Kehormatan

Kehormatan
48. Selalu salah.


__ADS_3

"Kamu beli boneka atau apalah sana untuk bujuk istrimu. Kalau Mama Gina sangat suka boneka. Siapa tau Nasha juga suka". Usul Papa Khobar pada Bang Gesang.


//


"Tidak apa-apa ibu. Biar Nisa yang jaga Bang Revan"


"Nggak apa-apa, kamu tidur saja. Saya tau kamu capek. Disini ada Opanya Revan juga."


"Baik Bu. Terima kasih"


...


Papa Rakit senang sekali bermain dengan cucunya. Disana Mbak Narya pun juga sangat menyayangi Revan.


"Dimana Diani?" Tanya Papa Rakit.


"Ke mall Pa. Jalan-jalan"


"Bukannya Papa melarang. Perut Diani juga sudah besar. Bagaimana kalau ada apa-apa di jalan" kata Papa Rakit.


"Pa.. Ma.. selepas Diani melahirkan. Aku mau mengajukan gugatan"


"Panjii.. jangan main-main dengan ucapanmu itu"


"Aku bersungguh-sungguh Pa. Aku nggak kuat dengan segala perangai Diani. Aku sudah berusaha mendidiknya, tapi dia tetap tidak mau tau" jawab Bang Panji.


"Tapi le. Bagaimana nasib anakmu? Revan dan calon bayimu sangat butuh ibunya" Mama Fia mencoba melunakan hati sang putra.


"Aku malu sekali ma. Hidupku sudah hancur. Selama ini Diani juga tidak mengurus Revan. Anakku makan sama tetangga, sama Mbak Narya, malah kadang Nasha yang menyuapi." Kata Bang Panji. "Lagipula.. aku sudah beberapa waktu ini tidak memberinya nafkah batin"


"Walau bagaimanapun.. kamu tidak boleh memperlakukan istrimu seperti itu. Diani masih berhak mendapatkan perhatian mu"


"Hatiku sudah mati rasa Pa, setelah semakin hari aku menyadari kelakuannya yang semakin di luar batas....."


Papa Rakit menyentuh tangan putranya, ia memahami betul bagaimana rasanya gagal mendidik seorang istri.. hingga tidak sanggup menyentuh wanita yang sah menjadi istrinya. Papa Rakit terdiam sejenak. Beliau tau pasti.. saat ini putranya tengah mengalami masa tekanan batin yang amat berat.


"Kamu sudah dewasa, bisa menentukan apa yang terbaik dalam hidupmu. Kamu sudah pernah satu kali melakukan kesalahan besar dan jangan pernah kamu lakukan kesalahan untuk kedua kalinya" Papa Rakit menepuk bahu Bang Panji.


Mama Fia tidak berani terlalu banyak bicara, sebab apapun yang akan menjadi keputusan putranya.. adalah memang hak Bang Bang Panji.


Terdengar bunyi mobil dari luar rumah, terlihat Diani pulang saat hari sudah malam.

__ADS_1


"Darimana kamu..!!" Tanya Bang Panji tak bisa menahan emosinya.


"Main.. bosan di rumah" tanpa memberi salam dan menyapa mertuanya.. Diani langsung masuk ke dalam kamar.


"Dianiiii..!!" Bang Panji membentak Diani. Seketika dadanya terasa sesak dan nyeri.


"Sudah.. biar saja. Papa dan Mama sudah paham perangainya" kata Papa Rakit.


//


"Kasihan lho Bang Wira, dari tadi stress mikir kamu" bujuk Papa Khobar di temani Bang Petir dan Bang Bujang.


"Papa bela Abang karena sesama pria khan?" Tuduh Nasha.


"Nggak lah, kalau memang Wira salah.. tanpa ampun Papa akan menghukumnya, tapi saat ini Wira nggak salah lho dek. Lantas kamu marah karena apa?" Papa Khobar tetap sabar memberi perhatian pada putri kecilnya yang tengah mengandung. Sampai kapanpun.. Nasha tetap akan menjadi putri kecil kesayangannya.


"Pokoknya Abang salah."


"Wiraa.. ayo ngaku salah..!!" Pinta Papa Khobar.


Bang Gesang pun masuk ke dalam kamar, ia menyembunyikan hadiah di belakang punggungnya. "Dek.. sayang, Abang minta maaf ya..!!"


"Apa itu?" Nasha melirik ke arah belakang punggung Bang Gesang.


Seketika wajah Nasha meremang merah. Matanya berkaca-kaca melihat boneka yang di bawa Bang Gesang.


"Wiirr..!!!"


"Black..!!!!!!" Bang Bujang pun ikut terpekik.


"Pantas sampai putus nggak punya pacar. Nggak peka begitu jadi laki" celoteh Papa Khobar.


"Lu gimana sih Black.. masa bawa boneka lutung??????" Tegur Bang Bujang.


"Ini lucu Jang"


"Lucu buat mata lu, kalau untuk Nasha yang lucu kelinci" kata Bang Bujang.


Papa Khobar, Bang Petir, Bang Bujang tak tertinggal.. Bang Gesang sendiri menjadi panik melihat Nasha sudah menangis.


"Kalian keluar saja..!! Biar Mama bujuk Nasha lagi..!!" Mama Gina mendorong ke empat pria merepotkan untuk keluar dari kamar sembari meninggalkan bisikan untuk Bang Gesang. "Coba kamu masakin omelette.. Nasha paling suka omelette"

__ADS_1


"Tunggu Ma..!!!" Bang Gesang mencoba bicara dengan Mama mertuanya tapi Mama sudah menutup pintu kamar.


"Paa.. apa beda omelette dengan telur goreng?"


"Sama saja..!! Cepat buat..!!"


~


"Apa nih bahan untuk buat omelette??" Gumam Bang Gesang sibuk sendiri di dapur. Ia menyandarkan kedua tangannya bertumpu pada meja dapur sembari berpikir keras. "Aku ini tentara, terlebih aku seorang perwira. Masa hanya masak telur saja aku nggak bisa"


Bang Gesang pun menghampiri tempat biasa Nasha menyimpan bumbu. "Telur, madu, jahe, susu, kencur, kunyit.. sama apa lagi ya.. astagaaa.. ngawur nggak nih?" Bang Gesang melihat lagi barang yang sudah ia kumpulkan. "Kurang apa ya?? Aahh cukup. Goreng saja..!!"


~


"Ini apa?" Nasha ragu melihat bentuknya, apalagi seluruh keluarga.. berniat menghentikan tapi piring omelette itu sudah berada di tangan Nasha.


"Omelette cinta.. mahakarya Abang Wiraaa" jawabnya penuh percaya diri.


Sekali lagi Nasha melihat bentuknya. Sedikit gelap, kering namun semu berwarna kuning. Aromanya pun sedikit aneh. "Inii.. kenapa pakai selai strawberry ada bau kacang?" Tanya Nasha.


"Ini inovasi"


Papa Khobar menepuk dahi sedangkan kedua Abangnya berbalik badan.


Nasha pun mencobanya dan.....


"Hhhkkkkk.."


:


"Duuuh Wiirr.. kamu ini mau baikan sama Nasha atau nggak. Papa puyeng mikir ulah aneh Nasha.. puyeng mikir kamu yang bikin salah terus. Sebenarnya apa keahlianmu?? Pikir cara untuk buat Nasha luluh..!!!!"


"Yaaa buat.... Anak Pa"


"Woo.. semprul, bocah gemblung..!!!" Papa Khobar mengangkat kaki, mengambil sandal jepit dan menepak bahu Bang Gesang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2