sangat sabar atas segala ketidak adilanku padanya. Kini.. ku ikhlaskan dia bahagia bersama Wira. Pria pilihannya yang aku pun sudah tau bagaimana karakter, watak dan sifatnya. Aku yakin Wira mampu membahagiankan Nasha. Wanita yang belum mendapatkan kasih sayang dariku secara utuh.
"Bapak lapar? Apa mau saya buatkan makanan?" Tanya Nisa padaku, sikap kalemnya tak berbeda jauh dengan Nasha dulu.
"Nggak, tugasmu urus Revan.. bukan urus saya. Kamu bilang sama istri saya untuk buatkan kopi..!!" Perintahku.
"Maaf pak, ibu tidak ada. Sedang pergi ke mall" jawab Nisa.
"Sama siapa?? Kenapa Diani nggak pamit sama saya???" Hatiku semakin kesal saja setiap mengingat kelakuan Diani. Kali ini dia malah pergi tanpa ijin dariku membawa perut besarnya yang tidak lama lagi akan melahirkan buah hati keduaku.
"Saya tidak tau Pak."
POV Bang Panji end.
//
Lengan Bang Gesang rasanya kebas. Bagaimana tidak, Nasha tidak mau lepas dari sisinya dan terus mencengkeram kaosnya dengan erat.
"Ya Allah, bawaan bayi memang sungguh luar biasa. Nasha ku yang kalem dan lembut bisa bersikap kekanakan seperti ini"
Perlahan Bang Gesang mengangkat kepala Nasha dan menidurkan pada bantal di sampingnya.
__ADS_1
"Eghhhhhhh"
"Uuushhh..." Bang Gesang panik kemudian kembali memeluk Nasha. "Abang nggak kemana-mana" tangan Bang Gesang mengusap lembut punggung Nasha.
Tok.. tok.. tok..
"Aduuhh.. siapa nih yang datang. Mana istri nggak bisa lepas begini" gumam Bang Gesang.
"Wiraaaa.. Buka pintunya..!!! Papa sakit perut nih..!!!!!"
"Allahu Akbar.. Papa yang datang" Bang Gesang tersentak hingga membuat Nasha terbangun.
~
Usai menyelesaikan hajat, Papa Khobar melihat putrinya menangis dan sulit di tenangkan mamanya sekalipun.
"Ada apa?" Tanya Papa.
"Papaa.. Abaaang..!!"
Papa Khobar berjalan menghampiri Nasha lalu memeluk putrinya. Di lihatnya secara lekat mulai dari ujung kepala, perlahan turun hingga sela leher. Ada tanda bekas 'gigitan nyamuk', matanya menyusuri hingga tangan dan kaki Nasha.
"Abang sama Lintar........."
"Siapa Lintar??????"
"Paa.. Lintar itu anaknya Om Rakit" sambar Bang Bujang karena melihat Papa Khobar mulai naik pitam.
"Laahh.. yang benar kamu Jang"
"Beneran Pa"
"Kok Papa nggak tau ya, tua siapa sama Nasha??"
"Tua Nasha Pa. Mantan pacarnya Wira" jawab Bang Bujang.
Terdengar kembali isak tangis Nasha sampai akhirnya tangis itu berubah menjadi tangisan lepas.
"Aduuhh.. dek.. Jangan nangis lagi..!!" Bang Gesang pun kembali cemas.
"Ya Salaam.. opo to iki?" Papa Khobar menjadi bingung.
__ADS_1
"Nasha cemburu sama Lintar Pa"
Tangis itu semakin menjadi.
"Astagfirullah.. keluaar Jaaaaangg..!!!!!!!"
Mama Gina mulai paham ada sesuatu yang tidak beres, Mama segera memeluk Nasha dan membawanya ke kamar.
"Ada apa Mar, aku dengar suara tangis Nasha" tegur Papa Rakit.
"Kamu punya anak gadis?" Selidik Papa Khobar mengintrogasi Papa Rakit.
"Punya, bontot ku perempuan. Baru pendidikan Bintara. Ada apa?" Tanya Papa Rakit.
"Kenapa nggak bilang?? Nasha cemburu tuh" jawab Papa khobar.
"Bagaimana mau bilang, kamu tugas di Sabang, aku di Merauke. Kalau kita bertemu hanya dalam tugas. Group litting nggak pernah bahas anak. Kamu saja yang nggak tanya"
"Eeehh.. apa benar dulu Lintar pernah pacaran sama Wira?" Papa Khobar tiba-tiba jadi ingin tau dan membuat menantunya salah tingkah dan tidak enak hati.
"Kau tanya sendiri lah sama menantumu" saran Papa Rakit. "Katamu tadi, Nasha cemburu........."
"Papa Khobar, Pak Rakit.. mohon maaf. Terus terang Nasha memang sedang sensitif dan sangat pencemburu. Bawaan jabang bayi. Jadi saya pun tidak bisa berbuat banyak selain berusaha membuat Nasha tenang." Kata Bang Gesang dengan hati-hati. "Beberapa tahun yang lalu, setelah saya dan Lintar sepakat mengakhiri hubungan, sejak itu pula tidak ada lagi komunikasi di antara kami.. mohon di maklumi Dan.. bukan bermaksud merendahkan Lintar tapi hati saya seutuhnya sudah terkunci hanya untuk Nasha"
Papa Rakit dan Papa Khobar saling pandang dan tersenyum bijak.
"Kamu fokus saja sama Nasha dan kehamilan nya. Kita sebagai laki-laki, terutama berpangkat suami.. harus lebih banyak mengalah, ikhlas dan legowo. Saya sudah khatam momong istri ngidam. Nggak usah di ambil hati. Ambil saja hikmah dan berkahnya." Nasihat Papa Rakit menyemangati Bang Gesang.
Di sudut sana Bang Panji yang tadinya terdiam, akhirnya tak tahan untuk tidak bicara.
"Mungkin selama bersama saya, Nasha juga cemburu. Tapi saat itu.. kondisinya tidak mungkin untuk Nasha mengungkapkan rasa"
Papa Khobar pun merangkul Bang Panji. "Yang sudah terjadi ya sudah le. Papa juga sudah ikhlas. Kamu yang sabar..!!" Papa Khobar menepuk bahu Bang Panji. Terlihat jelas wajah mantan menantunya begitu penuh dengan tekanan.
.
.
.
.
__ADS_1